Lelaki terampil

Dalam rangka “hari ulang tahun” almarhum Bapak, saya jadi terinspirasi nulis tentang ini. Sekalian juga sih, karena saya melihat banyak sosok laki2 seperti Bapak yang lazim ditemui disini. Di Indonesia, jamak terjadi “pembagian tugas” antara laki2 dan perempuan. Laki2 cari uang, istri urus anak dan pekerjaan rumah tangga. Di dalam keluarga saya nggak terjadi demikian.. Kedua orang tua saya bekerja di sebuah institusi yang sama, di bidang pendidikan. Pekerjaan di rumah seperti menyapu, pel, dan (sesekali) memasak dilakukan oleh Pembantu Rumah Tangga (PRT). Lalu tulisan ini akan bergulir ke arah mana? Soal keterampilan lelaki di sektor domestik. Bapak saya –dengan statusnya sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah utama, suka dan mau melakukan “pekerjaan perempuan” seperti mencuci baju, menyetrika, cuci piring, belanja ke supermarket dan.. ini dia: memasak. Masih segar di ingatan saya ketika Bapak memasak di dapur kemudian teriak: “Mbak Dilaaaaaa” kemudian saya dengan langkah berat dan kaki di seret, datang ke dapur. Bapak sudah menyiapkan wadah berisi duo bawang dan mangkok kosong. “Tolong ini dikupasin, nanti di taruh disini“. Adegan selanjutnya adalah anak ABG manyun sambil terisak2 karena pedes mata betaaa!

Pada suatu hari yang lain, saya juga bisa menemukan Bapak menggelar karpet / alas di depan TV. Setelah itu gunungan baju berubah jadi tumpukan baju yang licin dan siap masuk lemari. Hasil setrikaannya like a pro. Bapak juga suka belanja bulanan di Supermarket, belanja sembako sampai cemilan buat anak2. Ada cerita, dulu Ibu saya sempat jadi gunjingan para tetangga. Gara2nya ada Ibu2 tetangga ketemu Bapak di sebuah lorong di supermarket lagi pilih2 teh kemasan. Dengan troli yang penuh dengan berbagai macam belanjaan. Muncullah omongan2 nggak enak di denger macam: “Bu X kebangetan banget, masa Pak X yang belanja“, “Begitu tuh kalo lebih milih karir, kerjaan bagus tapi suaminya kasian, sampe belanja aja harus sendiri“. Saat itu Ibu saya sempat merasa mangkel dan nggak nyaman. Tapi Bapak saya paling bisa ngadem2in. Intinya Bapak saya bilang nggak usah didengerin deh omongan2 kaya gitu.

Pic taken from here

Ketika sudah berumah tangga, saya yang sudah meninggalkan pekerjaan kantoran otomatis full pegang pekerjaan domestik karena suami berangkat ke kantor jam 7 pagi dan baru sampe rumah lagi jam 6 sore. Dibantu sama PRT untuk cuci dan setrika cencunya, bisa sih ngelakuin itu tapi dasarnya emang nggak suka ;)), dan setelah diskusi sama suami emang diputuskan hire orang aja. Jadi saya nyapu ngepel dan masak, plus urus anak. Alhamdulillah semua balance karena saya juga senang ngelakuinnya. Begitu pindah ke Melbourne dimana saya disini kerja di luaran, fisik pula yah jadi waitress dan kitchen hand. Pembagian tugas pun harus berubah. Suami mau nggak mau harus terampil pegang rumah. Vacuum seluruh rumah, cuci piring, bersihin kamar mandi, buang sampah dan pekerjaan rumah lain, kecuali masak karena dia nggak bisa. Begitupun dengan mengurus anak, tapi ini nggak saya bahas karena sejak di Indonesia dia udah bisa juga sih mandiin, ngurusin anak kalo butuh ke kamar mandi/ toilet. Untungnya Ibu mertua saya tipikal yang tidak menjauhkan laki2 dari pekerjaan domestik, jadi nggak terlalu susah untuk saya dan suami tentunya, menjalani perubahan ini. Walaupun jujur porsinya masih banyakan saya yang kerjain juga sih 😂.

Hal ini bikin saya mikir sebagai Ibu dari seorang anak laki2. Pola pendidikan tentang laki2 dan pekerjaan rumah tangga itu harus ditanamkan sejak dini. Supaya dia bisa jadi suami yang baik untuk istrinya kelak. Tentu saja ini pendapat saya ya. Suami yang baik itu salah satunya yang nggak saklek tentang tugas2 yang harus dilakukan suami dan istri. Teman2 bloger saya, Deny di Den Haag, pernah menulis tentang itu di SINI. Begitu juga tulisan lama Santi princess from Cibubur di SINI. Tapi entah ya, Ibu saya ini kan sempat susahhh banget move on nya waktu ditinggal Bapak. Salah satunya karena hal2 yang dilakukan Bapak semasa hidup, nggak pernah menuntut Ibu untuk bisa melakukan hal2 yang dianggap pekerjaan perempuan banget, bahkan ikut berperan di dalamnya. Ibaratnya nih.. kekurangan Bapak itu sebanyak bintang di langit!! Kalo matahari udah muncul, semuanya ngilang. Azeg.. tapi memang harusnya seperti itu nggak sih dalam memandang pasangan kita? Kalo kata Ibu, ketika kamu punya 10 checklist kriteria pasangan hidup.. dan pasanganmu cuma dapet 7. Jangan cari 3 nya di orang lain, tapi buatlah 7 itu jadi maksimal buatmu. Sedap. 

Advertisements