Calon Ibu Suri

Ibu suri disini maksudnya Ibu mertua. Pasti banyak kan yang menyebut Ibu mertua dengan sebutan ini? 😁😁. Ya nggak salah sih, Ibu suri itu kan setau saya maknanya adalah: Ibu dari Raja yang sedang berkuasa. Boss of the boss lah.. tidak bisa dibilang perumpamaan yang tepat juga sebenarnya. Suami kan bukan boss, dulu waktu nikah perjanjiannya bukan atasan dan bawahan tetapi partnership. Sesama partner harus saling menghormati dong ya.. menurut saya sih kayaknya begitu. Setuju gak? 😀

Saya iseng ngetik dua kata: ibu mertua.. tiba-tiba begini nih yang muncul:

image
Nomer 1 - 3 😂

Nomor satu sampe tiga sepertinya yang paling banyak ditanya oleh netizen wanita ke om google nih. Apakah memang banyak Ibu Suri yang terlalu ikut campur dan pilih kasih kah? Hehehe..
Sejujurnya, saya tergerak untuk nulis topik ini karena entahlah.. tiba-tiba terlintas memory tentang hubungan saya yang sempat memburuk dengan Ibu mertua. Hubungan baik dan kompak yang terjalin lima tahun lamanya (saya termasuk geng pacaran lama) tercoreng karena masalah yang timbul setelah kelahiran anak saya. Banyak hal.. tentang suami yang mungkin jadi lebih banyak mencurahkan waktu untuk saya dan keluarga, tentang saya yang resign dari kantor dan memutuskan untuk jadi IRT, padahal menurut beliau saya ini gak mungkin survive kalo gak kerja diluar. Tentang cara pemberian asi jaman si bocil belum bisa nenen langsung ke payudara.. saya kekeuh maunya pake sendok atau cup feeder sedangkan Ibu Suri nyuruh pake dot aja biar cepet dan banyak sekali glek. Saya ngotot nggak mau, takut bocil bingung puting :|, dan masih banyak lagi kisruh yang tercipta karena hilangnya objektivitas diantara kami berdua. Saat itu saya merasa sebal kuadrat tingkat dewa dewi khayangan mandi di kali sama sang Ibu Suri. Antiiiii banget deh rasanya kalo deket-deket, tapi dasar melankolis.. habis sebel pasti dilanjut nangis. Kan gak enak banget kaaaan.. ngabisin energi banget rasanya, belum baby blues pasca delivery yang rasanya gak usai-usai. Belum LDR sama suami karena saya ngelahirin gak di Jakarta. Sebagai wanita bengis dengan casing manis saya merasa gagal.. *inhale exhale*

Hampir satu tahun saya punya perasaan nggak nyaman dan masih memendam kesal sama beliau, dan itu nggak enak banget sumpah. Bisa ngobrol dengan baik dan ketawa-ketiwi, telpon-telponan seminggu sekali tapi deep down inside hati ini masih menyimpan sebal tuh rasanya gimana sih? Kaya lagi makan enak tapi sebenernya di dalam perut ini perih krucuk-krucuk karena diare. Kudu cepet-cepet pup biar lega walaupun abis itu lemes ndedhes. GAK ADA PERUMPAMAAN LAIN APAH. Maaf ya kalo ada yang baca sambil makan 😂.
Sampai akhirnya ada kejadian yang menjadi titik balik dimana semua rasa sebal itu seakan menguap tergantikan dengan rasa sayang yang sempat terkikis. Sebuah salah paham mengantarkan saya untuk telpon ke sang Ibu, saya menangis.. saya semacam katarsis. Saya bilang kalo saya ini sayang sama beliau, saya hormat kepada beliau seperti yang saya lakukan kepada Ibu kandung saya. Saya curahkan apa yang saya rasakan.. tolong percaya saya. Kemudian sang Ibu juga menyatakan hal yang sama dan minta maaf kepada saya, tulus.. :'(, tentunya dengan gaya penyampaian beliau ya. Legaaa banget rasanya, dan bener lho satu tahun ketidaknyamanan dan rasa sebel itu bener-bener hilang. Alhamdulillah.

Sekarang, seiring anak laki-laki saya bertambah umur.. entah kenapa terbayang akan posisi Ibu Suri saat dulu merawat suami. Lelaki kecil yang kemana-mana ngintil karena nggak ada asisten di kanan kiri. Lelaki kecil yang kepadanya selalu muncul doa dan ucapan baik yang mengiringi hidupnya dimanapun dia berada. Lelaki kecil pertama dalam hidupnya yang kemudian bertambah besar, dewasa dan punya wanita lain, yang akan dicintai, disayangi dan dilindungi seumur hidupnya. Saya.

Bagaimana perasaan Ibu Suri?
Jealous? Pasti.

Kemudian saya coba berkaca ke diri ini.. kebetulan apa yang Ibu Suri alami sama persis dengan yang saya jalani sekarang. Ibu dengan anak tanpa asisten. Apapun yang saya lakukan jam 7 pagi sampai 6 sore dia ada disamping saya, lima hari seminggu. Poros kehidupan saya berpusat padanya. Kalau bocil sudah besar nanti dan punya wanita pilihan hatinya.. kalau dia memilih untuk mendahulukan kepentingan dia dibanding saya, Ibunya? Apakah saya yakin untuk tidak melakukan seperti yang Ibu suri sekarang lakukan? Belum tentu. Apakah saya yang galak jutek bin rese kalo lagi laper apalagi bokek bisa tahan untuk tidak melakukan hal-hal yang mungkin akan membuat menantu masa depan saya tidak nyaman dan benci sama saya? Belum tentu juga. Bahwasanya perempuan itu memang tidak ditakdirkan untuk berjalan beriringan tanpa ada rintangan. Wanita itu sosok yang kompleks.. main perasaan. Hampir tidak ada menantu perempuan yang nggak pernah berkonflik dengan Ibu mertuanya. Paling tidak keadaan ini berlaku di Indonesia ya.. hehehe. Cmiiw.

Alhamdulillah.. sekarang saya bersyukur sekali dengan keadaan yang sudah stabil dan kembali seperti sediakala. Kembali bisa memiliki hubungan yang baik dengan Ibu Suri seperti awal menjalin hubungan dengan Raja kesayangan-nya dulu.. yang jelas, saya tambah sayang sama beliau. Apalagi mengingat laki-laki pilihan saya juga dibesarkan dengan tangannya. Dilahirkan dan disusui sampai dua tahun lamanya, di didik dan diajarkan agama olehnya.. seburuk-buruk orang yang kita pilih, pasti lebih banyak kelebihannya bukan? Karena naluri pasti mengarahkan untuk memilih yang terbaik bagi diri kita.. saya rasa nggak ada orang yang dengan sengaja mencari kriteria buruk dalam diri seseorang untuk dijadikan partner hidup (insyaAllah) untuk selamanya.

Kedepannya, saya ini insyaAllah adalah Calon Ibu Suri. Diluar sana, entah di bagian dunia mana, ada perempuan calon menantu yang akan manggil saya Mama. Masih panjaaaaaang sekali waktu sampai ke titik itu. Tapi paling nggak, sembari membesarkan Raja kesayangan saya sendiri, saya bisa jauh lebih menghargai setiap tindakan Ibu Suri yang mungkin bisa jadi melukai perasaan saya. Mencoba memahami apa artinya.. apakah benar melukai atau hanya ego saya yang ingin jadi wanita nomor satu sang Raja. Belajar memposisikan diri saya yang akan menjadi Ibu Suri untuk wanita pilihan anak laki-laki saya nanti. Duh, lebay yeeee.. anak aja masih makan disuapin 😂😂😂. Tapi terkadang waktu berjalan begitu cepat tanpa memberi kesempatan untuk sejenak berpikir apa yang akan dan harus dilakukan, at least berlaku untuk saya. So, semoga catatan kecil ini bisa menjadi pengingat di masa depan nanti.
For the life lesson, Thank you.. Mama ♥

Ibu galau yang lagi mikir ngawang-awang. Tapi postingan ini ditulis dalam keadaan sadar 😂

Advertisements