So (long) goodbye, Coffee..

Halo! Memberi statement dari awal bahwa tulisan ini bukanlah postingan caper atau minta dikasihani, melainkan sebagai pengingat untuk saya sendiri.. Dan biar tetep aktif sebagai blogger karena ada bahan buat nulis. EAAA! Bukan cerita menyenangkan kali ini, tapi akan dibuka dengan sesuatu yang menggembirakan. Tadaaa… Minggu lalu kotak surat yang biasanya berisi tagihan listrik/air, paket jajan olshop dan junk mail.. Kali itu ada isi yang berbeda di dalamnya dong, kartu pos! 😉

Haiii Deny di Den Haag, terima kasih yaa! Jauh2 kartu ini melintasi benua, dari Eropa ke down under. Senang sekali lho, selembar kertas pembawa kegembiraannya juga langsung dikewer bocil kemana2 sampe akhirnya dibilangin: “sinih di poto duluuuu biar mama bisa pamer” *cekrek* ❤️. Aamiin, semoga beneran ya someday bisa mengunjungimu dan Ewald disana :).

Kurang dari 24 jam setelah saya terima kartu pos dari Deny, saya mengalami kejadian yang tidak bisa dibilang menyenangkan. I’m hospitalized. Sebagai pengantar mungkin saya akan cerita dulu bahwa saya ini bisa dikatakan religiously coffee drinker, terlebih setelah tinggal di melbourne yang dikenal sebagai the capital of coffee. Ngopi udah jadi budaya, satu cangkir sehari cukup lah untuk saya, latte atau flat white. Secangkir kopi disini harganya berkisar antara $3.80 – $4.50. Sampai saya kenal kopi yang di jual di 711 (seven eleven – sevel,  yang self service dan harga per cup nya hanya $1. Saya kerap beli sebelum kerja karena letaknya berseberangan dengan resto. Namun karena dada saya beberapa kali deg2an tidak lama setelah minum kopi sevel, saya stop konsumsi. Di dukung ada bule customer resto yang udah kenal pernah bilang “Dila, aku suka liat kamu suka minum kopi sevel tiap mau kerja. Lebih baik kamu beli dari coffee shop aja deh, soalnya kopi sevel itu keras“. Setelah itu memang saya udah hampir gak pernah beli kopi dari sevel lagi sih karena nggak tahan dengan deg2annya. Sampai..

Hari jum’at minggu lalu saya jalan2 mengunjungi winter night market di Vicmart sama suami dan bocil, habis itu kami bertiga lanjut jalan2 di city sampai malam. Suami saya kepengen ngopi, mampirlah beli di sevel yang masih buka buat beli latte. Sepanjang jalan, saya dua kali ikutan minum kopi suami. Nggak lama kemudian kami pun pulang, sampai di rumah tiba2 dada saya berdegup kencang. Lebih kencang dari biasanya.. saya bawa tidur berharap esok harinya udah baikan. Bangun tidur ternyata saya masih merasa deg2an kencang karena semalem mimpiin mas Ryan Gosling *di granat suami*. Hari sabtu, seharian saya coba bawa aktivitas aja deh seperti biasa. Saya nggak merasa sakit di dada, pusing, mual, atau gejala2 meriang lain. Hanya saja membawa dada yang berdegup sangat kencang kan rasanya nggak enak yah. Akhirnya abis maghrib saya ke dokter langganan untuk periksa. Setelah menunggu dua jam lamanya, akhirnya saya masuk ke ruangan bu dokter. Saya cerita yang saya alami, kemudian dokter tanya2 juga apa yang saya rasakan. Beliau juga coba cek detak jantung saya dengan mesin yang hasilnya.. nggak bisa dibaca. Duh biyung gimana nih ;'(. Malam itu dokter membuat pengantar untuk ke lab esok paginya untuk dilakukan: ECG (Electrocardiogram), blood test dan holter monitor. Malam itu lagi2 saya bisa tertidur dengan pulas, walaupun agak2 geblak sana sini sih tidurnya karena sedikit nervous. Minggu pagi, saya datang ke lab pathology yang satu lokasi dengan klinik praktek dokter saya. Ngantri 15 menit saja, habis itu saya masuk dan langsung dienjus lengan kanan untuk diambil darahnya. Banyak banget men, ampe dua tabung silinder, lemes liat darah sendiri. Habis itu saya diminta untuk menanggalkan semua pakaian tubuh atas dan berbaring di kasur. Badan ditempelin kabel2 sebagai bagian dari proses ECG. Setelah di dapat hasilnya, petugas lab yang semi histeris  gitu. “kamu yakin kamu gpp? kamu stress apa gimana? ngerasain sakit di dada kamu nggak?!” seriusan.. saya jadi yang agak panik sih jujur aja. Yaudah dia bilang kalo dia bener2 nggak happy sama hasil ECG saya, terus dia segera telpon dokter yang ada saat itu karena dokter saya prakteknya malam. Dua petugas lab sama2 heboh dan nenangin saya, yang mana saya sebenernya saat itu lumayan cool aja sih. Dokter lain datang, dia tanya2 kondisi saya dan cek hasil ECG. Kemudian dia bilang: “you don’t need to worry because this is not heart attack, but you have to go to the hospital today. I will refer you to Emergency Department“. Setelah dapat surat pengantar, saya diantar suami dan bocil segera ke Royal Melbourne Hospital (RMH) dan menuju ke Emergency Department (ED). Sampai sana, saya ke nurse dulu untuk cek detak jantung. Namun lagi2 nggak bisa terdeteksi oleh mesin. Saya diminta untuk masuk emergency dan ditangani dokter, sebelumnya saya digiring ke clerks / administrasi. Saat itulah hal yang agak kurang sreg timbul, petugas kasir minta medicare card (BPJS nya Oz) sama saya, yang saya jawab bahwa saya ini non citizen or PR so saya pegang asuransi lain (Allianz). Status saya disini adalah overseas dependent student. Kasir langsung kasih brosur ineligible medicare card yang mana disitu tertera biaya2 yang harus dikeluarkan , dan jumlahnya sangat2 nggak sedikit. Saya dan suami tanya, apakah bisa make sure dulu ke Allianz tentang return/cover biaya nantinya. Namun entahlah, karena hari minggu dan rumah sakit penuh sesak. Juga memang kasirnya nggak ramah atau udah capek ngeladenin banyak orang meriang dengan berbagai macam sebab, jadi dia nggak melayani pertanyaan dengan cara baik. Akhirnya saya dan suami putuskan untuk menunda masuk emergency dan akan ke health service di kampus esok harinya, sekalian ke perwakilan Allianz disana. Sempat kasirnya bilang sama suami, “tapi aku nggak tau lho ya kalo istrimu nggak kenapa2 sampe senen“, jiper nggak sih :'(.

Senin pagi saya telpon health service uni dan bikin appointment sama dokter, dapet jam 10 pagi itu juga. Setelah drop bocil di sekolah, saya dan suami langsung kesana dan diminta menunggu di depan ruangan praktek. Dokternya cowok, langsung ngenalin diri, namanya dr. Dean. Yaudah saya cerita semua yang udah saya tulis di atas. Sampe suami bilang tentang ketidak sreg an waktu di rumah sakit sama orang administrasi, yang udah mau saya tendang kakinya karena ngapain sih cerita2 ntar dikira ngejelek2in orang sini. Eh, gak disangka tanggapan si dokter: “not surprise“, sambil mengiyakan tentang pelayanan public saat peak hour/ time bisa nyebelin banget emang. Lah sami mawon ya ternyata dimana2 :)). Yasudah, dokter Dean periksa saya juga ini itu, detail banget orangnya semua ditulis dengan runut. Mesin dia akhirnya bisa mendeteksi detak jantung saya yang tertera 110. Setelah itu dia bilang mau make sure lagi dan ukur pake stetoskop. Pas mau masukin stetoskop ke dada, dia ampe heran sama baju saya “how many layers do u wear???”thousands!“, jawab saya, dingin beroooh.. abis itu ngikik2. Tapi nggak lama2 haha hihi nya, setelah stetoskop ditempel di dada, dokter juga bereaksi kaget dan bilang bahwa mesin sudah pasti salah, karena detak jantung saya paling tidak diatas 150. “I don’t like it, but u should really go to the hospital. This is something that GP can’t afford to do it“. Dokter Dean bilang hal yang sama dengan dokter sebelumnya, bahwa ini bukan heart attack, tetapi manusia normal nggak bisa kalau hidup dengan membawa jantung yang berdetak secepat itu. Bahasa medisnya, saya mengalami Palpitation : irregular heartbeat. Maka harus diturunkan dan harus di bawa ke rumah sakit. Sebagian orang memang bisa jadi sangat sensitif terhadap trigger, apalagi jika kondisi badan sedang tidak fit. Pengantar baru segera dibuat, ditambah keterangan pula kenapa kemarin minggu saya nggak stay padahal udah dapet pengantar dari dokter pertama. Pokoknya joss lah dokter Dean ini. Ngempos.. panjang juga ya ceritanya, baru juga setengah.. *preketekin jari*.

Senin siang, saya dan suami meluncur ke Royal Melbourne Hospital lagi. Karena pengantar dari dokter Dean sudah lengkap, saya nggak di cek2 detak jantung lagi melainkan disuruh menunggu sebentar tentunya setelah menyelesaikan administrasi ya. Rumah sakit lengang, pegawai2 nya juga tenang dan gak kemrungsung seperti hari sebelumnya. Setelah itu saya dipanggil oleh dokter yang akan menangani saya, cowok, udah senior. Sambil jalan menuju ruangan ditanya, “where are u from?” “Indonesia” jawab saya. “Ahaaa, i can see from your name *tring*”. Busetttt, padahal nama saya kan bukan Dewi, Sri, atau siapaaa gitu yang lebih mengindonesia, tapi yastrallaaahh. Saya masuk ruangan, setelah dokter baca history saya dan hasil print ECG. Saya diminta berbaring, dokter akan melakukan prosedur manual menurunkan detak jantung. Dada saya ditempeli alat, tangan kiri saya memegang pipet dan saya diminta menghirup napas dalam2 kemudian dalam hitungan ketiga harus tiup pipet sekeras mungkin. Dokter menekan perut saya sambil menghitung satu sampai sepuluh, kemudian di hitungan terakhir kaki saya diangkat tinggi sambil melepaskan napas. Saya melakukan proses itu dan hasilnya: gagal. Detak jantung saya masih sama cepatnya dengan sebelumnya. Akhirnya dengan menghela nafas, dokter bilang satu2nya cara adalah dengan drugs. Dubstep.. dubstep.. dubstep..

Setelah itu saya diajak dokter untuk keluar menuju ruangan tindakan. Sambil jalan dia bilang, “one thing you should know, this is not heart attack and it is commonly happened to young people like u, so u don’t have to worry“. Lagi2 lega sih denger dokter bilang begitu, walau dada ini masih sesek rasanya. Saya masuk ke sebuah ruangan besar berisi kasur, monitor dan banyak peralatan medis lainnya. Dokter dibantu dua nurse, laki2 dan perempuan, semuanya ramah dan baik. Saya menjalani ECG lagi dan terlihat angka yang bombastis, 190! Itu detak jantung saya, gimana gak berasa abis lari ngiterin GBK selama 3 hari cobaaaa. Kemudian nurse laki2 siapin lengan kanan saya untuk ditusuk jarum dan dipasang infus untuk masukin drugs nya. Jleb, saya melengos! Lagi2 ketemu jarum menembus kulit.. Setelah itu detak jantung hanya turun sedikit, kemudian dokter bilang akan melakukan tambahan drugs lagi sebanyak 5ml. Sambil mempersiapkan ini itu dia tanya apakah saya lagi hamil atau nggak yang langsung saya jawab: nggak. “Why are u so sure?”, tanya dokter. “I’m on IUD, Doc” saut saya. “Ah, don’t u think ur too young to have an IUD??”, kejar nya. “Hmm, i think not that young” *mesam mesem*. “Whoa, how old are u“. Saya jawab deh kalo saya 31. Si dokter gilang “Geez, i thought u’re twenty!!”. Lebay sih kalo 20 yak, pasti saya masih langsing kalo umur segitu.. Saya sautin aja “I take it as a compliment yeah“, abis itu pada ngakak seruangan.. Hayoloo ngakuuu seneng kan dibilang mudaan huahahhaa. Dan habis itu juga angka di layar monitor pelan2 melorot dari 190 menjadi 93 – 100. Alhamdulillah, selesai sudah proses penurunan detak jantung saya menjadi normal. Dokter bilang ini adalah kegiatan paling menarik yang dia lakukan sejak pagi jaga di emergency. Hoasem 😂😅. 

Habis itu ternyata saya belom boleh pulang. Ada staff administrasi, namanya Dominique.. Dia kroscek data2 saya dan minta data kartu kredit suami. Lemes, kirain udah kagak perlu bayar2 lagi. Setelah itu saya dipindah ke kamar untuk istirahat dulu, untuk nanti akan di observasi lagi. Sambil nungguin saya foto2 yang hasilnya saya pajang di atas. Suami beliin makan nasi lauk kari di kafetaria, saya makan sambil nonton TV yang isinya dokumenter serangga *random*. Habis makan perut langsung enek karena mikirin biaya RS. Abis itu saya manggil Jane, senior nurse yang menangani saya. Kapan sih saya bisa pulang? Saya parno ngeliat biaya RS buat ineligible medicare kaya saya. Saya juga nggak tau Allianz bakal mengcover berapa persen dari total biaya yang harus dikeluarkan. Terus Jane bilang kalo saya nggak perlu khawatir, nggak ada alasan pihak asuransi nggak mengcover full atau minimal 80-90% karena saya masuk Emergency Department, dan yang dialami juga palpitation dimana itu bukan masalah kesehatan yang bisa diabaikan. Terus Jane pelukin saya, kan jadi meweeeek.. :(((. Setelah itu, Dominique datang lagi dan meminta soft copy paspor saya. Dia ngurusin sama pihak Allianz supaya saya nggak perlu keluar uang dan bill langsung ditagihkan ke mereka. Alhamdulillah, berita baik karena kerja Dominique yang cepat, Allianz respon dan seluruh biaya hari itu yang jumlahnya ribuan dollar bisa ditanggung oleh asuransi. Saya pun sudah bisa pulang hari itu dengan dada yang lapang.

Keesokan harinya saya datang ke lab pathology untuk tetap melakukan pemasangan holter alias heart monitor.

Mirip seperti ECG yang menempelkan alat2 di dada, tapi kali ini ada semacam monitor yang dikalungkan di leher. Nggak boleh mandi selama 24 jam, untungnya udah biasa. Keesokan harinya dateng ke lab lagi deh buat copot holter. Terus tiga hari kemudian kudu ketemu lagi sama dokter saya, yang mana baru mau saya lakukan besok 😂. Doakan ya teman2, semoga hasil lab saya bagus. Terus hikmah yang saya ambil lagi dan lagi dan tak bosan2nya adalah agar memperbaiki kualitas hidup supaya lebih baik lagi. Misalnya, yang simple aja deh.. Minum air putih yang banyak dan jangan suka lupa/nunda2. Sama mengakrabi sayur2an lagi yang agak2 kendor belakangan ini. Yang paling penting lagi juga kudu aware sama kondisi badan sendiri. Dalam hal ini, saya udah tau pernah deg2an karena minum kopi sevel dan udah berhenti konsumsi. Tapi masih saya lakuin lagi walaupun cuma minta / minum dikit. Sudah sih itu cerita saya yang rada2 horror minggu lalu, semoga bener2 jadi pelajaran pengingat buat saya bahwa kesehatan itu mahal harganya. Salam sehat!

Starbucks and my life

Selamat tahun baru 2015, netizens!
Perayaan tahun ini nggak seramai tahun lalu.. bagus lah, kan moment pergantian tahun baru gak harus diwarnai pake suara jedar jeder kembang api dan warna warni di langit malam. Terlebih baru saja ada musibah hilangnya pesawat Air Asia di pangkalan bun :(.

image

Semoga proses evakuasi cepat selesai, semua korban ditemukan, dan keluarga yang ditinggalkan dapat berbesar hati serta lapang dada menerima cobaan ini. Amin.
Tahun lalu alias Desember 2014 (sumpah jayus men, bah), saya menemukan artikel menggelitik, yang beneran bikin saya senyum-senyum sendiri bacanya. Isinya tentang pengalaman kerja saya dulu waktu masih gadis. Yup, saya ini mantan mbak-mbak keren ber apron hijau di gerai kopi internesyenel itu loh, hahahhaa! Gimana gak keren? Bisa bikin minuman kopi dari yang basic sampe beraneka ragam rasa sambil megang cashier plus ngider-ngider ngecek ruangan ada yang kotor gak. Terus? Ya dibersihin laaahhh… hahahhahaa.

Keterlibatan saya dengan gerai kopi ini adalah menjelang kelulusan S1 tahun 2007 *tuwir*. Starbucks sebagai gerai kopi internasional, dibawah PT. Mitra Adi Perkasa, holding company-nya di Indonesia, akan membuka gerai nya di Jogjakarta. Very first store, yang mana untuk membuka gerai disana juga butuh waktu 2 tahun untuk riset marketing. Karena Starbucks itu kan self services oriented, bisa nggak sih warga Jogja menganggap itu sebagai hal yang dapat diterima? Kemudian 40 ribu untuk secangkir kopi, yang mana disana 15 ribu aja udah bisa makan super lengkap dan kenyang. Itu beberapa point pertimbangannya dulu. Tentu saja ada point-point lain yang akhirnya lolos dan voila.. Starbucks open recruitment untuk opening team Jogja. Sejujurnya, saya nggak tau sama sekali tentang lowongan ini. Sahabat saya yang kasih tau, dan kami berdua ikutan dan lolos dua-duanya deh ;). Akhirnya, resmilah saya jadi BARISTA. Yeayyyyy.. sambil menunggu wisuda saya training ke Jakarta untuk Coffee knowledge dan in store training. It was fun! 😉

image
Tall latte ngedate ama si bocil

Itulah sedikit cerita keterlibatan awal kenapa saya tiba-tiba jadi barista. The biggest story adalah dua tahun yang saya lewati disana. Sesungguhnya sesuatu yang sangat berharga menurut saya adalah pengalaman untuk berjumpa dengan banyak orang dengan berbagai karakter. Semacam laboratorium nyata akan studi yang saya ambil waktu kuliah dulu: Psikologi. Baru menyadari bahwa, ketika kita jadi konsumen.. kotak kaca aquarium besar berisi orang-orang yang antri beli kopi itu mungkin terlihat biasa saja. Tapi buat saya yang ada di dalamnya, delapan jam sehari. Sungguh memberi pengalaman dan cerita yang bisa bikin saya ketawa sampai nangis. Konsep Starbucks adalah menjadikannya sebagai “the third place” bagi para pelanggannya. In general, first place bagi setiap orang adalah “home”.. keluarga selalu menjadi yang utama. Second place biasanya diisi oleh peer group, bisa teman atau yang lain. Disinilah Starbucks masuk dan menawarkan diri sebagai the third place untuk orang-orang. Kita bisa ngopi bareng keluarga, teman, kolega.. duduk-duduk di sofa sembari bersantai atau membicarakan hal penting tanpa merasa tidak nyaman dan takut diusir. Kalo kopinya udah abis dan masih betah? Ya pesen lagiiiiii keleuuuusssss, menurut nganaa? Just kidding, lol.

Starbucks juga punya beberapa filosofi yang diterapkan kepada para Barista nya. Dari internal sesama partners (di Starbucks, sesama Barista dipanggil dengan partner.. meskipun jenjang karirnya berbeda misal supervisor dan manager pun panggilannya sama) sampai bagaimana melayani customers. Sekarang, ini subjektif pandangan saya, gerai saya di Jogjakarta ini terkenal sebagai gerai yang “Starbucks banget ala Howard Schultz” oleh para customers, terutama WNA. Di Starbucks kami diajarkan bahwa customers itu adalah teman. Keramahan Starbucks Jogja itu sampai diacungi jempolllll oleh para customers lokal maupun interlokal (?). Sayangnya di Jakarta ini sepertinya filosofi itu nggak diterapkan dengan hati oleh beberapa baristanya seperti yang saya pernah ceritakan di sini.

image
Sedikiiit memorable exp di Starbucks

Lucunya, kerja di Starbucks benar-benar membawa perubahan dalam hidup saya loh! Kira-kira sebulan lalu teman saya Dewichan main ke rumah. Dia komentar, weeh neng mumun.. kamu kok ngapa-ngapain serba cepet! Kayaknya kerja di Starbucks kasih kamu pengaruh ya? Kira-kira begitu sih, maap kalo kalimatnya nggak pas hahaha. Setelah dipikir-pikir memang iya sih, berasa lagi melakukan three minutes services kali yak. Dimulai dari customer order sampe dapet minum itu kudu selesai dalam waktu tiga menit lebih-lebih sikit lah. Terus berasa maunya nggosokin segala hal. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya baru pernah scrubbing lantai itu ya di Starbucks. Nyuci piring gelas segunung juga di Starbucks (iya sih pake dishwasher enak tinggal pencet2 doang lol), ngepel lantai dalam skala besar ya di Starbucks, beberes pajangan gelas dll ya di Starbucks, sampaaaaaii… bersihin grease strap juga baru nyobain di Starbucks. Eh koreksi, baru tau juga di dunia ini ada yang namanya grease strap Lol. Iya, memang saya terlahir dengan selalu ada mbak squad di keluarga. Positifnya, semua kerjaan rumah beres tanpa perlu capek. Tapiiii saya jadi nggak ada clue kerjaan “belakang” gimana ngegarapnya? Gak usah kerjaan belakang or ngurusin dapur. Sampai kelas 3 SMA aja baju seragam sampai underwear yang mau dipakai ke sekolah si mbak yang siapin :’). Sombong? Cieeeee baru segini aja dibilang sombong.. situ aja yang hatinya kudu dimasukin dishwaser bhahahahaha.

Setelah berumah tangga, baru terasa manfaat kerja di Starbucks. Udah nggak geli lagi bersihin ini itu dan ngerjain domestic task dengan cepet. Tapi kalo sifat pelupa sih nggak ilang-ilang, lol. Satu lagi hal yang saya dapat di Starbucks adalah: menghargai pelayan/server/waiter/s. Ketika saya jadi Barista, salah satu core task nya kan melayani yah…. namapun kerja di hospitality industry. Dari situ terlihat benar manner seseorang dalam bertransaksi. Ada yang dateng-dateng udah sengak, tapi pas mesen minuman keliatan banget Starbucks experience-nya zonk… ada yang keliatan biasa-biasa aja secara penampilan tetapi total buying spend-nya spektakular. So, don’t judge the book by its cover. But the price. Errr kidding *peace* :))

Hal lain yang berubah dari saya adalah: habis makan di resto selalu membereskan meja, maksudnya piring di tumpuk dan gelas dikumpulin jadi satu. Sebenarnya semenjak pacaran sama laki-laki yang sekarang jadi sumamik sih. Dia yang kasih tau kalo abis makan walau di resto piring sama gelasnya diberesin, yang tercecer di meja dibersihin. Terus kalo makan fastfood, segala kertas pembungkus nasi, burger or kentang dilipat rapi. Taruh semua di atas tray, terus buang ke tempat sampah :)). Pindah ke Jakarta saya mulai lupa lagi tuh ajaran si mantan patjar tertjinta.. yang ada habis hahahihi cantik sama office gank, berantakan ya biarin aja. Sekarang begitu udah nikah sih kembali lagi ke habit awal. Beberes meja kalo selesai makan di resto pas lagi bareng sumamik ato bedua doang sama bocil. Nggak usah sampe yang beres-beres amat atau selicin mungkin, paling gak waiter jadi mudah clear table nya. Nggak ada salahnya juga dilakukan kan? Nggak bikin jerawatan juga :p. Oh iya, dan satu lagi.. namanya punya anak kecil kadang dia suka lempar atau lepeh makanan ke lantai. Itupun juga kudu diambil sendiri kalo memungkinkan. Suka banget liat perangai customer-customer WNA yang justru nggak segan-segan untuk membersihkan sendiri kotoran yang ada di meja atau sekitarnya. Sungguh, memang justru negara berkembang macam Indonesia ini yang malah perilaku konsumen-nya sangat-sangat arogan dalam menuntut pelayanan tapi pelit kasih tips. Nggak heran bangsa ini nggak maju-maju *peace* :). Satu lagi yang perlu dicatat, kita bisa menilai orang dari caranya memperlakukan pelayan. Seorang teman yang baik padamu, tapi bersikap sangat buruk ke pelayan = bukan orang baik. Oh well, judging? Tunggu sampai liat sendiri kenyataannya di kemudian hari. Testimoni dari seorang pengamat manusia yang expert mengamati customonster *ngikik*.

image
Eehh dan saya nemu fotonya hahahahaa

Source from here

Terlepas dari capek luar biasa bekerja di kedai kopi dengan sistem shifting ini, saya sangat bersyukur pernah jadi bagian dari keluarga besar Starbucks. Terkadang kangen juga ngeracik kopi sendiri, buka rolling door di pagi hari cium bau semerbak kopi.. kemudian cek-cek report semalem di depan kompi sambil minum latte bikinan sendiri, nyusun dan manasin pastry, garap report berbusa-busa plus itung-itung buat diimel ke BOD and team malem-malem pas closingan, ngitung duit omzet berjuta-juta masukin brankas, yang gak kangen scrubbing lantainya doang lol. Disana saya juga bertemu teman-teman yang sangat amazing baik dari dalam maupun luar negeri, yang masih keep in touch juga sampai sekarang, thank God. Dapat tiket cantik buat apply kerjaan karena nama besar MAP, udah gak usah pusing ngejelasin karena interviewer-nya udah tau perusahaan apa itu sehingga memudahkan proses interview. Makin lancar kemampuan berbahasa asing baik lisan maupun tulisan (yang sekarang udah kendooor banget hiks). Kalau dikasih kesempatan, someday pengen bikin kedai kopi sendiri.. kecil-kecilan aja. Sebelahnya salon, sebelahnya playground, sebelahnya lagi bengkel, jadi one stop shopping gitu. Suami ngebengkel, istri nyalon, anak ke playground, habis itu ngopi-ngopi cantik dan ganteng hahahhaa.

If you can dream it, u can do it!

Aamin :).

VIETNAMESE COFFEE

Pada suatu hari yang panas gue makan di resto Pho 2000. Disana gue pesen vietnamese beef noodle. Setelah makan, temen gue ngusulin untuk ngopi2 dulu. Jadilah gue pesen menu dessert andalan disana yang bernama : Vietnamese Coffee…

Pho 2000

Vietnamese Coffee / Kopi Vietnam adalah minuman kopi yang berasal dari Vietnam dan dibuat dengan cara menyeduh kopi lalu dicampurkan susu kental manis.Proses tersebut menggunakan lebih banyak biji kopi yang telah digiling dan karenanya membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan sebagian besar proses penyeduhan kopi. Untuk membuat kopi Vietnam dibutuhkan sebuah alat penyeduh kopi yang terbuat dari baja tahan karat dan berbentuk seperti topi.Pada alat tersebut terdapat bagian pinggir yang dapat ditumpu oleh cangkir kopi.Bagian tengahnya berbentuk silinder dan memiliki lubang-lubang kecil. (wikipedia)

Setelah nyicip sekali itu kopi ala vietnam, ternyata gue ketagihan man! Akhirnya gue cobain lagi ngopi di KOPITIAM oey. Kopitiam sendiri artinya “warung kopi” yah. Jadi gue suka ngelurusin kalo ada yang menyangka bahwa kopitiam = kopi vietnam. Atau bahkan kopitiam = rumah makan Pak Bondan Winarno. Yang betul, pak Bondan adalah owner dari warung kopi dengan merk dagang OEY. Begitu kira2 sedikit penjelasannya sodara2. 😀

Back to cerita neng mumun. Jadi, saking ngidamnya sama Vietnamese coffee, akhirnya gue beli alatnya (coffee drip) dan semalem gue coba bikin sendiri di kost. Susu kental manisnya pake merk Frisianflag. Terus untuk kopi gue pake Espresso nya Setarbak. This is it :

lagi proses dripping

Proses pembuatan :

Susu dituang didasar cangkir, terus taruh coffee drip diatas cangkir. Masukin 2-3 teaspoon espresso..ditutup pake pressing coffee drip, then tuangin air mendidih dan ditutup deh. Tunggu kira2 lima menit.

Hasilnyaaa :

***VIETNAMESE COFFEE ala NENG MUMUN***

siap di-GLEK

Rasanya ENAK, kopinya bener2 terasa karena droppingnya bener2 lama (kurleb 5 menit). Itu membuat sari kopinya keluar semua. Satu yang kurang adalah tekstur susunya. Kayaknya gue salah pake merk Frisianflag. Jadi, next gue akan beli merk lain. Overall, gue puas deh sama hasil “my own Vietnamese Coffee”. Great Coffee, Great Life.