Tentang hak anak di media sosial

Hancur hati ini membaca berita kemarin tentang terungkapnya group facebook berisi gerombolan pedofil yang meng upload foto2 anak berikut berbagi saran dan berbalas komentar tentang cara2 merayu anak sampai bisa berbuat asusila sama mereka. Untuk nulis ini aja rasanya jari saya gemeter lho. Merasa sedih dan ingin mengutuk, yang berlanjut dengan pertanyaan sama diri sendiri: apakah kamu udah bener2 ngasih hak si Bocil di media sosial?

Akhir tahun lalu saya punya tulisan tentang memajang anak di sosmed, yang saya proteksi dengan password karena merasa tulisan itu nggak perlu dibaca orang lain. Berhenti di saya aja, kenapa? Jaman sekarang sangat mudah untuk suka atau benci sama seseorang berdasarkan tulisannya, atau apa yang dia tampilkan di dunia maya. Saya mencegah itu terjadi ke diri sendiri. Ehem.. lagi hidup di perantauan, kalo udah jadi minoritas terus masih di benci orang2 (Indonesia) disini yang kebetulan baca tulisan saya kan nggak enak juga.. 

Dari sisi pengguna sosial media yang lumayan aktif, dan sebagai orang tua (Ibu). Saya bisa bilang: Ya, memang susah untuk tidak pamer kecakapan anak. Kecakapan itu bisa diartikan dari fisik, kepandaian, misal: udah bisa merangkak, ngomong, ngitung, nggambar, koprol, salto you name it. Belum prestasi2 lain yang di dapat dari lingkungan anak (sekolah, tempat les dll). Terkait sama topik bahasan saya, kemarin saya lihat di timeline twitter tentang mengupload foto/video anak dan korelasinya dengan resiko menjadi korban pedofil. “Menjadi korban” bisa di artikan juga dengan “tersebarnya” foto2 anak kepada penikmat yang tidak tepat sasaran alias para pedofil itu. Seru sih, ada pro dan kontra. Apakah iya, mengunggah foto2 dan video anak di media sosial berpotensi untuk mengundang pedofil? Sedangkan praktek kejahatan pedofilia sendiri kan sudah jauuuuh ada sebelum adanya media sosial. 

Ini saya ya: media sosial yang masih saya pakai adalah Instagram dan Twitter, gimana dengan Facebook? Udah nggak make, tapi masih ter install di HP. Apakah saya upload foto anak di medsos? Yes, Instagram.. sekarang sih sesekali banget dengan posisi muka (di usahakan) tidak terekspos. Let me tell you a story.. Akhir tahun lalu saya sempat men-deactivate IG saya selama satu bulan lebih, kenapa? Selain alasan utamanya supaya tidak terdistraksi dengan gadget dan mengganggu real life. Beberapa kali saya dapatkan ada user/ follower heboh stalking foto Si Bocil, bahkan sampai postingan tahun 2013. Account2 ini nge likes bahkan ada yang komen minta upload foto atau video2 lagi. Hanya di foto anak saja, bukan foto2 masakan apalagi saya. DEG! Nggak lebay ya, rasanya saya lemes.. Sebagai orang tua Bocil saya sih RISIH banget ada followers yang kaya gitu (dan nggak cuma sekali), kita nggak tau juga kan identitas dia yang sesungguhnya.. creepy! Kemudian kejadian lagi di FB, ada account yang ambil foto2 saya dan Bocil kemudian di pajang di Facebooknya. Padahal account saya itu terproteksi sedemikian rupa. Itu juga bikin saya deactivate account, walaupun setelah summer holiday di buka lagi sih.. karena ada parents closed group sekolah anak saya disana, dan saya masih butuh info2nya. 

Contoh Ibu2 ngeksis anaknya enggak.

Tahun 2014, saya nggak sengaja nemu tulisan mbak Yoyen tentang Sharent. Di tahun itu pulalah saya nulis tentang media penyimpanan rekam jejak anak saya, yaitu di e-mail. Alih2 menggunakan medsos (yang di fungsikan sebagai “external hard disk”), saya buat e-mail dengan nama anak saya untuk saya kirimi foto2 dia dan biarkan tersimpan disana. Supaya nggak membanjiri feeds Instagram dan sepertinya kans gmail untuk masih eksis keberadaannya saat anak saya remaja itu lebih besar daripada medsos. Masih inget kan sama nasib Friendster? Cerita selengkapnya ada di SINI

Beberapa komen pernah saya dapatkan tentang keberadaan si Bocil di medsos yang mulai jarang terlihat. Komen2 seperti: “Mamanya mulu nih yang nampang, anaknya dooong“, atau “kaya anak artis aja ih mukanya diumpetin“. Kalo saya yang di komen begitu sih nggak masalah, lawong medsos medsos saya.. masa yang ngeksis Rafi sama Nagita? 🙄. Ya saya sendiri dong aaah. Pernah di tahun 2013, waktu saya masih lumayan aktif memajang anak saya di Instagram (padahal kadarnya masih bisa di toleransi lho). Ada account yang komen di foto Bocil yang posenya kala itu abis minum smoothies: “kok bangga sih majang muka anakmu yang jelek itu?“. 

Sudahlah saya nggak mau bahas rasa sakit hati saya waktu itu. Yang jelas gejolak kawula (Ibu) muda saya meletup2. Habis itu saya jadiin reminder sih, ngapain juga masang muka anak lagi belepotan, walaupun menurut Ibunya lucu? Belum tentu juga anaknya mau digituin. Habis itu, timbullah aksi saya ngurangin upload foto anak di medsos, juga hapusin foto2 yang sudah terlanjur di upload dari Instagram / facebook masa lalu. 

Widih.. panjang juga ya udah kaya cerpen, jangan sampe jadi cerbung. Mentang2 malem minggu nulisnya semangat, berapi2 kaya ABG abis diapelin. Yowes, saya hanya berdoa aja semoga kejahatan terhadap anak musnah dari muka bumi ini dan para pelaku di beri hukuman yang setimpal. Tentang pilihan untuk memajang anak di medsos kembali lagi ke masing2 orang tua. Walaupun prinsip saya dalam memajang anak di medsos itu adalah less is more, saya nggak akan judging ortu yang melakukan sebaliknya atau “mengatur” harus begini atau begitu. Lebih ke nggak peduli atau nggak mau ikut campur kali ya sebenernya. Kan bukan anak saya :)). Salam untuk jiwa2 suci titipan Tuhan di belahan bumi manapun. Semoga kita bisa menjaganya dengan baik dengan caranya masing2. Aamiin.