Girlactik Matte Lip Paint : Allure

Selamat pagi!
Akhirnya paket yang ditunggu2 pun tiba. Setelah digempur mati2an dengan review dasyat dari berbagai lip swatcher dari belahan dunia tentang liquid lipstick yang di klaim punya formula paling bagus dari produk2 serupa yang beredar di olshop instagram pasaran.. akhirnya saya nggak tahan buat cobain juga. Sebagai newbie dalam dunia perlipstick-an saya pun merasa bangga dan berdedikasi *monyongin bibir*

Ini dia penampakannya:

image

image

Girlactik matte lip paint, sesuai namanya.. lipstick ini teksturnya cair yang kemudian akan bertransformasi menjadi matte setelah dipulas di bibir. Hanya butuh waktu kurang dari satu menit untuk kering, dan warnanya nggak menggumpal ketika di poles ulang waktu di aplikasikan ke bibir. Mau review belom afdol dong kalo belom mejeng hasilnya kalo udah dipake:

image

Foto diambil dengan cahaya terang matahari dan remang2 cafรจ supaya ada perbandingan. Maapkan kalo makenya cemong :D. Oiya, shade yang saya beli ini namanya Allure. Natural banget dan cocok buat daily look. Di kulit saya yang tan (NC37-40) dan yellow undertone, jatohnya tuh pas.. nggak pucet, warnanya nongol bahkan ada hint of pink nya. Kalo liat di swatch lain, shade ini bakalan keliatan lebih jreng cenderung deep warnanya kalo dipakai sama orang dengan skin tone terang. Review dari makeupalley juga skor nya tinggi. Sekarang pros and cons versi saya yah..

Pros:
– ringan dipakai, berasa lg nggak pake liquid lipstick..
– nggak lengket
– cepat kering waktu diaplikasikan
– awet (up to 7 – 8 hours++ without touch up)
– nggak crack di bibir, smooth banget
– isinya banyak (7.5ml) dibandingkan produk serupa dengan harga mirip2
– aplicator bagus, mudah dipakai untuk memulas bibir

Cons:
– pilihan warna nggak terlalu banyak
– harganya $25, termasuk pricey kalo udah masuk Indonesia

Sekian review dari seorang newbie ๐Ÿ˜›

Advertisements

Tentang hobi jadi duit dan pemasaran di Instagram

Salah satu hobi saya selain membaca dan bernyanyi adalah.. mainan skin/body care. Nah, kalo mau dijabarin lagi.. homemade skin/bodycare boleh dibilang sesuatu yang lumayan sering saya lakukan. Entah kurang kerjaan atau kelebihan waktu luang, atau emang pinter manage waktunya. EAAAAAA *disorakin* :'(. Berasa deja vu sama postingan sebelum, tapi memang tulisan ini terinspirasi dari salah satu komen disana hehehe.
Sekitar dua tahun lalu, saya yang sedang punya anak umur setahun itu nggak pernah lagi melakukan kegiatan gosok2 badan supaya kinclong alias luluran manggil mbak2 apalagi ke salon. Akhirnya untuk memuaskan dahaga akan gosokan2 nikmat dan melenakan itu, saya meluangkan waktu seminggu sekali saat suami libur kantor.. untuk luluran sendiri dengan bahan2 yang ada dan saya racik sendiri pula.
Resepnya simple: beras, oatmeal, kopi giling/teh/coklat. Cara pembuatannya yaitu dengan mencuci dan merendam beras semalaman (12 jam) yang kemudian dijemur dan digiling saat sudah kering sepenuhnya. Begitupun dengan bahan lain yang masih utuh itu langsung di giling kemudian bahan2 itu dicampur menggunakan takaran yang saya coba2 sampai ketemu hasil yang pas.
Ketika itu, trend menggunakan skin/bodycare homemade organik sepertinya sedang booming. Lalu saya pikir, kenapa saya nggak coba pasarkan nih homemade lulur saya? Saat itulah saya mulai survey dimana beli bahan2 berkualitas baik untuk bikin lulur yang akan saya jual, tentunya harus sebaik2nya karena saya kepengen customer yang pake puas dan kasih testimoni yang baik.. dan yang terpenting customer balik lagi (repeat order) salah satu parameter bahwa produk kita mendapat tempat di hati customer.

Saya mulai merancang akan memberi merk dagang apa, deskripsi produk yang akan tertera di label produk, kemudian survey kemasan dan sticker serta cari designernya sekalian. Untuk kemasan saya survey dan ngubek2 botol ke kios2 di pasar pramuka Salemba, sampai dapat penjual yang akhirnya jadi langganan tetap. Sticker saya order melalui jasa design dan percetakan di IG. Yang utama tentu saja mematangkan “resep” si lulur itu yah dan menguji coba dulu sama orang2 terdekat.
Setelah matang semua, baru eksekusi dimulai.. bikin produknya, masukkan dalam kemasan dan diberi label. Foto2 produk dan pasang di Instagram yang sudah saya buat dengan account nama merk dagang: Beautyscrub. Dilanjutkan dengan mencari admin, yaitu adik saya sendiri.. dia saya bekali 1 gadget punya saya dulu yang udah gak kepake ๐Ÿ˜ฅ, juga penjelasan soal gaji bulanan dia. Ya walaupun adek tapi kan harus profesyenel yah.. deal, jalan. Oiya tugas admin adalah melayani chat dari customer baik tanya2 maupun order, kemudian merekap pesanan, nama dan alamat dalam format untuk dikirimkan kepada saya perharinya untuk saya follow-up siapkan barang, packing dan kirim via ekspedisi.

image
My babies: Beautyscrub

Saya mulai tulis dan rinci berapa modal yang saya keluarkan di awal usaha. Setelah itu mikir lagi, ini strateginya gimana biar produk ini bisa laku? Pasti butuh ngiklan kan biar dapet product awareness dari calon potential buyer. Nah, supaya postingan ini menambah nilai guna.. saya akan tulis beberapa trik pemasaran yang biasa dilakukan di Instagram sepanjang yang saya tau selama bergelut 1 tahun lebih disana sebagai olshop sekaligus produsen produk yah.

1. Endorsement
Konsep ini banyak dipakai oleh olshop2 baru di IG. Yaitu dengan memberikan produk kepada figure yang dianggap memiliki pengaruh besar terhadap para followernya. Bisa selebritas, bisa pula orang non selebritas, tapi memiliki follower yang banyak sekali. Mereka dinamakan : selebgram, seleb instagram.. yiuk *brb #OOTD. Produk tersebut kemudian akan mereka pakai dan di foto (beberapa seleb/gram bahkan memberi testimoni), kemudian ditampilkan di account mereka dengan menyebut olshop yang mengendorse mereka. Contoh seleb/gram yang punya impact besar terhadap penjualan dan high demand sebagai endorser: zahratuljannah, ayuaryuli, joyagh.

Kekurangan dari metode ini adalah, waktu tayang di IG endorser bisa lama sekali karena ngantri. Yang minta di endorse kan ada banyak sekali olshop, apalagi seleb/gram yang followernya bejibun. Ada resiko juga seleb/gram nggak memposting produk kita entah lupa atau barang hilang atau alasan lain. Kemudian, contact seleb/gram tidak selalu tercantum dan perlu usaha untuk nyari sendiri dengan banyak2 bergaul/ tanya ke olshop yang sudah pernah mengendorse seleb/gram tersebut. Kelebihannya orang akan lebih tertarik beli karena produknya dipakai oleh sosok yang mereka suka atau anggap idola. Saya beberapa kali pake metode ini, pengalaman baik seperti barang laku keras, ada. Pengalaman buruk seperti, barang udah dikirim tapi berbulan2 nggak diposting sampai nggak ada kabar sama sekali? Pernah. Kemudian “dipalak” artis kelas B pemain FTV, minta dikirim produk 6 biji tapi terus difotonya ngasal banget baik pencahayaan dan penempatan produk (label ngadep belakang) dan fotonya fokeus ke muka dia semuaaaa, endorsement pertama kali yang saya lakukan dan impactnya jauuuh dari target.

image
My fave endorser: Selebgram @ayuaryuli. Totalitas abis!

2. Shout for shout (SFS)
Pernah nggak buka IG trus ada 1 account olshop yang postingannya buanyaaaaak banget dalam 1 kurun waktu dan isinya iklan2 tentang olshop lain? Nah, itu namanya SFS. Cara ini termasuk juga top list dalam menaikkan product awareness.. modal materi nggak ada, hanya cari group SFS yang mau terima. Karena biasanya di dalam 1 group itu tidak boleh ada produk sejenis.
Contohnya: fashion (baju – sepatu – tas), makanan, peralatan rumah tangga, elektronik dan gadget. Sejauh ini SFS kabarnya lumayan ampuh mempertemukan seller dengan buyer, karena dari banyaknya iklan yang berseliweran itu ada.. aja yang nyantol pencet tombol follow kemudian tertarik dengan produknya dan beli. Saya sendiri nggak pernah masuk group SFS, dua kali dapat tawaran dan saya nggak join. Alasannya: saya aja males kalo liat IG rame iklan, jadi better nggak ikutan deh.

3. Paid promote
Hampir mirip dengan endorsement, tetapi seller membayar sejumlah uang kepada seleb/gram sesuai rate yang mereka tetapkan. Nanti pihak seller memberikan foto materi promosi tentang olshop mereka dan produk yang dijual, yang nantinya akan dipasang di IG seleb/gram. Kelebihan dari metode ini adalah praktis, tidak ada resiko barang hilang di pengiriman atau lupa di foto sama endorser. Kekurangannya, biasanya masa paid promote ini ada kadaluarsanya. Entah 6 jam, 1 hari atau seminggu. Selanjutnya akan di delete oleh seleb/gram.

4. Sponsorship
Banyak account2 tematik seperti akun memasak, tutorial ini itu atau olshop besar yang suka mengadakan kuis. Nah, bisa dilihat dari hadiah yang ditawarkan kepada follower oleh account penyelenggara kuis.. kalau produknya beragam dan mencantumkan nama olshop. Biasanya itu adalah sponsorhip, dia yang menyediakan barang sebagai hadiah bagi pemenang. Saya pernah 3 atau 4 kali jadi sponsorship di beberapa account besar. Salah satu syarat ikut kuis bagi follower adalah follow sponsorship juga.. jadi ada kenaikan signifikan pada followers sponsorship. Kelebihannya product awareness yang di dapat sangat baik, karena account2 besar itu pasti sudah punya follower yang luar biasa jumlahnya. Banyak yang belanja juga walau nggak menang kuis. Kekurangan saya bilang nggak ada, saling menguntungkan. Tips: lebih jeli dan ulet aja cari contact person yang bisa dihubungi untuk daftar jadi sponsorship.

5. Giveaway / kuis
Sama seperti blog, di Instagram juga ada. Biasanya untuk menarik orang2 untuk follow Instagram olshop agar tau/ tertarik akan produk yang dijual. Misal dengan akan mengeluarkan hadiah kepada salah satu atau tiga orang follower yang me-repost foto giveaway, kemudian tagging sekian orang teman dan ajak follow instagram pemberi giveaway. Nanti pemenang akan diumumkan saat follower sudah mencapai seribu (misal).
Ada lagi kuis yang dilakukan secara periodik. Kalo olshop saya sebulan sekali, ketentuannya hampir mirip dengan giveaway diatas.. bedanya saya bikin soal kuis yang harus dijawab, jangan lupa jawaban ditulis di kolom comment dan tidak lupa tag teman dan ajak follow IG ini.
Saya juga pernah ngadain kuis impulsif gitu, followers suruh nebak umur saya hahahhaa.. hadiahnya 2 botol produk untuk 2 orang pemenang di bulan saya ultah.

6. Hashtag
Banyak calon customer –termasuk saya, yang mau belanja dan cari product berdasarkan hashtag. Contohnya mau beli sisir, ketik: #jualsisir #jualsisironline #sisirgading_bertatahkan_berlian. Tanda pager ini lumayan menjaring customer untuk mampir ke olshop kita kalau memang sesuai dengan barang yang dia cari. Kekurangannya terkadang ada olshop yang suka ngawur, pake hashtag apa.. jualannya apa. Oh dan btw saya jadi kepo sendiri beneran ada nggak sih yang jualan sisir di IG :|.

7. Spamming
HOT PROMO! Mau tambah TINGGI (3cm – 15cm), tambah KURUS (5kg – 10kg), atau mau GEMUK (5kg – 15kg)?. Line ke: herbalspam”
Makasih ya mbak Dian sastro udah mempercayakan perawatan kulitnya ke zonkzonkskincare. Ditunggu pembelanjaan selanjutnya ya
” 👈👈👈 JANGAN CEK IG INI!!!!”
…dst.

Sangat tidak disarankan, tapi saya pernah ngobrol sama customer yang punya olshop juga dan maju pesat. Saya tanya, tipsnya apa follower dan buyer banyak? Dijawab: “ini aib sebenernya Kak Dil, dulu aku bikin target 2 jam setiap hari aku khususkan buat spamming di IG artis, selebgram dan orang2 penghuni IG” ๐Ÿ˜ฅ

Saya pribadi gak setuju ya yang terakhir ini (walopun sempet khilaf sekali huahaaahaa tp bukan akun lulur ini). Cuma nggak menampik bahwa trik ini lumayan berhasil, pantes IG seleb/gram isinya spam semua. :/

Trik2 di atas saya bilang adalah yang paling sering dipakai sejauh mata memandang. Mungkin kalo ada lagi someday bakal saya tambahin. Sekarang selintas mengenang tentang bisnis kecil yang pernah saya jalani ini. Awal menjalani, alhamdulillah sudah langsung nutup modal di bulan pertama. Bisnis ini kan bukan bisnis dengan modal yang banyak sekali juga. Faktor besar kenapa bisa balik modal dalam waktu satu bulan saya pikir karena homemade skin/bodycare memang sedang trend sehingga orang banyak yang tertarik. Bulan kedua sudah mulai menghasilkan laba yang lumayan bikin senyum.. efek dari promosi yang dilakukan (ketika itu endorsement) sudah mulai kelihatan. Saat itulah saya mulai lakukan strategi lagi yaitu:
Cari reseller/dropshipper. Alhamdulillah setelah buka announcement di IG, beberapa orang langsung contact admin yang langsung di forward ke saya. Segera term and condition diberikan kepada para peminat yang isinya juga mengenai penjelasan laba yang mereka dapat kalau bergabung dengan bisnis ini. Alhamdulillah di bulan ketiga 1 reseller dari Surabaya masuk. Omzet mulai menanjak signifikan dibanding bulan sebelumnya. Selanjutnya.. di bulan2 mendatang mulai masuk lagi reseller dari kota2 lain di Indonesia seperti Palembang, Bandung, Makassar, dan saya lupa 😂😂. Terakhir itu ada 6 reseller di kota besar dan beberapa dropshipper yang menyebar di Indonesia. Omzet tertinggi selama menjalani bisnis ini adalah lebih dari pendapatan yang saya dapat di kantor terakhir saya bekerja, dengan keuntungan 80% dari total omzet. Keuntungan normal perbulan cukup buat jajan2 lucu dan nabung duit cewek lah. Memang nominal yang saya dapat nggak fantastis dengan digit yang berderet panjaaaang, tapi untuk sebuah pekerjaan berawal dari hobi yang saya lakukan dari rumah, sendirian pula.. dari belanja, prepare bahan, racik, packing, labelling dan kirim barang via ekspedisi.. ini benar2 suatu pengalaman berkesan dan saya masukkan ke dalam pencapaian yang pernah saya raih dalam perjalanan hidup, its OK ya untuk memberi reward dan reminder kepada diri sendiri :).
Sebagai perempuan pekerja bahkan dari sebelum lulus kuliah, yang kemudian resign (baca: nggak ada uang masuk perbulan dari hasil keringat sendiri) pernah membuat saya merasa inferior pada awalnya, untung nggak berlarut2 karena lama2 sadar bahwa saya masih bisa berkarya yang hasilnya bukan berupa materi. Tapi nggak dipungkiri, bisa make money lagi itu rasanya memicu adrenaline *ngeracik lulur sambil bungee jumping* ๐Ÿ˜€

Sekarang segala aktivitas itu sudah nggak ada lagi, bisnis ini sudah berakhir karena kesibukan saya saat itu yang membuat saya nggak bisa fokus menjalani usaha sendiri. Mungkin sekedar tips bagi yang mau usaha, belajarlah percaya orang lain. Di case saya, saya ini bukan orang yang mudah percaya orang untuk handle pekerjaan yang mana saya paham sekali detailnya. Dampak buruknya adalah ada saat dimana saya sangat2 kelelahan karena bisnis makin maju dan tetap handle semua sendiri plus kekeuh gak mau hire orang. Entah ini saran yang bagus atau nggak ya.. kalo saya ini meskipun (misal) udah mempekerjakan orang, ujung2nya saya bakalan cek ulang buka2in lagi ini udah beres belom? Jadinya malah dua kali kerja hahahaha.. susah buat ubah kebiasaan. Kemudian yang paling penting adalah jujur dan ramah. Kalo pake admin, ajari admin untuk jadi frontliner yang baik. Kalo online business gini ya jangan jutek2 sama customer.
Akhirnya.. itulah penutup dari cerita hobi jadi duit yang paling sukses yang pernah saya lakukan. Semoga postingannya berguna ya, kalo ada yang nggak sesuai dengan teori mohon dimaklumi.. lawong bukan pakar pemasaran. Minimal paling nggak jadi tau lika liku jualan di Instagram. Mumpung ini platform masih lumayan eksis.. โ™ก

Cek IG kita ya sis! ๐Ÿ˜›

Curhatan si Ratu Olshop

Dengan mata sembab, tenggorokan perih dan idung meler.. cerita ini akan saya tuliskan. Bukan karena sambil nangis, tapi emang lagi meriang booook!

Sebagai ratu online shop sejagat, bahkan jauh sebelum bisnis online shop bagaikan jamur di musim penghujan gini.. saya udah banyaaaaak banget melakukan transaksi online. Dari yang bayarnya via atm – bukti transfer difoto – kirim ke seller via chat, COD (cash on delivery), bayar pake kartu kredit, sampe nitip temen transferin terus saya bayar ama dia karena olshop yang bersangkutan gak bisa di transfer sama rekening bank yang saya punya (dulu kan masih ada bank yang musuhan gitu deh gak bisa direct transfer). Barang yang dibeli pun bervariasi, produk fashion (baju, sepatu, underwear, accesories dll), elektronik (blender, mixer, tape dll), makanan, buku, skin care dan kosmetik.. aduh sumpah sampe barang2 yang kayaknya orang beli di toko saya beli online deh. Udah banyak nemuin berbagai macam tipe dan perangai seller / admin online shop dalam melayani customernya. Tapi alhamdulillah loh selama ini selalu lancar2, menyenangkan, or at least standard.. hampir nggak pernah dapet pengalaman buruk sampe bikin kuping ngebul. Buruk menurut saya ya, gak tau kalo mas Anang orang lain.

image
Pic taken from here

Saya termasuk pecinta local brand alias barang2 produksi anak negeri. Walaupun katanya local brand itu overpriced atau modelnya kadang suka geje, tapi gatau deh.. suka aja gitu beli dan makenya. Kalo bukan kita trus sapa lagi yang make dong? *sok iyes*
Nah, minggu lalu.. saya order sepatu ke salah satu local brand yang lumayan terkenal, at least dari follower di instagramnya yang puluhan ribu dan beberapa selebgram juga seseartis Ibu kota lumayan reguler meng endorse brand ini.

Hari itu, rabu 24 Juni saya chat contact line si olshop:
Order:
SEPATU XYZ warna putih, size 39.
Alamat kirim:
JL. xxx Rt.xx/Rw.xx Kec.xx Kel.xx
No. Telp:
081xxxxxxxxx

Thank You! โ™ก

Itu template form order yang selalu saya pake ke semua olshop. Chat saya di balas dengan Invoice plus no rekening olshop yang ditambahi keterangan:
kalau sudah transfer info aja sis, untuk barang tidak kami keep sampe di transfer ya

Hari itu juga saya transfer dan kirim bukti pembayaran via line yang dibalas dengan: OK. thats it, thats all. Gak ada penjelasan lain even say thanks. Sepele, tapi buat saya olshop yang selalu menyelipkan kata2 terima kasih walaupun pake auto text itu patut di apresiasi. Tapi yasudahlah.. nggak jadi masalah buat saya, toh hak dia juga.. mungkin untuk nulis atau ngeluarin template text say thanks di ratusan chat yang masuk bukan hal yang penting dan prinsip.
Ditunggu.. ditunggu.. lepas 3 hari, barang belom sampe. Akhirnya setelah 4 hari kerja (sudah di potong hari minggu yah, jadi total 5 hari menunggu sebenernya). Saya hubungi via line untuk minta resi pengiriman untuk cek status barang sampai mana, yang OMG ternyata dijawab:
Sepatunya kan preorder?? Waktu order nggak tau??“.
Lahhh.. kaget dong saya. Soalnya based on foto dan caption: grab yours while its still in stock. Available in size 37 – 39 in limited piece, preorder for other size.

Singkat cerita, saya bilang lah sama admin.. kenapa kemarin kasih note: barang tidak kami keep sebelum di transfer. Itu akan membuat customer berasumsi kalau barangnya ready stock. Kalau memang preorder, seharusnya diberi keterangan tambahan di invoice kalau barang yang ready stock sudah habis dan pemesanan ini masuk preorder. Bahkan setiap penjualan barang preorder, customer juga berhak tau kapan ETA (estimated time of arrival) nya. Tapi olshop itu jawab:

Kalo tdk di tulis pun, ketika sis order dan brgnya tidak ada, asumsi kita juga sis sudah tahu kalo barangnya preorder karena sis juga tdk tny lagi apakah itu ready atau tidak” terus dia nyalahin saya karena cuma liat satu foto aja dan lagi2 bilang: “sis sih nggak nanya sepatunya ready nggak“. Lah, wong saya emang naksir nya kebetulan sepatu itu bukan model lain.. dan di caption tertulis available tuh size saya.. taunya :'(.

Aduh sis, dr sekian banyak foto di ig, sudah di tulisin juga kalo preorder, available sz 36-39 mksdnya yg bisa di order hanya dr sz 36-39” sambil memberondong saya dengan capture2 foto sepatu model lain yang mana ditulis di caption bahwa sepatunya memang preorder. Sampe sini saya yang nyengir. D’oh dasar abege.. Ngopi sek.. ndak edan.. ๐Ÿ˜€

Kemudian dia bilang, “yaudah ini shoesnya br ready sktr 2 ‘mnggu, diusahakan sebelum lebaran atau mudik nanti di kirim“. Eddaaann ya mennn hahahahaa! Sebenernya saya udah mudik sih ya boook, tapi kalo tau itu sepatu preorder selama (total) tiga mingguan sih saya juga ogah. Mau minta refund serem, orang dia punya logika aja bikin gagal paham. Kalo nanti refund dan salah transfer bisa pening pala beta. Yang epic lagi sebenernya sih waktu di akhir chat.. setelah saya berterima kasih untuk defense penjelasan dari admin, saya bilang kalau nggak apa2 nunggu karena sekarang saya udah tau status barang yang jelas. Saya kasih masukan bahwa ketika memberikan invoice, sebaiknya admin juga kasih keterangan tentang status barang. Kalo di case saya, berarti dijelaskan bahwa sepatu yang akan dibeli sudah habis, tidak available dan dialihkan ke preorder. Pake autotext aja gpp kok.. mudah kan? Eh di jawab loh:

Sama masukan dr aku juga supaya di cek di foto2 lainnya, karena ga bs semua foto kt inget utk ganti captionnya..

Rasanya mau balesin lagi:
“MAKANYA KALO GAK INGET GANTI CAPTION YA ELO JELASIN DI INVOICE NYA LAMPIIIRRR!!!” *tujes virtual*
Simpeeel dan selotip eh solutif gitu loooh. Invoicing itu kan tahap terakhir, jelas semua dituangkan disana.. kecuali olshopnya memang punya prinsip: yang penting duit masuk dulu, masalah barang ready atau nggak sih jelasin belakangan. Toh semua customer itu bagaikan dukun yang bisa menerawang barang yang mau dibeli available apa nggak.

Wes pokoknya habis barang dateng langsung unfollow ini so called local brand online shop. Maaf ya kalo diatas ada kata2 kasar, habis erosiii bok.. eh emosiiiii :P. Next time bakalan cerita ah suka duka jadi online seller.. semoga badan dan jari cepat mendukung.

UPDATE: lupa banget mau update nama olshopnya, yang setelah barang dateng langsung di unfollow. Sepatunya sudah sobek/ jebolllll sodara2. Tidak kuat dibawa menyusuri jalan sehari2 di Melbourne ternyata.. Padahal gak sering2 amat dibawa ngider, prefer pake merk sneaker/slip on lain. Oke HERSPOT, selain bad quality services.. Ternyata barangnya juga ๐Ÿ˜‚.

LA girl: secret

Hello everyone!
Sapu2 blog dulu dari debu dan sarang laba2. Lebay.. lebaaayy.. dua minggu nggak nulis, nggak blogwalking.. ternyata hidup saya terasa sepi juga. Kepala ini rasanya kangen dialiri ribuan huruf yang isinya informasi, cerita2 seru, review tempat makan, even cerita2 daily life dan semua yang tertuang dalam tulisan blogger2 di dunia ini. Halah ๐Ÿ˜€
Hari ini mau nyicil baca2 aahhhh.. biar hilang pucing pala barbie..
Minggu lalu saya lagi scroll news feed IG, terus ada salah satu olshop make up langganan di Bandung posting beragam gambar bibir warna warni. Ada satu lagi US cosmetics brand yang ngeluarin seri liquid matte, namanya LA GIRL. Judul lipsticknya: LA GIRL MATTE FLAT FINISH PIGMENT GLOSS, panjang yaaaak.. nyaingin nama lengkap saya hahahaa. Tanpa pikir panjang saya pun pesan karena harganya 60rb saja ($5). Karena udah lama pengen punya lime crime wicked tapi gak kebeli2 karena harganya kurangajar, saya pun pilih shade “secret”, the closest dupe nya. Langsung aja yah dijembreng pilihan warnanya dulu:

image
Source: IG @makeupuccino

Pilihan warnanya asik ya, sebenernya brand lain juga gini2 juga sih pilihannya, tapi LA girl ini affordable banget.. jadi poin plus deh. Terus ini review nya, saya kasih foto awal make dan 7 jam setelahnya. Shade secret ini kan dark – red wine gitu warnanya, efek yang ditimbulkan adalah kesan kereng alias galak. Mau foto cengengesan juga kayaknya kurang pas. Sekali2 Ibu peri jadi nenek sihir dulu deh ๐Ÿ˜€

image

Dengan setting yang sama, foto kiri diambil jam 9 pagi, foto kanan jam 4 sore. Fokus kepada bibir, nggak terlihat perbedaan mencolok alias nggak luntur.. itu tanpa touch up. Dipake buat makan nasgor sama es teh tarik. Makannya tapi behave yak.. tapi nggak yang ati2 banget demi ngejagain lippen gak ilang, gak gitu juga sih lol. Kalo foto kanan wajahnya terlihat capek dan kucel mohon dimaklumi. Foto pertama diambil jam 9 pagi saat sinar matahari masih seger2nya.. foto kedua matahari nya udah persiapan mau istirahat, pluuusss dua jam nyetir PP dalam kondisi lalu lintas maceeeet dan crowded bikin peluh mayan bercucuran.. itulah penampakan asli saya dengan kulit sawo kematangan ini. Alhamdulillah, niat banget ambil foto pas pulang buat perbandingan. Teteup dengan muka no cengengesan hehehe.

image
Source: IG @thelipstickmafiaaa

Pro:
– staying power oke (up to 4 – 6hr)
– harganya terjangkau ($5) – masuk Indonesia tergantung seller yang jual, tapi masih under 100rb
– mudah diaplikasikan, tekstur cair dan cepat kering
– nggak berbau

Cons:
– agak sedikit “berat” di bibir, tapi dibandingkan la splash yang pernah saya tulis juga, masih jauh lebih light LA girl ini.

Perbandingan LA girl shade secret di kulit gelap dan terang:

image

Ternyata kalo dipake cengengesan gak keliatan galak yak. Jadi shade Secret ini saya bilang cocok untuk segala jenis tone kulit, dari terang sampai gelap. So far, puas beli lipstick ini.. nggak bikin tongpes dan yang penting hasilnya sesuai sama harganya.

Ada yang udah coba? Cepetan.. udah mulai langka dimana2 ๐Ÿ˜›

Updated:

image
Bonus: la girl REBEL

#dityshawl by Rashawl

Liburan selesaaaiii.. saatnya kembali ke rutinitas sebagai IRT. Me time dulu ah nulis2 product review sukarela dari seorang user. Siapa tau berguna kan bagi perempuan2 yang kali aja lagi google merk ini, dan sepertinya dulu pernah janji sama Jeng Tyka buat review deh hahaha, nungguin ngumpul dulu bok. Sebagai seorang newbie atau beginner dalam dunia perjilbaban, saya sempat bingung mau pake jilbab model apa awalnya. Padahal sebenernya jilbab bukanlah hal yang baru juga, soalnya belasan tahun yang lalu saya kuliah di sebuah Universitas Islam di Jogja yang mewajibkan mahasiswinya untuk berjilbab selama mengikuti kegiatan akademik di kampus. Ketika itu gaya saya make jilbab adalah dengan melipat jilbab segiempat menjadi segitiga, kemudian di pasang ke kepala.. dijepit dibawah leher dan kedua ujung jilbab diikat ke belakang. Selama kuliah, saya juga pernah pake style jilbab yang disebut “jilbab ekonomi“, bukan gaya jilbab dengan kain seminimal mungkin ya.. kalo itu ekonomis :”)) *iya jayus iya*.
Saat itu cewek-cewek dari fakultas tetangga jauh yaitu Fakultas Ekonomi, punya ciri khas make jilbab dengan menunjukkan poni samping. IYA PONIIIIII alias rambut yang di depan jidat itu hihihhiihi.. alay juga sih kalo ngebayangin sekarang, tapi itulah kelakuan saya dulu yang tak malu saya akui sekarang.

Kembali ke masa kini, tiba-tiba saya merasa kepingin make jilbab. Sedikit cerita mengenainya pernah saya tulis di sini. Terus, sebagai ratu onlineshop sejagat saya nyari dong toko yang jual jilbab di Instagram. Ternyata buanyaaaakkk banget ya yang buka lapak disana hahaha, sempet kaget kalo beli jilbab di IG itu ternyata sikut-sikutannya lumayan kenceng.

Sikut-sikutan gimana?

Belinya udah kaya rebutan sembako bok! Jadi biasanya toko akan buka pengumuman nih mengenai waktu penjualan jilbab varian ABC, terus nanti saat waktunya tiba.. itu pembeli pada nyerbu contact admin si toko bersangkutan untuk pesen. Belinya juga harus pake format order, misal nama – alamat – no. telp – pesanan, supaya lebih cepat direspon. Terus kalo nanti barangnya sold out, rame deh para buyer yang gak kebagian jilbab ngecipris di comment picture hihihi. Eh beneran lho, saya baru tau fenomena ini ๐Ÿ˜›
Saya nggak ikutan beli ke online shop dengan sistem jualan yang rame hore gitu sih, pertama karena males rebutannya. Kedua, saya udah nemu jilbab favorit yang akan selalu dibeli saat butuh jilbab baru (emang pernah cukup? :D). Namanya #dityshawl, online shop yang memproduksi ada di Bandung. Akun instagramnya bernama @Rashawl_official (tadinya @rashawl doang tapi di hacked).
Awalnya gara-gara saya mulai risih make kerudung segiempat karena kurang meng-cover bagian depan tubuh, terus nyari tau di forum tercinta yang sarat info kewanitaan tentang shawl/pashmina karena bentuknya kan panjang dan lebar. Disana banyak banget yang ngomongin soal shawl dengan bahan polyester + viscose (polvis) dengan perbandingan angka-angka. Nah loh, puyeng gak? Hahahhahaa… jadi ada seseshawl yang katanya favorit Ibu-ibu dan remaja putri gitu deh. Berbekal dengan panduan anak-anak di forum, saya beli dua buah shawl plain bahan polvis dengan perbandingan 65% : 35%. Campuran bahan ini akan menghasilkan shawl yang halus lembut licin dan adem di kepala. Konon designer hijab terkemuka di Indonesia ngeluarin shawl jenis ini juga, makanya banyak toko yang nyebut shawl ini: plain miranda shawl, ngikutin nama mbak designer. ๐Ÿ˜›
Ternyata apa yang terjadi? Saya nggak bisa makenya! OMG susah bangeeettt, kacawwww deh.. gak tau mungkin saya yang gak jago.. or dasarnya gak suka ribet pasang peniti dan segambreng jarum pentul buat bikin tampilan rapi. Asli, sutris banget rasanya hahahha. Terus saya mulai cari lagi deh shawl di online shop lain, tapi kali ini nggak mau beli dulu karena takut gak cocok, gak mau rugi deh pokoknya.

image

Saya nyobain dulu punya temen yang udah punya duluan, terus ternyata langsung jatuh cinta sama shawl dengan bahan katun jeruk import ini karena:

– makenya cepet dan nggak ribet
– nggak perlu pake daleman (nggak bakalan geser)
– nggak perlu jarum pentul segambreng :p
– nggak perlu disetrika kalo abis dicuci (saya tetep setrika sih :p)
– nggak gerah, walo nggak adem-adem amat
– nggak ninggalin bekas bolong or lecek kalo di peniti
– ukurannya “pas” (panjang dan lebarnya)
– harganya reasonable, sebanding dengan kualitasnya
– mudah dibentuk/ model macem2, dari turban sampe syar’i yg panjang sampe ke perut. Saya sendiri selalu pake sebatas dada.

image

Satu buah shawl dijual dengan harga 60rb, tapi kalo beli tiga kena 170rb, nanti tinggal nambah ongkir lagi sesuai alamat kirim. Saya semacam kecanduan beli #dityshawl ini.. kalo emang udah cocok yaudah bakalan make merk itu terus, paling sekarang koleksi warna aja. Ngomong-ngomong soal warna, saya juga dulu kalo beli jilbab tuh berkisar di warna-warna monochrome.. paling banyak sih abu-abu. Sampe kaget ternyata jilbab-jilbab saya warnanya seragam walaupun modelnya beda-beda, saya pernah ceritain di sini.
So far, saya nggak nemu kekurangan dari shawl ini kalo dari materialnya. Kekurangannya malah mungkin ada saat pemesanan yang kadang suka lama responnya. Mungkin karena ada banyak buanget yang mesen jadi adminnya ngelayanin satu-satu gitu berurutan dari chat yang pertama masuk.
Saran: mungkin adminnya kudu ditambah kali ya. Pelayanannya oke, kalo ada complain akan segera ditanggapi dan di follow up. Saya pernah mesen dan mereka lupa ngirim, mungkin missed saking banyaknya.. ngambek dong saya, terus mereka langsung kirim pake service yang sehari nyampe. Gak jadi ngambek hahahhahhaa #anaknyagampangankalodibaekin.

Healthy gadget

Tadinya mau kasih judul “ngejus rumput“, tapi kok wagu.. ngejus itu kan bukan bahasa Indonesia, geli juga makanan mbek dibawa-bawa 😂😝. Terus mau diganti jadi “ngejuice ijo-ijo“, tapi kok juga nggak enak di kuping mata. Akhirnya, karena postingan ini akan berisi review.. diputuskan untuk kasih judul sesuai dengan barang yang akan diulas disini. Sekian prolog ngalor ngidulnya.
Di postingan sebelumnya saya udah cerita kalo lagi nanem wheatgrass. Kalo sudah panen, wheatgrassnya di juice dan diminum setiap pagi. Setelah baca-baca review dalam dan luar negeri, juga ngoprek youtube tentang bagaimana mengkonsumsi wheatgrass ini. Saya simpulkan bahwa wheatgrass paling baik di juice dengan menggunakan slow juicer. Mengapa slow juicer? Beda kah sama (konvensional) juicer? Saya ambil deh juicer kado kawinan saya di gudang, ambil buku petunjuknya dan baca-baca. Ceritanya mau dibandingkan dengan HUROM slow juicer yang barangnya masih ada di Ace Hardware. Pengennya sih ada orang yang bayarin terus barangnya dibawain pulang terus dikekepin dikelonin sampe pagi. Hurom-nya, bukan orangnya. Duh Gustiiiii paringono Hurooommm.. hambamu ini sangat menginginkannya! *edan* :’). Slow juicer merk Hurom dijual di kisaran harga 5 juta ke atas. Buat saya angka segitu mahal banget untuk sebuah juicer, nggak ada hepengnya meeen.. kecuali kalo udah sanggup beli Kate Spade yang 6 jutaan tapi tetep males beli Hurom? Baruu deh keplakin diri sendiri. Jadi kangen rasanya beli tas baru.. :”’)).

Berhubung Hurom jelas gak mungkin kebeli, saya mulai cari tau alternatif slow juicer yang harganya masih reasonable buat kantong saya. Liat-liat di Instagram kok ada toko yang jual manual slow juicer, harganya centang pula. Mulailah saya googling tentang si juicer yang namanya LEXEN MANUAL HEALTHY JUICER. Review-review yang saya dapat (hampir semua review luar) dari blog dan youtube (semua comment tentang product saya baca juga), juicer ini recommended bagi yang ingin ngejuice wheatgrass setiap hari. Karena tidak disarankan penggunaan yang berlebihan setiap harinya. Jadi, jangan nyetok frozen wheatgrass juice pake si Lexen ini ya.. bikinnya sekali minum aja, maksimal lima shot lah perhari, cmiiw.
image

Ini dia dus nya, bisa dilihat ya.. bentuknya simpel, ringkes dan paling penting adalah: bisa dibawa travelling karena tidak terlalu makan tempat. Judulnya wheatgrass juicer, tapi ada claimnya juga: great for all types of leafy vegetables. Kalo demo di youtube malah bisa buat yang lain juga seperti apel, wortel dan apalagi saya lupa. Tapi saya prefer pake buat wheatgrass sama leafy greens aja. Warna slow juicernya putih dan hijau, warna favorit saya! ;).

image

Dicuci juga ringkes, gak kebanyakan printilan.. nggak takut juga kena mata pisau juicer. Nah, ini dia salah satu yang saya suka dari slow juicer. Beda slow juicer dari (konvensional) juicer adalah: slow juicer tidak menggunakan mata pisau dalam proses mengekstrak sayur/buah, dia menggunakan metode squeezing alias memeras. Kemudian rpm-nya juga rendah, semakin tinggi rpm akan mengakibatkan oksidasi karena gesekan yang timbul dari mata pisau yang terbuat dari besi. Enzym si buah/ sayur bisa terbuang banyak. Slow juicer yang saya punya ini type manual alias nggiling sendiri pake tangan yang memutar tuas, no electricity needed. Kecepatannya saya yang atur sendiri hehehe.. even better.
image

Ini wheatgrass + sawi ijo yang saya juice kemarin pagi. Minumnya sekali tenggak habis. Dibelakangnya ada wheatgrass yang saya panen tiga hari lalu, sekarang sudah mulai tumbuh lagi.. wheatgrass bisa dikonsumsi sampe panen ketiga, setelah itu buang.
So far, saya puas banget sama performa Lexen manual juicer ini. Selama ini saya selalu bikin green smoothies dengan menggunakan blender, rasanya senang sekali sekarang bisa bikin juice dirumah tanpa repot bersihkan juicer setelah dipake. Kekurangannya mungkin ada di kapasitas bikin juice perharinya. Andaikan bisa bikin juice dalam jumlah sekian liter perhari akan lebih baik. Nih, penyakit banget.. beli di harga 1/8 nya Hurom, tapi maunya performa sama. Dasar manusiaaaaa :”)). Begini juga saya sudah puas mengingat harga manual slow juicer saya terjangkau dan mudah pengoperasiannya.
Review lain lagi datang dari..image

..bibir saya! Hahahahaha! Ini juga gadget lho… WARDAH LONG LASTING No. 11 FTW! ‘Cuz beauty = healthy. So this is my new healthy gadget :”’))). Makin ngiler beli ini karena liat tulisan mbak Noni. Seketika cinta sama si Wardah LL karena mudah diaplikasikan, awet dipake, nggak bikin bibir kering, dan yang paling sehat adalah harganya murah meriah ridho (baca: terjangkau). Kalo gak cocok atau ilang gak bikin nyesek. Kalo beli dua sekaligus masih bisa mesam mesem ngguyu).