Achievement unlocked!

Hibernasi blog ini akan segera berakhir hari ini.. itung2 olahraga jari. Pagi tadi gw buka HP yang (dari kemarin) puenuuuhh dengan notifikasi. Rada aneh sih liat layar rame.. karena biasanya notifikasi di HP gw itu banyaknya dari Instagram, yang mana sejak dua tahun lalu juga udah jadi kaum “punya hp tak ber notif”. Sepi, sunyi.. ramenya baru kalo HP dibuka. Terus ini ada keriuhan apa dong?

Twitter sodara2.. belom di off in notifnya 🀣. Udah gitu lumayan banyak DM di Instagram, baik dari temen2 sendiri maupun beberapa followers yang kasih screenshot gambar sambil komen macam : “Dil, loe masuk @Infotwitwor!! Achievement unlocked!“. BUSETTT!

Jadi, gw follow satu account di twitter, sebut saja mbak ratu cabe. Timelinenya menarik, bercerita tentang daily life dan kebiasaan2 orang di negaranya. Sampai dua hari lalu ybs bikin cuitan:

Tanya kenapa klo janjian sama perempuan beranak di:

πŸ‘‰πŸ»Luar Negeri: Dia doang yg muncul. Anak dijaga sama bapak krn udah janjian

πŸ‘‰πŸ»Indonesia: Satu keluarga dibawa semua, termasuk baby sitter sak anak2nya.

Mau kumpul2 jadi ribet ngangon anak 😾😾

Habis itu replies berdatangan.. mostly dari yang pro dengan cuitan tersebut. Sedangkan gw jadi termenung malam itu, masa sih Ibu2 beranak di Indonesia segitunya?? Alih-alih ikutan reply twit mbaknya, gw bikin thread yang isinya cerita tentang persahabatan gw dan seorang perempuan semenjak awal kuliah. Alkisah, gw duluan married dan beranak (sumpah gw sebenernya risih bin ilfil nulis beranak gini, berasa ngomongin film suzanna! 🀣). Beranak dalam lumpur.

BERNAFAAASSS MALIIHH!

Gw dan sahabat tercinta ini masih punya jadwal ngopi2. Biasanya weekday, pas dia lagi males ngantor 🀣. Anak gw? Dibawa dong.. karena:

1. Dia masih minum ASI. Sebagai perempuan.. ketika status lo berubah menjadi Ibu, ada bagian tubuh ini yang ikutan ganti status dari –yang menurut gw– tadinya seksi sekali menjadi seksi konsumsi. Ada manusia kecil yang menggantungkan hidupnya disana. Kecuali kalau memang anak full minum susu formula (ini Ibu2 yang kasih anaknya sufor jangan triggered plis, bukan ini yang mau di highlight yes?).

Emangnya nggak bisa diperah aja ASI nya n disusuin pake dot, biar orang lain yang jagain jadi Ibu nggak harus kemana2 sama anak?? Bisa.. tapi itulah yang namanya bayi = anak manusia = bukan robot, beda2.. nggak semua bayi mau ngedot.. dan kondisi childcare / daycare di Indonesia belum “seramah” di LN yang bisa by appointment dekat2 hari.

2. Weekdays, suami ke kantor ga bisa gantian pegang anak. Sejak punya anak kami sepakat “bagi tugas”. Ibu di rumah mengurus kebutuhan dan keperluan anak. Parenting tetep berdua, karena anak ini bukan anak daku sendiri.. ya tooo? Tapi memang fakta, di fase awal hidupnya.. anak pasti lebih melekat ke gw sebagai Ibunya. Tanpa dia harus kehilangan identitasnya sebagai anak bapake dan ibukeeee…

Cerita lain di thread gw adalah pengalaman gw saat tinggal di Melbourne, yang mana itu di luar negeri kan yaaa. Bisa lah kalo mau dibikin perbandingan apple to apple sama kehidupan di kota2 maju di eropa. Disana gw berteman dekat dengan perempuan2 single, yang sudah menikah + belum punya anak, bahkan pasangan menikah yang memang memutuskan untuk tidak punya anak (childfree). Setiap mau jalan sama temen2, gw selalu cari waktu dimana gw bisa melenggang sendiri. Biasanya saat anak di childcare atau suami lagi nggak ada kuliah / assignment jadi bisa gantian pegang bocil. Hampir semua temen2 perempuan gw itu pernah bilang untuk bawa anak gpp kok, malah nyariin cafe dengan playground yang asik supaya bocil bisa main sembari Ibu dan temannya bisa ngobrol. Satu teman yang childfree pernah bilang, “aku memang nggak pengen punya anak.., tapi suka jg main sama anak2 temen kok.. besok2 ajakin aja“. Bahkan ketika anak gw ultah, salah satu dari mereka ngajak jalan bertiga dan bawa bingkisan/kado, lego serius pertama si bocil.

Point gw cerita ini apa sih? Balik ke convo antara gw dan mbak ratu cabe yang masuk @infotwitwor yes.. ybs ini bikin thread menanggapi tentang cuitan dia, yg gw pajang diatas tuh.. yang akhirnya jadi “rame” dikomentarin oleh para Ibu2 Indonesia yang kontra dengannya. Dia menjelaskan kenapa cuitan itu sampai ada: karena setiap dia balik ke Indonesia (which is setaun sekali).. saat ketemuan sama temen2nya, mereka pada bawa anak, suami, baby sitter dll yang udah kaya rombongan sirkus lah. Itu bikin pertemuan yang harusnya jadi ajang melepas kangen jadi nggak berkualitas, dan kondisi itu bikin mbaknya nggak nyaman.

Kenapa sih anak temennya nggak dibawa aja kemanaaa gitu sama baby sitternya? Mungkinkah karena ortunya juga nggak mau jauh dari anak or nggak percaya sama BS nya? Terus.. mbak ratu cabe membandingkan dengan keadaan di negara tempat dia tinggal, dimana temen2 dia yang sudah pada beranak nggak akan bawa anak2 mereka kalo ketemuan dengan dia karena:

1. Mereka tau mbak ratu cabe gak punya anak / gak suka anak kecil.

2. Mereka juga pengen hang out dengan sesama orang dewasa alias me time.

Kemudian dia menjelaskan juga tentang situasi di negaranya dimana hire BS sangatlah mahal, nggak ada kakek nenek yang bisa dititipin anak.. jadi kalo ortunya mau hang out ya harus gantian pegang anak. Terus dia menjelaskan juga, orang2 di negaranya –terutama teman2 dia yang sudah pada beranak bukan berarti ngublek soal anak. Mereka juga butuh “refreshing” jauh dari dunia seputar anak, jadi butuh “normalitas” layaknya sebelum mereka punya anak. Bukan berarti menelantarkan anak, tapi anak2 disana sudah dibiasakan mandiri.. misal dari umur setahun sudah masuk penitipan anak ketika ortu bekerja. Nggak seperti kebanyakan anak di Indonesia yang dimomong 24/7, dimomong itu diasuh oleh orang dewasa yeee betul gitu kan?

Intinyaaaaaa… cuitan dia itu adalah MEMBANDINGKAN BUDAYA, dimana dia disana bisa tetap berteman dengan orang2 yg sudah pada punya anak. Karena obrolan mereka tetap asyik dan terkini, nggak cuman ngobrolin sekolahan, diaper atau apalah. Kalau di Indonesia udah jauh dari nyambung. Sekadar opini saja. <<– ini gw copas langsung dari twit mbak ratu cabe.

Panjang amat? Padahal baru preambule 🀣. Gpp, gw lagi mood nulis setelah sekian purnama. Kemudian, twit klarifikasi mbak ratu cabe ini gw balesin.. gw bilang twit dia kemarin itu menggeneralisir, gw juga Ibu beranak tapi tetep punya kehidupan lain diluar mommyhood. Memang ada masa2 anak “melekat” sama Ibunya, misalnya saat ASI eksklusif. Nah, mbak nya ini jawab.. saya cuma berbagi pengalaman waktu ketemuan sama temen2 di Indonesia yang anaknya udah TK / SD (mungkin gak saya cantumkan). Masa berbagi pengalaman pribadi dibilang menggeneralisir? πŸ˜‰

Gini lho.. twitter itu kan medianya berupa tulisan, jadi pemahaman kita akan pemikiran orang ya sebatas membaca apa yang nampak di mata. Mbak ratu cabe ini baru ngejelasin latar belakang kenapa dia nulis statement soal Ibu di LN vs Ibu di Indonesia setelah twit pertamanya jadi rame oleh beragam komen kontradiktif dari netizen. Sebelumnya ya orang2 cuma bisa baca soal statement perbandingan itu. Ibu2 beranak di LN vs Ibu2 di Indonesia, thats it thats all. Ya kan kita cuma bisa baca huruf, bukan isi hatiiii.. mana tau kalo lg berbagi pengalaman soal dia sama temen2nya di Indonesia. Lain halnya kalo cuitan dia tentang komparasi Ibu2 di dua tempat yang berbeda benua itu DIIKUTI dengan segala rentetan penjelasan yang dia jabarkan keesokan harinya.

Gw bilang lagi lah, dari twit pertama yang dia bagikan buat gw sih menggeneralisir. Gw juga mau sharing bahwa nggak semua Ibu2 beranak di Indonesia seperti yg dia tulis.

Convo ini berakhir dengan : bhaiqueeeeee… darinya. BHAIQLAH JUGA.. It’s ok, so far gw ngerasa ngebalesin twit dia juga sopan2 aja. Kemudian, karena gw memang masih follow dia (sampai sekarangpun gw belum berniat untuk unfollow apalagi nge block), karena diluar hal ini gw memang menikmati twit2 mbaknya..

Nah, sebagai followernya gw bisa baca dong twit2 yang dia RT terkait hal ini. Gw hanya bertanya dalam hati, atau kalo mau ada yang bantu jawab juga boleh kakak…

Apakah benar cuitan dia tentang Ibu2 di LN itu mewakili semua (or mostly) pemikiran perempuan dan Ibu2 beranak disana?? Gw selalu berfikir (dan berpendapat) bahwa Ibu2 di negara maju itu justru lebih open minded dalam menyikapi hal atau perbedaan.

Gw punya teman blogger yang tinggal di luar negeri. Dia adalah seorang Ibu yang masih menyusui anaknya secara langsung dan nggak pernah merah ASI karena dia sementara ini nggak kerja, sampai anaknya umur dua tahun nanti. Menurutnya, sampai detik ini kehidupannya normal2 aja.. sama dengan sebelum punya anak. Bedanya adalah kalau keluar lama (lebih dari 3 jam dan di siang hari), anak harus dia bawa karena sumber kehidupannya ada padanya. Semua2 disana dikerjakan berdua suami, jadi kalau dia bawa anak keluar kemana2, bukan karena suaminya nggak mau dititipi, tapi karena anaknya nyusu sama dia. Kalo suaminya bisa ngeluarin ASI sih nggak masalah anaknya sama suami. Tapi kan kenyataannya nggak gitu. Malah serem eimss.. kalo kejadian beneran? 😜.

Sebagai Ibu yang tinggal di LN dan anaknya masih nyusu langsung plus nggak ada nanny, saudara atau tetangga yang bisa dititipin. Setiap diajakin ketemuan sama temen, dia selalu bilang kalau dia harus bawa anak karena hal itu. Kalau ada yang keberatan, ya berarti mereka nggak bisa ketemuan atau biasanya dia selalu menawarkan ketemuan di rumahnya aja sambil makan siang atau ngobrol2 santai. Win win solution, dan memang seringnya kaya itu. Menurut dia banyak kok yang pengertian dan sampai detik ini belum pernah nemu yang membatalkan ketemuan karena dia bawa bayi. Temen gw ini masih bisa punya me time, walaupun memang mesti sadar diri kondisinya sekarang beda. Nggak mungkin dia me time nggak bawa bayi ya.. hidupnyapun bahagia aja selama berubah status dari istri ke Ibu, nggak ada beda frekuensi jalan2 tanpa suami atau nongkrong2 tanpa suami pun selalu jalan. Itu bukan berarti suami nggak mau dititipin anak, sekali lagi karena anak masih nyusu sama Ibunya. Terus menurut temen gw, selain hidupnya sangat bahagia tanpa harus terpampang nyata di media sosial, topik pembicaraan kalo ketemu orang juga nggak melulu tentang diaper atau seputaran anak aja. Masih ngobrol kok tentang politik, bola, sampai hal2 njelimet lainnya.

Mungkin hal ini nggak terlintas di benak mbak ratu cabe karena menurut dia kalo udah jadi Ibu (spesifiknya di Indonesia) yang diobrolin udah nggak asyik and terkini.

Padahal kita2 Ibu2 beranak disini masih suka banget looohh.. ngobrolin berita terkini sambil ngemil martabak kekiniaaaaan…

*MAU KITKAT GREEN TEA APA TOBLERONE KAKAAAAKK MARTABAKNYAAAA! NUTELLAAAA OVOMALTINE TIRAMISU JUGA BISA YHA!* πŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜‹. Yaaahh… ngiler beneran dah gw!

Martabak anaknya Jokowi: Markobar

Terus, apa sih definisi ortu (Bapak – Ibu beranak) yang keren di Indonesia? Apakah kalo ketemuan sama temennya yang single/nggak punya anak/nggak mau punya anak/nggak suka anak kecil, HARUS nggak bawa anak? Atau yang bisa gantian megang anak sama suami, persis situasinya kaya di LN? Sebagian orang mungkin bisa, sebagian lain bisa jadi tidak. Nggak bisa dibandingin.. nggak apple to apple, persis seperti kata mbak ratu cabe.. budayanya aja udah beda.

Berkaca dari pengalaman sendiri, gw pun kalo mau ketemuan sama temen yang masih single / belum punya anak selalu mengusahakan untuk sendiri kok. Weekend2, berangkat sama suami dan anak. Sampe mall (yeaaaa… emang di Jakarta umumnya meeting point ya disini :D), suami sama anak misah.. ke playground kek, dangdutan kek :P. Sementara itu gw ngopi2 barang satu jam-an sama temen. Seringnya malah reaksi temen kalo gw bilangin gitu bakal: “halah.. ajak gabung aja tuh cowok2 siniiih“. So, balik lagi.. semua tergantung orangnya πŸ‘ŒπŸΌ.

Kemarin ada seorang Ibu yang nanggepin cuitan mbak ratu cabe dengan frontal: “Gw sih kalo mau ketemuan sama temen pasti bakal bawa anak, kalo dia gak mau yaudah gausah temenan aja“. Si mbak komentator ini diserang netizen karena dianggap egois. Disaat bersamaan, di thread itu gw jg baca reply dari netizen yang ngasih tau bahwa di salah satu negara di eropa, Ibu2 yang masih nyusuin anaknya langsung juga biasanya bilang dulu kalo mau bawa anak waktu mau ketemuan sama temennya, karena anak nggak bisa ditinggal di rumah. Disinilah gw jujur ingin mengelus dada abang Ryan Gosling waktu membaca tanggapan mbak ratu cabe:

“Ya kalo dari pengalamanku ibunya nolak untuk ketemuan or aku ga bikin janji sama dia sih”

…………………………………………………………

(titik2 pembatas antara bengong dan shock kemudian terhempas kembali ke dunia nyata)

OMG! HAVE A HEART, PLEASE?! *semi ngejerit*

Who hurt u so bad, darling??

Gw ngerti… ngerti banget point mbaknya kalo dia nggak suka anak kecil. Tapi menurut Bang Rhoma gw, sungguh ter~la~lu.. kalo memang sampe someday dia punya temen yang beranak terus nggak mau ketemuan melepas kangen karena temennya bener2 nggak / belum bisa ninggalin bayinya di rumah. Kalo gw sih dipastikan nggak akan punya kejadian begini di masa mendatang sih.. wes kelaaarrr seleksi alam soale nggak akan punya temen macam begini. Terus.. apa bedanya dong mbak ratu cabe ini sama si mbak komentator yang frontal tadi dalam merespon sesuatu?

Lalu.. bok… kok lalu.. masih panjang apa gimana nih?? πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Gatau, ampe isi kepala gw kosong deh pokoknya gw terusin hingga mentok hihihi. Soal kenapa hal ini sampe bikin (mayan) heboh di jagat twitter. Nggak sedikit yang bilang kalo netizen khususnya Ibu2 di Indonesia pada baper kaya cacing kepanasan baca twit mbak ratu cabe. Yaelah.. bro sis.. kalo gw sih nggak apa2 dibilang netizen baper, YA EMANG KARENA GW PUNYA PERASAAN, BOSQUEEEE.. dengan mbak ratu cabe ngetwit soal temen2nya di Indonesia, para Ibu2 beranak yang kalo ketemuan pada bawa rombongan sirkus, bisa juga dibilang mbaknya lagi baper. Itu kan juga sedang menyuarakan ketidaknyamanan dia sendiri dengan menyalahkan orang lain. Tambahan: apakah gw baper ninggalin anak buat kongkow2 dan menikmati hari2 gw sebagai perempuan dan istri? Ya nggaklah.. selama memang anak dipegang oleh orang yang tepat. Eh, tapi ngomong2.. nyambung gak sih jek soal ini ikutan dibahas? *mikir keras bagai kuda*

So, enak khaaann baper? Gw sih demen banget! Bakwan sama lemper! *bagosss… tadi martabak, tambah2in ajaaaa biar makin laper πŸ˜‚.

Penutup ah, sesungguhnya.. ketika kita melempar opini ke publik memang harus paham dengan konsekuensi yang akan terjadi. Akan ada pro dan kontra, itu wajar. Kemudian, ketika kita punya prinsip atau pedoman hidup.. silakan dijalankan tanpa harus menyakiti pihak lain yang nggak sejalur / satu pemikiran. Perbedaan pilihan seharusnya disikapi dengan asik aja. Saling menghargai dan mengerti itu adalah koentji! Kemudian riset dulu.. sebelum melempar suatu opini ke publik, bukan berarti jadi dibatasi atau nggak boleh beropini sama sekali.. tapi kalo ada yang kontra, jangan dibilang baper atuh…

Sedi akutuuu…

Itu aja sih point gw sebenernya.. sama sedihnya kalo ngeliat perempuan yang ngerasa superior karena udah punya suami + anak terus menganggap perempuan lain yang belum menikah, belum punya anak, nggak mau punya anak itu menyalahi kodrat atau belum mempunyai pencapaian dalam hidupnya.

Sedi akutuuuu… (2)

Satu lagi dari Mayora.. gw juga nggak membenarkan tindakan netizen yang menghujat mbak ratu cabe dengan olok2 atau ucapan yang tidak sepantasnya karena nggak sepaham sama dia.

SEDI AKUTUUU… (3.265483729)

Kalau nggak setuju, kritisi! Bukan malah menjelekkan pribadi dan menyerang pilihan hidupnya.. apalagi sampe mengutuk. Emang situ Ibunya Malin Kundang??

Gitu ya netizen yang terhormat, have a heart (and brain) please? Akuurr.. 😊.

Gw rasa cukup sekian.. isi kepala gw udah kosong, meninggalkan pikiran melayang2 ke martabak, bakwan dan lemper. Semoga besok bisa nyicil direalisasikan satu2.

Having children is a choice you make, but it doesn’t mean once you have kids you are no longer exist as a human being. Not having kids is a choice too, but you have to respect other people’s choice for having kids as well, don’t be selfish and judgemental. Ohdearria

Salam cinta damai!

Neng mumun ❀️

(Salah satu Ibu beranak di Indonesia)

Advertisements

39 thoughts on “Achievement unlocked!

  1. Dilaaaa..akhirnya hibernasinya kelar. ranah blog sepi ni..

    Tullisanmu tuh baguuuus yaaa.. Selalu bisa runut menyampaikan isi kepala dan pemikiran secara logis. Gue ngikutin banget ni keramaian di Twitter ini. Kadang kalau sudah rame dan heboh itu memang jadi melebar ke mana-mana sih, tanpa tau awal mulanya bagaimana. Untung di sini sudah dijelasin semua..

    1. Waaaah dunia blog lagi sepi ya? Mungkin pada pindah nge-vlog ya? HI GUUUYYSSS! *ini anak lanangku akhirnya bisa ngomong begini hihihi πŸ˜›

      Yaaa, salah satu yang bikin nggak nyaman baca juga karena melebar kemana2 ya. Makanya walau cuma nyumbang setitik tulisan tp semoga bisa mewakili hati2 yang mencelos karena seolah2 Ibu2 beranak di Indonesia kok idupnya ngublek anak mulu. Padahal kaaannn
      ….. (isilah titik2 dibawah ini 🀣)

  2. Duhh, ngebedain budaya yang fyi sama yang sampe segitunya ribet juga ya. Aku team yang : mau ketemuan sendiri / bawa anak suami monggo kerso. Santai ajalah. Kalo jadi ribet / gak nyaman ya cabut aja. Mungkin termasuk frontal tapi daripada memaksakan diri kan gak gak bisa juga. Bikin diri nyaman aja sih intinya.

    1. Kalo intinya cuma ngebandingin budaya sih kudunya nggak perlu ribet dengan yang terjadi disini dan disana yes ehehe. Namapun lain ladang lain belalang πŸ˜€

      Walaupun kita sama2 Ibu / ortu yang jauh dari rombongan sirkus ya, Fran? Wong no nanny dll πŸ˜‚ *ini kudu bangga apa melas siiihhhhhhh

  3. Terima kasih Dil. Intinya memang komunikasi. Kalau ada yang mengganjal lebih baik komunikasikan secara langsung daripada jadi rasan2 dunia maya lalu menggeneralisir keadaan. Kalau tidak mau dibilang menggeneralisir, ya lebih baik ditambahi keterangan di awal. Bukan baper, tapi setiap orang punya perasaan. Dan kalau perasaan tidak dipakai, mati donk. Aku pribadi, seiring bertambah umur, mikir berkali2 dulu sebelum menuliskan sesuatu di media sosial. Bukan karena takut dengan netizen, tapi lebih ke arah : ada manfaatnya ga ini. Ya meskipun seringnya cuitankupun receh sedikit manfaat haha tapi minimal kalau dibaca lagi di masa akan datang, diri sendiri ga malu dan mudah2an juga ga ada pihak yang tersakiti oleh jempolku. Prestasi musim panas ya Dil hahaha. Mari salaman, sama2 pernah masuk infotwitwor πŸ˜…πŸ˜…*ga bangga sama sekali, malah kok ya lucu banget. Ya sudahlah, semoga jadi pembelajaran bersama.

    1. Yup, Den!
      Komunikasi.. maunya gimana, dan kalo memang nggak bisa direalisasikan ya jangan mencerca.

      Aku juga makin tua makin mikir ketika mau posting tentang apapun di dunmay. Terus sebisa mungkin pake bahasa yang bisa diterima, padahal kalo kata suamiku aseline aku judes 🀣.

      Prestasi kita kok gini amat ya, Deeenn… masuk infotwitwor, mbok ya apaan gitu huhahahhaa. Tp aku geli jg pas baca2 DM di IG soal achievement unlocked.. makanya tak jadiin judul sisan 🀣.

  4. mbak dilaaa pecah teluurr ngeblog lagi πŸ˜€

    aku kok jadi kepo sama twitnya ya.

    btw, ada bahan war war an lagi yg menyemarakkan kancah per-emak-an nih.
    kopdar bawa rombongan sirkus vs kopdar single fighter.
    sedih akutuuu (9934646x )

    1. Hihihi.. gatauuuu eike ga apdet war2an nih, bisikin dong?? *laaaaah 🀣

      Aku kopdar single fighter, nggak tau ntar kalo adeknya si mas udah lahir. Paling gak si bayi ikut aku laaaahh, masnya sama bapakeeee 😜

    1. Yeaaaayy, setelah hibernasi mbak Emmmm..
      Yes, begitulah intinya. Trus suka melebar kemana2 setelah ditanggapi oleh orang2, itu tidak bhaique jd harus diluruskan.. πŸ˜›

  5. Yeayyy dilla… Kambeeekkk… Dil baca ini ampe abis mpe gosong kue gue di oven.. Hahahahaa

    Netijen maha benar maha sempurna. Apalagi ntar baby number 2 lahir ya dil makin rombongan sirkus kalau meet up ama temen. Why not… Hahahaa

    1. Haeeee uppa Jooooo!
      Sini kasih aja, kita orang suka yang gosong2 🀣

      Iya.. netizen mah bebassss (padahal sini jg netijen baper bwehehehe). Ntar anak kedua gapake rombongan sirkus, Joo.. tetep my mommy / daddy is my nanny. SEDI AKUTUUUU~~~ *lah 🀣

  6. horee Mbak Dilla ngeblog lagiiiii!!!
    aku suka sama postingannya dan sukses jadi pengen makobar..

    netijen dan ibu jarinya ya mbak…lebih kejam dari ibu tiri x_x

    1. Hai mbak Iraaaaa, apa kabar? ❀️
      Aku tiap liat martabak selalu lemaaaah… nggak markobar/orins/pecenongan/pinggir jalan.. πŸ˜‚

  7. Wah baru aja seminggu lalu unfollow @infotwitwor, jadi gw kelewat live action Dila dengan achievement unclocked-nya deh πŸ˜€ Tapi warganet memang bener2 ya Dil, barbar πŸ˜€ πŸ˜€

    1. Huahhaahahahaha sebenernya itu account wor2an nggak terlalu berfaedah, Dit.. jarang ngikutin, tp tetep difollow πŸ˜›

      Yaaa jadi barbar kalo repliesnya udah melebaaaarr kemana2. Mendingan juga barbar makan martabak yesss *krucuk2* 😜

      1. Iya, dulu sih suka lucu-lucu. Mungkin aku butuh gosip dan deramah. Sekarang ga tau kenapa kerasanya banyak netizen komentar unfaedah, menebar aura negatif. Mendingan barbar sama markobar yaa…

  8. Dilaaa aku kepo nyari @ratucabe ko ga ada gitu, @RatuCabe hasn’t Tweeted kupikir dihapus sama yg punya ya haha. OMG ternyata orangnya yg itu yaa, sudah lama sih aq kadnag baca tweet dia, ga follow, entah bgm muncul aja di home twitterku..

    “ngangon anak ..” jadi dia kira wanita yg sdh punya anak itu berubah jadi bebek atau ayam, anak2nya itu anak ayam makanya dibilang ngangon anak kali ya hahaha.. kupikir dia sdh bukan wni gitu.. ah udahlah nanti malah aq kena damprat ybs. Dulu pernah tuh aq nulis unek2 di blogku, eh disamperin org marah2, pdhl aq bukan ngomongi dia haha.

    1. Waaaahhh itu kan disamarkan mbak Nel! Hihihi… tau ya mbak accountnya?
      Kalo aku follow di twitter belum lama sih, sejak dia ngetwit kebiasaan2 orang di negaranya (menarik kok isinya).

      Cuma memang ketika ada hal yang bikin nggak nyaman, dan menurut aku perlu diluruskan (at least aku dan banyak Ibu2 yang kukenal nggak seperti yang dia cuitkan).
      Terus penasaran jg, emang bener yang dia twit soal Ibu2 beranak di LN tuh gitu? Soalnya setauku nggak segitunya jg… ada kondisi2 yang emang “menuntut” anak melekat sama Ibunya dulu… at least di awal2 hidup si anak ya, dibawah setahun biasanya.

      Eh emang pernah mampir blog juga ya? Aku malah nggak tau, jangan2 pas mbak Nela tutup tab comment *jadi inget cuma bisa like tapi gak bs komen* hehehe

  9. Ahahaaa aku tau siapa ini, Dil!! Good on you, DilπŸ™Œ

    Kalau dulu jaman the boys masih balita, biasanya kalau mau ketemuan malem hari kita memang ga bawa anak, jadi harus sesuai dengan jadwal kerja suami masing2 utk dititipin anak, karna masa’ mau dinner cantik dan clubbing (yup, biar uda jadi emak2 clubbing kudu exist dulu😻) bawa2 toddler sik. Tapi kalo ketemuannya siang hari, ya aku tetep bawa 2 jagoan aku itu yang as a toddler buandelnya minta ampun omgπŸ‘» Atau kalau janjiannya di resto yang ga memungkinkan untuk bawa 2 anak yang ga bisa diam, yah aku either ga dateng or suggest next day dimana d boys lagi di kindy.

    Hidup di luar negeri tanpa nanny dan ART dan punya anak ya uda resiko memang kalau mau ketemuan lunch dengan orang yang ga punya anak or masih single, harus siap dengan kondisi emak2 dateng pake stroller dan ngobrol sembari digangguin anak. Having children is a choice you make, but it doesn’t mean once you have kids you are no longer exist as a human being. Not having kids is a choice too, but you have to respect other people’s choice for having kids as well, don’t be selfish and judgemental. That’s my opinion anyway. xx

    1. Mbak Riaaaaa!

      Iyalah, ganti status dari perempuan / istri ke Ibu or dari laki2 / suami ke Bapak kan memang sejatinya nggak bikin kita juga akan ngublek anak terus ya. Jadi kalo dibilang para ortu di LN butuh refreshing dan normalitas layaknya waktu mereka belum pny anak = ya samaaaa, nggak di LN nggak di Indonesia. Nahhh masih butuh clubbing kan ya, mbak Ria?? Tau nempatin diri laaaah kl gitu ya gabakal bawa anak.. tp ada waktu2 yang memang anak (jatohnya jadi harus) dibawa karena keadaan. Udah jadi ortupun kita jg mesti punya waktu “pacaran” bedua kok ngelayap kemana gitu tanpa anak (kalo aku).

      Btw dulu temen yg masih single suka pake istilah, “kalo ngajak Dila ya satu paket” soalnya emang waktu itu anak masih nyusu hihihi. Dia ngerti2 aja status temennya yang udah berubah.

      Eh boleh ga sih aku repost tuh quotesnya, kece banget deeeeh… ntar gak lupa kok cantumin sumbernya.

      Thanks, mbak Ria! ❀️

      1. Hahaaa iya dwonk, biar uda jadi emak2 clubbing sekali2 ga dosa kan😜😜 Begitu juga dengan β€œpatjaran” dengan ex patjar yg uda jadi suami, biar tetep hawt kan🀣🀣 Kalo aku sekarang kalo mau ngedate berdua harus nunggu the boys nginep dirumah temennya dulu biar ga usa nyewa baby sitter, eh bukan baby sitter deh krn mereka uda bukan baby lagi😝😝

        Boleh aza Dila aku orangnya ga pelit koqπŸ˜›πŸ˜›

      2. Api2 itu harus dijagaaaaaaa yesss! Biar hawt like meh! *plakkkk* 🀣πŸ”₯.
        Aihhh udah pada abege ya the boys ❀️

        Done ya mbak Ria udah aku insert di blog aku quotesnya yg kece, thanks! 😘

  10. Mbak Dila salam kenal. Ngos-ngosan baca dari awal sampe akhir. Intinya bakwan dan lemper memanglah juara rasanya *lhah?
    Never ending fighting ya hal-hal seperti ini. Padahal ya mau bawa anak atau tidak ya dibawa shantay aja, yang penting saling komunikasi dan toleransi

    1. Jangan lupa martabak! πŸ‘ŒπŸΌπŸ˜œ.
      Salam kenal juga mbam Imelda. Yaaaa yang penting komunikasi dan saling pengertian ajaaa… gitu sih 😊

      1. Dan setelah kumenemukan twit si mbak Cabe itu…aha ternyata si mbak itu punya blog juga dan selama ini komen2 beliau selalu menghiasi blog2 lain yg kufollow…pantes kayak ga asing sama wajahnya pas lihat di Twitter xixi…..

  11. hiks kadangpun gue klo di HK mau ktmuan trus anak gada yang bisa dititip yaa mau gakmau dibawaaaa … moso kudu gue titipin koko di mongkok πŸ€¨πŸ˜πŸ˜…

    Bener tuh yg quotenya mba ria, mau punya anak n gak punya anak pilihan dan hormati aja jangan mentang2 pilihan childfree tapi kerjaanya nyinyirin masalah buibu yang rempong sama urusan per-anakan . Malah adalah yang mirip ama si ratu cabe ini pemikiranya, nyinyirin anak orang ampe di kata2in kebun binatang keluar semua. Sediihh ih… pasti dulu kecilnya gak pernah makan pake micin πŸ˜‚πŸ˜‚

    1. ((( TITIPIN KOKO DI MONGKOK ))) 🀣🀣🀣.

      Epic booook!
      Yes, pointnya itu ya.. saling hormatin pilihan orang. Etapi gak semua yang memilih untuk childfree itu gak suka anak kecil sih, temen gw di Melb tetep suka anak kecil dan main2 sama anak2 temennya.. walau emang dia gamau punya anak dari rahimnya. Kan enak yaaaa kaya gitu, nggak ngeribetin orang lain mo ngapain.. gw nya juga respect kalo mau jalan sama dia pasti cari waktu yang passss gitu.

      Kalo yang sampe nyinyirin anak orang itu sih levelnya udah zero banget buat gw, perempuan dewasa matang kudunya punya pikiran n hati ya untuk ngelakuin sesuatu.. apalagi sampe ngata2in keluar kebun binatangnya.. duhhhh mau ngelus dada siapa kita nis? Ryan Gosling apa Ryan Reynolds?? 🀣🀣🀣

  12. Salam kenal mbak, saya juga kebeneran follow itu cuitan. Saya setuju sama mbak harusnya seorang dewasa bisa menghormati pilihan masing2. Biarpun saya golongan emak tidak berpengabdian, alias kalo saya cuti saya kongkow dan anak tetep di daycare, anak umur 2 hari udah dikasih sufor demi saya bisa tidur, kalo anak orang laen teriak2 di restoran rasanya pengen ngegetok dan even anak umur 5 bulan masuk RS saya malahan bisnis trip. Eh saya memang emak durhaka kayaknya.

    Tapi ya sudahlah biarlah saya durhaka sendiri, ga usah ngajak2 emak2 beranak lainnya jadi durhaka. Lebih aneh lagi temen2 saya malahan demen amat kalo dengan tumbennya saya ajak anak saya kongkow. Ini malahan temen yang kagak punya anak yang paling demen. Sama yang punya anak malahan kita mengadakan acara ladies only.

    On the other hand orang mau punya anak 5, anak tunggal *kayak saya*, atau kagak punya anak by choice itu bukan urusan saya. Suka2nya ybs selama kagak ngerepotin orang lain.

    1. Hi mbak Beatrix, salam kenal juga ya.
      As long as kita happy ngejalanin peran kita jadi Ibu / istri / perempuan.. mau gimana aja sumber bahagianya pasti semua bakal beres and no drama yes? πŸ‘ŒπŸΌπŸ˜Š

      Btw, kalo lg kongkow sama sesama moms yang diomongin nggak seputaran diaper, skolahan sama printilan bocah doang kan??
      Oh pweaseee.. hihihi.

      Kalo saya sama temen2 paling cm 5 menit doang, selebihnya dari Jokowi sampe Ryan Gosling! πŸ˜›

  13. Rasanya tahu. Menurutku bila membaca opini seseorang, tidak perlu fokus pada opininya. Lebih baik pelajari latar belakangnya mengapa seseorang bisa sampai berpendapat seperti itu. Kadang hal-hal yang tidak bisa dikatakan jauh lebih penting dari apa yang dikatakan. Niscaya kita akan mengerti…

    1. Komen yang berbeda dr yang lain nih. Boleh2 ditampung.. tapi aku sendiri berpendapat, untuk pelempar opini pertama yang harus haruuussss lebih mempelajari lagi dan melihat kira2 statement yang keluar akan berakibat bagaimana. Kalo kira2 bakalan β€œchaos” ya ditahan, nggak perlu keluar. Daripada lempar opini dulu, klarifikasi belakangan.. ehehehehe. Tp ya nggak apa2 jg sih. Makasih komennya ya.

      1. Sama-sama mbak. Iya aku setuju banget dgn menahan diri itu. Aku lihat opini menohok di dunia maya, tapi ya itu akan selalu ada dan mustahil menyikapi satu persatu. Jd kadang aku suka melihat pesan yg tersirat. Misal ada org yg beropini tajam sana-sini bisa jadi sebetulnya yang seseorg itu ingin bilang dia dunia nyata kesepian, banyak kecewa, merasa teralienasi, tdk bahagia karena tdk menemukan org sepemikiran. Kdg semua opini itu tdk 100% ttg diri orang lain. Lebih banyak tentang diri yg beropini sendiri…btw suka tulisan2nya mbak. Jd follow di twitter deh

      2. Iyaaaaa aku paham maksudmu kok 😊. Setuju juga.. kadang memang tulisan spontan sebenernya refleksi dari apa yang kita rasakan di lubuk hati yg terdalam ya hehhee.. terus kalo ketemu temen yang sepemikiran jadi makin seneng. Balik lagi, harus saling menghargai sama yang berbeda jalur ya πŸ€—.

        Woooh, oke nanti aku ke twitter heheehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s