Tentang hak anak di media sosial

Hancur hati ini membaca berita kemarin tentang terungkapnya group facebook berisi gerombolan pedofil yang meng upload foto2 anak berikut berbagi saran dan berbalas komentar tentang cara2 merayu anak sampai bisa berbuat asusila sama mereka. Untuk nulis ini aja rasanya jari saya gemeter lho. Merasa sedih dan ingin mengutuk, yang berlanjut dengan pertanyaan sama diri sendiri: apakah kamu udah bener2 ngasih hak si Bocil di media sosial?

Akhir tahun lalu saya punya tulisan tentang memajang anak di sosmed, yang saya proteksi dengan password karena merasa tulisan itu nggak perlu dibaca orang lain. Berhenti di saya aja, kenapa? Jaman sekarang sangat mudah untuk suka atau benci sama seseorang berdasarkan tulisannya, atau apa yang dia tampilkan di dunia maya. Saya mencegah itu terjadi ke diri sendiri. Ehem.. lagi hidup di perantauan, kalo udah jadi minoritas terus masih di benci orang2 (Indonesia) disini yang kebetulan baca tulisan saya kan nggak enak juga.. 

Dari sisi pengguna sosial media yang lumayan aktif, dan sebagai orang tua (Ibu). Saya bisa bilang: Ya, memang susah untuk tidak pamer kecakapan anak. Kecakapan itu bisa diartikan dari fisik, kepandaian, misal: udah bisa merangkak, ngomong, ngitung, nggambar, koprol, salto you name it. Belum prestasi2 lain yang di dapat dari lingkungan anak (sekolah, tempat les dll). Terkait sama topik bahasan saya, kemarin saya lihat di timeline twitter tentang mengupload foto/video anak dan korelasinya dengan resiko menjadi korban pedofil. “Menjadi korban” bisa di artikan juga dengan “tersebarnya” foto2 anak kepada penikmat yang tidak tepat sasaran alias para pedofil itu. Seru sih, ada pro dan kontra. Apakah iya, mengunggah foto2 dan video anak di media sosial berpotensi untuk mengundang pedofil? Sedangkan praktek kejahatan pedofilia sendiri kan sudah jauuuuh ada sebelum adanya media sosial. 

Ini saya ya: media sosial yang masih saya pakai adalah Instagram dan Twitter, gimana dengan Facebook? Udah nggak make, tapi masih ter install di HP. Apakah saya upload foto anak di medsos? Yes, Instagram.. sekarang sih sesekali banget dengan posisi muka (di usahakan) tidak terekspos. Let me tell you a story.. Akhir tahun lalu saya sempat men-deactivate IG saya selama satu bulan lebih, kenapa? Selain alasan utamanya supaya tidak terdistraksi dengan gadget dan mengganggu real life. Beberapa kali saya dapatkan ada user/ follower heboh stalking foto Si Bocil, bahkan sampai postingan tahun 2013. Account2 ini nge likes bahkan ada yang komen minta upload foto atau video2 lagi. Hanya di foto anak saja, bukan foto2 masakan apalagi saya. DEG! Nggak lebay ya, rasanya saya lemes.. Sebagai orang tua Bocil saya sih RISIH banget ada followers yang kaya gitu (dan nggak cuma sekali), kita nggak tau juga kan identitas dia yang sesungguhnya.. creepy! Kemudian kejadian lagi di FB, ada account yang ambil foto2 saya dan Bocil kemudian di pajang di Facebooknya. Padahal account saya itu terproteksi sedemikian rupa. Itu juga bikin saya deactivate account, walaupun setelah summer holiday di buka lagi sih.. karena ada parents closed group sekolah anak saya disana, dan saya masih butuh info2nya. 

Contoh Ibu2 ngeksis anaknya enggak.

Tahun 2014, saya nggak sengaja nemu tulisan mbak Yoyen tentang Sharent. Di tahun itu pulalah saya nulis tentang media penyimpanan rekam jejak anak saya, yaitu di e-mail. Alih2 menggunakan medsos (yang di fungsikan sebagai “external hard disk”), saya buat e-mail dengan nama anak saya untuk saya kirimi foto2 dia dan biarkan tersimpan disana. Supaya nggak membanjiri feeds Instagram dan sepertinya kans gmail untuk masih eksis keberadaannya saat anak saya remaja itu lebih besar daripada medsos. Masih inget kan sama nasib Friendster? Cerita selengkapnya ada di SINI

Beberapa komen pernah saya dapatkan tentang keberadaan si Bocil di medsos yang mulai jarang terlihat. Komen2 seperti: “Mamanya mulu nih yang nampang, anaknya dooong“, atau “kaya anak artis aja ih mukanya diumpetin“. Kalo saya yang di komen begitu sih nggak masalah, lawong medsos medsos saya.. masa yang ngeksis Rafi sama Nagita? πŸ™„. Ya saya sendiri dong aaah. Pernah di tahun 2013, waktu saya masih lumayan aktif memajang anak saya di Instagram (padahal kadarnya masih bisa di toleransi lho). Ada account yang komen di foto Bocil yang posenya kala itu abis minum smoothies: “kok bangga sih majang muka anakmu yang jelek itu?“. 

Sudahlah saya nggak mau bahas rasa sakit hati saya waktu itu. Yang jelas gejolak kawula (Ibu) muda saya meletup2. Habis itu saya jadiin reminder sih, ngapain juga masang muka anak lagi belepotan, walaupun menurut Ibunya lucu? Belum tentu juga anaknya mau digituin. Habis itu, timbullah aksi saya ngurangin upload foto anak di medsos, juga hapusin foto2 yang sudah terlanjur di upload dari Instagram / facebook masa lalu. 

Widih.. panjang juga ya udah kaya cerpen, jangan sampe jadi cerbung. Mentang2 malem minggu nulisnya semangat, berapi2 kaya ABG abis diapelin. Yowes, saya hanya berdoa aja semoga kejahatan terhadap anak musnah dari muka bumi ini dan para pelaku di beri hukuman yang setimpal. Tentang pilihan untuk memajang anak di medsos kembali lagi ke masing2 orang tua. Walaupun prinsip saya dalam memajang anak di medsos itu adalah less is more, saya nggak akan judging ortu yang melakukan sebaliknya atau “mengatur” harus begini atau begitu. Lebih ke nggak peduli atau nggak mau ikut campur kali ya sebenernya. Kan bukan anak saya :)). Salam untuk jiwa2 suci titipan Tuhan di belahan bumi manapun. Semoga kita bisa menjaganya dengan baik dengan caranya masing2. Aamiin.

Advertisements

61 thoughts on “Tentang hak anak di media sosial

  1. aku juga lihat beritanya, pertama kali tau dari lambe turah, baca komentar mereka di grup bikin merinding ya mbak, nyeremin, jahat kok sampe sebigtunya 😦

  2. Akhirnyaaa Dill.. ada yang menyuarakan pemikirankuu.. Bukan apa-apa.. Aku masih speechless dengan peristiwa itu.. Ini yang belajar jadi ortu aja masih nabrak sana-sini.. duh para ortu, yang ‘tanpa sadar’ turut serta memperkosa hak anak di sosmed. jangan pingsan doong!

    Dan itu komentar followermu Dil.. Maaygaat!! emangnya siapa dia? TT_____TT (aku yg baca aja ikut tersulut emosi)

    1. Iya mbak, berarti kita di sisi yang sama lah ya soal pemikiran memajang anak ini. Pilihan masing2 ortu sih, tapi aku pribadi sih nggak akan rela kalo foto / video anakku dijadiin “bahan” sama pedofil. Sick!! Ugghhhh..

      Itu follower edan, dia melakukan itu nggak cuma sama aku ternyata. Ada anak Ibu lain (satu circle) denganku yang dikatain juga. Another crazy people on Instagram who make me sick, lol!

    1. Bisaaaa, tapi kalo kelamaan bisa di delete beberapa fotonya sama IG team. Terus kalo sering2 deact-active-deact gitu juga accountnya bisa permanently deleted πŸ˜‚. Makanya aku aktifin lagi gara2 itu sih..

      Nggak kenal! Entah siapa follower di Instagram aku mbak Feb, semoga dia mendapat hidayah lol *aku anak sholeh mode: on

  3. Ya ampun Dil, jahat banget yg komentar gitu. Sampai fisik segala dibawa. Habis makan apa orang itu.
    Waktu awal nikah (masih suasana bulan madu), ada pertanyaan dari suami apakah nanti kalau kami punya anak, aku akan majang foto di medsos? Aku waktu itu jawab, ya iya donk pasti. Lha wong aku narsis dulu, apa2 upload di FB πŸ˜… jadi kalau punya anak, wajib hukumnya juga upload. Suami ngasih saran, lebih baik dipikirkan dampak ke depannya karena kejahatan internet dan karena anak juga punya hak untuk berpendapat apakah fotonya bersedia diunggah atau tidak. Lalu aku merenung dan setelahnya baca tulisan2 Mbak Yo dan baca beberapa artikel. Akhirnya jadi mikir. Dan akhirnya bilang sama suami, nampaknya aku ga akan mengunggah ataupun bercerita apapun ttg anak di medsos termasuk blog (semoga konsisten terlaksana). Mulainya tentu dari diri sendiri, ya puasa FB dan IG (akun IG malah wes punah). Aku sadar, kalau ga mulainya dari aku, ya terus dari siapa lagi. Suami ga doyan upload2 atau cerita hal2 pribadi ke dunia maya. Tapi aku juga sama kayak kamu Dil, ga akan menghakimi mereka yg mengunggah foto atau video anak2. Hanya akan selalu tetap berbagi informasi tulisan2 Mbak Yo atau artikel2 yg berhubungan dengan kejahatan Internet. Ngeri lho kalau baca2 sindikat di dunia Internet itu.

    1. Iya Den, ternyata “korban”nya nggak cuma aku.. ada Ibu2 lain (di circle ku) yang kena juga. Udah kumaafin kok tapi orangnya 😊.

      Bagus lho Den, udah punya kesepakatan sama suami soal itu. Semoga nanti bisa konsisten, dengan mantap kudoakan 😊. Memang nggak aku pungkiri sih, rasa ingin pamer anak itu memang menggebu Den.. Aku rasa itu juga yang dialami oleh banyak ortu baru, kebanggaan akan kepintaran anaknya sayang banget kalo berhenti di mereka aja. Seluruh dunia harus tau. Karena ujung2nya compliment nya kan ke ortunya. Anak pinter = karena orang tuanya pinter (ngajarin/ ndidik). Its OK lah, nggak salah juga kok bangga sama anak.. cuma buat aku sendiri memang sekarang nahan banget untuk nggak membagi “prestasi” anak via medsos. Buat aku sekarang yang penting anak tau kalau aku menghargai apa yang dia kerjakan (simple lah dari ucapan terima kasih, pujian, pelukan) insyaAllah mengena buat dia. Akupun masih banyak belajar dan banyak error nya jadi ortu πŸ˜‚πŸ˜‚.

      Makasih sharing nya ya, Den.

      😘😘😘

      1. Salah satu keuntungan punya blog bareng suami, kami satu sama lain bisa saling kontrol dengan apa yg akan ditulis atau dibagi cerita. Jadi pas waktu awal 2015 waktu pindah ke Belanda, aku bilang ga akan mau cerita apapun ttg kehamilan, melahirkan dll di media sosial (kecuali pas bagian keguguran, karena ingin berbagi cerita bahwa keguguran sesungguhnya bukan aib dan dunia medis pun tidak tahu penyebabnya apa). Dia seneng. Waktu itu aku bilang, biarlah orang2 di dunia nyata yg tahu karena kita kan ga bisa kontrol siapa2 yg baca blog atau twitter, jadi rasanya memang ga perlu bagi kami untuk bagi2 info ttg anak. Yang penting adalah keluarga dan teman2 yg ketemu secara nyata. Karena anak pun sejak dalam perut ada haknya yg untuk dilindungi sampai dia bisa berpendapat dan bertindak sesuai yg diinginkan dan penuh kesadaram. Bener banget Dil, rasa bangga itu meledak2 ya dan membuncah. Terima kasih juga Dila sudah menuliskan ttg ini. Kerasa banget tulisanmu ini datangnya dari hati.

      2. Mbak den, ikutan nimbrung komen yak. Terimakasih udah diingetin soal hak anak sejak di dalam perut untuk dilindungi. Huhuhu aku masih PR banget soal ini 😒

      3. Sama2 Na. Tapi balik lagi, ini tentang kesepakatan kami Na. Dan masalah kenyamanan serta mikir kedepannya biar ga ada yg merasa dirugikan meskipun anak atau suami sendiri, bahkan diri sendiri. Melihat dari kacamata yg berbeda dan mencoba membuka hati serta pikiran, ga (egois) kebanggaan diri sendiri yg dipikirkan. Dan masing2 orang memang berbeda penyikapan. Tergantung dari masing2 orang (dan pasangannya).

  4. Aku ! Aku! Abis baca status teman yg mengingatkan ttg bahayanya penyakit ain dan juga jika foto anak kita dicuri orang (untuk kemudian dipake buat apapun itu lah ya). Lgsg foto dan video muka anakku di Path, aku hapusin. Padahal baruuuu aja seminggu ini memberanikan diri untuk upload2 yg keliatan wajahnya dia. Dan padahalnya lagi, itu di Path lho yg notabene lbh selektif temen2nya dibanding medsos lain.

    1. Iya, nggak rela kan kalo foto anak kita dijadiin “bahan” buat para penjahat itu ber fantasi. Majang anak di Path itu yang liat juga bener2 orang yang kita kenal ya mem.. tapi ngeliat kasus kemaren itu sih mendingan NO.

      Aku masih pasang foto anak sih di medsos, tapi sebisa mungkin muka nggak terekspos. Bodoamat deeeh dibilang sok artis. Anak parangtritis! :)))

      1. PR berikutnya adalah gimana ini Instagram akuπŸ˜…πŸ˜… mau delete account kok eman fotonya. Kayaknya followernya mau di-0 kan aja deh.

      2. Lho, aku follow IG mu lho yang ndutyke. Udah gak aktif ya? Deactivate ajaaaa sampai waktu yang tak ditentukan. Fotonya kan gak ilang hihihi. Kalo di nol kan aku nggak ngerti caranya :’))

      3. Ooow bisa ya deactivate tp fotonya tetteup. Klo di-0 kan itu ya kita manual klik satu-satu, hehehe. Wokey deh mgkn ntr aku deactivate aja

  5. Post ini buat refleksi diri para orang tua. Pedofil, LGBT, atau apapun namanya. Semoga musnah dari muka bumi, tapi setan mah musnahnya akhir jaman ya. Huh! Sebenernya saya posting pas ada moment tertentu aja / lagi kepengen. Kalo biasa2 aja jarang posting foto. Yang bikin dilemma (di saya):
    1. Majang foto sendiri (atau foto memory di FB trus shared lagi) ada teman yang komen: ustadz A, B, C, dst bilang, wanita muslimah gak boleh posting diri. Karena haram bila dinikmati yang bukan muhrim. Instead saya bukan yang demen selfie, lebih seneng foto2 seru.
    2. Majang foto anak, ngeri jadi inceran pedofil atau malah dibully. Semoga yang ngebully anakmu, anaknya sehat cakep sempurna tanpa cacat.

    1. Iya Fran, ini refleksi untukku juga sih. Rasanya jadi ortu di jaman ini makin banyak peer dan tantangannya.

      1. Iya emang bener sih, kalo mau nurutin syariat emang banyak hal yang di langgar. Tinggal kitanya gimana, Fran. Kalo aku masih demen banget tuh ngeksis model begitu. *piss*

      2. Yaaa aku udah maafin kok yang bully itu, semoga hidupnya bahagia πŸ™‚

      Thank you ya, Fran 😊

  6. Mbaaak Diiill….gendeng banget yg grup kemarin heboh itu. Astaghfirullah, ngelus dada banget pas baca.
    Aku nih, anak masih di dalem perut aja udah suka kuekspos. Next, mungkin aku harus lebih nahan diri aja biar ga overshare.

    1. Ngeri ya, jeng Nana. Soal overshare itu sih menurutku beda2 ya batasnya masing2 orang. Ada yang menurut kita biasa aja, menurut orang lain lebay.. kalo aku pribadi sih masih share foto sendiri / anak, tapi ada batasan2 yang aku terapin ke diri sendiri.

      Sehat2 yaaa 😘😘

      1. Aku mungkin masih bakal tetep cerita2 di blog soal anak, karena mungkin apa yaaa….bagiku semacam kenang-kenangan buat nanti. Tapi jujur yak, selama ini aku suka banget baca blognya temen2 yg share soal cerita keluarganya, anaknya, kesehariannya. Seru aja baca cerita sederhana yg kayak gitu. Dan lagian, mungkin kalo ada yg share soal parenting, tipsnya bisa ditiru.
        Iya ya, batasan tiap org beda2. Sek sek, nanti aku tak mikir lagi batasan apa yg bakal kuterapin buat diriku sendiri soal share share gini.

        Oh ya, komen oot soal batasan, kemarin di sini ada yg heboh juga soal seseorang yg bunuh d*r* lalu dia siarin secara live di FB. Nah, ini di luar batasnya kebangeten 😒

      2. Etapi, sejauh ini batasan yg kubuat dan kutaati buat diriku sendiri adalah jangan pernah nyebutin lokasi rumah, kantor, tempat berada, ataupun identitas yg ga sengaja lengkap di semua medsosku.

      3. Agree!! Nanti kalo anak udah lahir, dan bertumbuh kembang ya tempat main anak, sekolah, les dsb yah πŸ˜‰ πŸ‘ŒπŸΌ

        Samaan kitaaaaa!

      4. Samaaa kok, tos! Aku penikmat family blogger hihihi. Nggak cuma di blog, di Instagram juga. Aku juga masih suka tulis2 soal keluarga di dua platform itu. Jadi konteks pembatasannya berlaku ke diriku sendiri ;). Kan masing2 orang punya tujuannya sendiri2 untuk ngelakuin sesuatu, dan pastinya udah tau plus minusnya.

        Aku baca tuh soal bunuh diri di FB. Entah lah ya.. pelajaran juga kalo depresi nggak bisa diabaikan. Kaya bukan berita di Indonesia ya, Nana.. :((

  7. Bagus Dil kalau makin banyak yang sadar tentang ini. Aku antara senang/ngga senang karena perlu sampai ada kejadian perkumpulan pedofil ditemukan sampe orang jadi sadar tentang melindungi privasi anak di dunia maya. Aku kan rajin mengingatkan ini baik di blog maupun di Twitter tapi ada beberapa orang yang ngga suka diperingatkan seperti ini, sikapnya kan ini anak gw, bukan urusan loe.

    Mungkin parno kesannya tapi karena menghormati anakku aku sampe gembok Instagram sejak Januari lalu. Menjaga privasi anak di dunia maya bukan hanya mengurangi berbagi foto dan dara diri dia tapi juga pilih berbagi foto dan data diri kita.

    Makasih udah tulis ini dengan link ke posku juga. Spread the word!

    1. Waaah.. aku ke skip komen ini mbak Yo, nggak baca :). Sama2 mbak, jatuhnya kalo aku sih sekarang lebih ke diriku sendiri.. karena masih mikir: orang lain terserah deh, hak mereka, (jikalau ada) resiko juga mereka yang nanggung. Walaupun kadang mikir, dulu gadis kecil A di Bali yang kasusnya sempat heboh karena di siksa keluarganya sendiri itu bisa tidak terpantau juga karena acuhnya lingkungan sekitar.

      Mungkin di jaman yang udah ngeri begini aku lebih memilih untuk parnoan. Better safe than sorry. Akupun gembok Instagram aku, tapi karena ada sesuatu hal kemarin di buka lagi.

      Semoga kita dijauhkan dari hal2 yang nggak baik ya mbak. Aamiin. Makasih 😊

  8. Terlepas dari soal hak anak di media sosial, serba serbi posting foto di sosmed itu suka serba salah. Kl posting diri sendiri dibilang sok kece sok selfie mulu etc, posting makanan/traveling/kegiatan lg nge-gym dibilang sok pamer sok ini itu…jadi sebenarnya yg oke itu yg kayak apa sih? Intinya, orang2 suka men-judge, me-label orang lain, ga semua memang tp sebagian ada yg spt itu. Kalau menurut aku pribadi, mo posting apa pun di dunia social media harus berani menanggung resiko sendiri. Dan sepanjang kadarnya moderate dan ada filter it’s up to the owner of the social media to post. Misal, posting 1st day anak masuk sekolah mungkin ga perlu kasi liat jelas muka si anak/nama sekolah etc. My boys sekarang uda susah untuk difoto , dan mereka juga ga mau foto2 mrk dipajang di sosmed. Jadi aku harus nanya dulu ke mrk kl mau posting muka mereka, kl mereka bilang ok baru aku posting. Makin besar anak2 makin ga mau difoto loh, entah apa cuma anak2 aku aza kaliπŸ€“

    1. Anak akuuu! Susah banget di foto, cowok, padahal baru mau 5 tahun πŸ˜‚. Iya, tulisan aku disini juga soal perlindungan anak aja kok mbak Ria, nggak merembet kemana2. Kalo batasanku sekarang sih sebisa mungkin posting foto anak yang mukanya nggak terlihat jelas, sekolahannya juga nggak ku expose.

      Kalo soal posting diri sendiri (selfie), makanan, masakan, travelling, nonton konser dan segala keeksisan yang dituangkan ke medsos itu sih semua aku lakuin. Bodo amat mau dibilang apa :)). Bebal banget akuuuu, kan medsos aku. Aku gak suka di judge / di label, jadi jangan sampe begitu juga sama orang lain. Ya nggak? 😊. Selama kita happy dan yang di share itu real nggak fake ya go ahead..

      Tapi kalo soal anak, iya.. aku membatasi ;). Thank you komennya mbak Ria 😊

      1. Betul Dila, kl ga apa gunanya punya sosmed dwonk kl ga posting2 yg kita suka yah. I tinya people will still talk or judge you no matter what. Mungkin uda nature-nya orang ya.

        Sama d boys skrg susah kl mo di foto. Tp pas umur 5 gitu sih masih mau meski aga susah krn maunya lari2 mulu. Happy Sunday, darl!😘

      2. Iyessss we’re on the same page deh kalo itu 😊. Aku lagi mau masuk nonton Adele nih mbak Riaaaaa, happy sunday to you! Have a great one 😘

  9. Di satu sisi aku gak heran karena di ajaran agamaku dikasih tau kalo menjelang akhir zaman kehidupan akan semakin jahat, di sisi lain gak habis pikir sama orang-orang ini kok gak bisa kontrol napsunya yah.. Kayak gada kerjaan lain gitu lho selain begini2an :/

    Semoga keluarga mbak Dila aman2 aja yah khususnya untuk anaknya, amin~

    1. Aamiin Ge, thanks yaaa..

      Kurang lebih sama lah, di Kitab ku juga diceritakan tanda2 akhir zaman itu sungguh edan. Semoga kita semua masuk dalam golongan orang2 baik yaaa, aamiin ☺️

  10. Suka banget sama postinganmu ini Dilaa.. thanks for sharing yaa.. aku pun gembok IG (medsos paling aktif yg aku ikutin dan byk juga posting ttg anak) aku ngeri karena jaman semakin jahat yaa.. dan aku pun gemas sama komen kek yg kamu ceritain ituu.. kadang kalau ngomong gk dipikir dlu asal jeplak aja.
    Semoga semua anak2 dilindungi dari tangan2 orang jahat yaa.. amin.

    1. Sama2 ya El.. aku cuma nulis apa yang jadi concernku aja. Semoga nggak di tangkap lain sama yang baca (yang kontra dengan prinsipku soal anak ini). Iya biar deh, Orangnya nyari panggung tuh.. udah aku maafin eniweii…

      Haduh nih challenge aku malah belum kuurus lagi :)))

  11. Aku juga gregetan pas baca beritanya, Mbak. Haduuuhhh, bikin elus-elus dada deh.
    Dulu aku pernah baca juga post Mbak Yo yang tentang sharent dan setuju bahwa anak itu juga punya privasi dan hak, walaupun waktu kecil mereka ga bisa menyuarakan apakah mereka oke atau nggak untuk di publish di medsos.

    Duh, itu yang ngomong begitu mulutnya mintak dicabein kali ya Mbak. Aku yang baca malah emosi lho, bisa-bisanya ngomong kayak gitu.ckckckckck

    1. Iya mbak Wulan.. setuju anak harus dilindungi, walaupun keliatannya sepele: medsos. Tapi aku sendiri nggak akan kasih penilaian sama yang kontra sama prinsipku ini. Semua orang punya aturan dan batasannya masing2.

      Soal orang yang ngomong sembarangan itu udah aku maapin kok :P. Sayang energiku abis sama dia nanti hihihi

  12. Suka banget postingan ini Dil. Jujur aja aku gemes kalo lihat orangtua muda yang saban hari foto anaknya pasti dipost… lagi mandilah, lagi minum susulah, pokoknya everything yang ga penting semua dipost. Belum lagi ada yang niat sampe bikinkan anaknya hashtag atau bahkan account sendiri di Instagram…. nah suami kan kerja di bidang criminal law dah lama banget. Makanya aku mah tau pedofil tuh dmana2… ampe kl kita punya anak aku dah bilang posting foto yg sewajarnya aja. Pas lagi ada event kek. Dan pastinya pake baju tertutup dan sopan! Dan harus di-private fotonya dsb.

    1. Iya Mar, euphoria ya.. aku dulu jaman masih baru punya anak posting2 juga, nggak tiap hari dan dikit2 aja. Itupun bikin aku nyesel sih. Di sekelilingku yang begitu banyak (yang kamu ceritain di atas).

      Wah Mar, aku baru tau background suami. Makin2 deh bikin nahan diri buat posting tentang anak, serem! Aku pernah liat mommies dengan banyak followers, posting tentang potty training anaknya yang dia share di IG (muncul di explore ku makanya tau). Dia pajang foto anaknya naked lagi duduk di closet, bagian penisnya di sensor. Mungkin niatnya baik, sharing.. tapi aku ngebatin sih. Kok nggak pake ilustrasi kartun aja. Again who am i to judge lah.. makanya cm ngebatin doang kok kan bukan anakku πŸ™‚

  13. yang pertama ku komen adl komentar orang aneh yg bikin ikut mangkel bacanya, ada gitu yaa tahu2 komen fisik anak orang di sosmed, kalau gak gila ya edan namanya…. atau cuma cari sensasi kali ya mbaa…

    yg kedua ttg upload foto anak, sebenarnya selama ini aq gak pernah peduli atau berasa apa2 dg ortu2 yg sering pasang foto anak. cuma kalau postingnya yang terlalu membuka aurat anak (lagi mandi, lagi renang) tanpa disensor baruu risiih, cuma mikir apa ini orang gak tahu bahayanya foto anak kesebar2 gitu yaa…. tapi ya berakhir pada mbatin doang, gak berani komen takut menyinggung perasaan.

    yg ketiga posting prestasi anak, ini tergantung orang yg posting dan bagaimana cara mereka posting klo aq mba… klo orangnya adl orang yg aku kagumi *meski gak kenal* biasanya aq fine2 aja, malah kadang aq noted, kali aja ntr pas aq udah punya anak bisa aq contek tips dan cara2nya…. btw biasanya yg begitu sih gak cuma pamer prestasi akhir, tapi jg treatment yang sudah dilakukan. nah klo yg posting adl orang2 ehm…. nyebelin dan hanya terkesan pamer doang, itu tuuh yang bikin baper hahaaa…

    yg terakhir deh biar gak jadi 1postingan, heheee…. selain pedofil yg mengerikan sampai2 aq gak berani kepo akun yg dimaksud, ternyata ada lagi kejahatan kpd foto2 para ibu hamil mba, bbrp waktu lalu sempet viral jg, tapi mmg gak seramai kasus ini. iihh makin parah yaa dunia ini…. apa2 jadi serba salah. tapi semoga kita semua dapat terlindung dari hal2 mengerikan itu, dan diberi kekuatan utk menghadapinya… amin….

    1. Nggak tau alasannya Tia, yang jelas korbannya bukan cuma aku ternyata. Ada anak lain yang “dikatain” juga.

      Sama sih, aku juga nggak pernah peduli.. kalau teman sendiri malah pasti aku komen. Tapi kalau badannya nggak dilindungi (beberapa kali liat temen posting dalam kondisi kaya kamu bilang di atas) itupun aku nggak negur atau gimana. Entah ya.. karena kupikir sih ortu nya yang udah pasang itu di medsosnya, jadi dia pasti udah tau konsekwensinya.

      Kalo soal pamer.. Kadang kita juga gak tau batasan pamer tuh gimana ya Tia, menurut kita yang liat udah pamer bangeeetttt tapi ternyata buat dia biasa aja ;). Jadi yawis nikmati saja, memang begitulah media sosial.

      Eh aku malah pengen tau nih kasus Ibu hamilnya. Kalo mau cerita aku siap baca πŸ™‚

      Aamiin untuk doa kita semua ya, Tia. Makasih πŸ™‚

      1. Yg kasus pencurian foto wanita hamil itu aq tahu viralnya di salah satu grup ibu2 mba. Baca2 sekilas kurleb isinya ttg foto2 bumil yang dikomen fantasi oleh para lelaki ‘sompret’. Jijay lah pokoknya, aq gak berani nerusin. Mungkin klo di googling msh ada kayaknya. Nah yg jd korban itu bumil yg suka foto selfie (sendirian). Tapi casenya emg gak seramai anak2 sih…

  14. Nice post. Iya itu lg heboh. Kebetulan aku dan tmn2 slh satu penyuluh ttg pencegahan pelecehan thd anak..syg bbrp org srg punya sikap kl ada kasus : bukan anakku bukan urusanku. Kl ada yg negur : ini anakku bukan urusanmu. Sekalinya kejadian stress dan pusing sendiri. Minta tlg kmn2. Dulu diperingati tp kendor lg. Terlalu sibuk utk hal2 yg tdk perlu. Mencegah lbh baik mudah dan praktis dr mengobati. Org lbh suka diobati kali ya. Jd aku gitu aja kl org2nya merasa itu bkn masalah, ya biarkan saja. Buang2 waktu menghadapi resistensi. Yg ptg sdh diperingatkan.

    1. Wah, aku baru tau yang kamu sama temen2 lakuin, Fiberti. Jujur aku termasuk yang: bukan anakku, bukan urusanku. Bukan berarti aku less empathy.. lebih karena aku nggak ngerasa punya kapasitas buat “memperingatkan” orang. Btw kayaknya kamu nulisnya dari hati banget nih, punya pengalaman kah, Fiberti? Kalo nggak keberatan boleh di share kah? πŸ™‚

      Akupun masih belajar terus nih buat jadi Ortu yang nggak ngedepanin ego untuk “pamer” anak. Semoga konsisten.. πŸ™‚

      1. haha maaf terlalu berapi-api ya mba…kita semua punya kecenderungan spt itu kok mba normal…ini juga efek jelek dr era internet dan sosmed ya…org jd jenuh, lbh suka baca berita bgs drpd jelek, kelihatannya itu jauh tp ternyata dekat, pdhl orang2 spt itu “ada”, penyebabnya knp itu pjg lg hehe..spt cth kenalannya teman lapor krn anaknya hbs disodomi,yg spt ini sptnya hny tjd pada anak org lain, tau2 ada di keluarga sendiri (pdhl bnyk ya yg merasa aman pamer foto pd keluarga), ujung2 minta penyelesaian kekeluargaan.. hrs putus hub keluarga dulu baru bisa diselesaikan scr hukum… yg spt ini akan sgt pjg dan melelahkan prosesnya loh dari visum sampai pemulihan trauma korban, yg nanganin saja emosi nya bs terkuras. jd mmg kita hrs hemat energi, garap mana yg masih mau mendengar dan tinggalkan yg resisten…

      2. Gapapa Fi, hihihi.. tapi emang memancing aku buat tau lebih lanjut. Ya betul, setelah kupikir2 (aku baru ngobrol sama adik) aku jadi inget waktu kecil.. ada bapak2 tetanggaku yang suka nggendong anak2 dan diciumin. Aku masih inget dengan jelas cara nyium dia tuh penuh nafsu.. diciumin di lehernya.. pipinya, diuyel2. Saat itu mmg yang paling sering digituin temenku yang “cantik” (definisi cantik macem2 tapi dia: kulit kuning langsat, badan termasuk bongsor untuk umurnya), itu sekitar kelas 4 SD lah. Dulu aku antipati banget sama Bapak itu.. karena (untuk umurku saat itu) rasanya risih. Jadi yes, orang2 kaya gitu tuh ADA di sekitar kita. Salut sama apa yang kamu sama temen2 lakuin, Fi..

        Semoga tetap semangat ya πŸ™‚

  15. Ironi sih Mbak Dila kalau ada yg kebanyakan atau sering pajang foto anaknya. Soalnya emang banyak banget predator anak di luar. Aku pun termasuk yg suka sama tulisan mbak Yoyen soal sharent mbak~

    1. Iya mbak Ira, mengerikan memang kalo tau fakta predator di luar itu. Makanya kalo aku pribadi ya batasi posting tentang anak. Tanpa judging yang berpendapat berbeda. Makasih ya komennya 😊

  16. Ku juga mau nulis perihal ini tapi masih di draft hahaha. Aku liat di akun ig hosip2 yang terdepan dan terapdet, lambe turah, nyinyir, rumpi, rempong, makrumpita, dan sebagainya (setdah napa banyak amat) yang semuanya bahas group pedofil di fesbuk. Ya Allah, shockkk banget! Langsung inget ponakan2, apa mereka baik2 aja, mereka punya kenalan darimana aja, dll. Terus nanti anakku yang entah kapan punya, apa kabar sama kejahatan diluar sana. Ah udahlah cemacem pikirannya.

    Daaaan daaaan, bener banget mba bund, itu kan IG sendiri, jangan terlalu banyak wajah orang lain (termasuk anak) karena polower2 yang antah berantah itu suka aneh2. Ya jangankan foto oranglain, foto kita aja bisa jadi dipake yang engga2 sama manusia2 diluaran sana. DUH KOMENNYA KEPANJANGAN KAYA JALAN KENANGAN, UDAH AH, KU CAPEQUE PEGAL LINU~

    1. Baca referensimu soal perhosipan online aku merasa tersisihkan. Cuma tau lamtur ama lambe lambe yang lain.. ternyata ada lagi rumpi rempong sama makrumpita! Ckckckck..

      IG sendiri masa isinya kebanyakan foto Dian Sastro ya??? Tau sih mirip, tapi gak gitu jugaaaa keles! *anaknya suka halu*

      YAUDAH JANGAN PANJANG2 SINI KAKAQUE KASIH PARAM KOCHOQUE BIAR ENAQEUN~~~

      1. Ih kuranglah kalau cuma dua mah hahaha. Aku punya fake account ig untuk follow akun perhosipan agar dan supaya apdet syelalu perihal kehidupan ini. Gak lupa juga follow onlenshop2 diluaran sana yang bertebaran. Apalagi yang akunnya digembok yekaaan 😝😝😝

  17. Dil..accountmu public ya? Gue takut makanya digembok…tapi apapun itu emang posting berlebihan ttg anak itu ga baik ya. Aku kalau ada lowong mau hapus2in yg diblog deh ih..jd takut

    1. Dulu public, Jooo.. iya yang penting ortu tau konsekwensinya aja ya Jo. Soalnya hal2 kaya gitu (pedofil) emang “ada” di sekeliling kita. Kalo gw better preventif ajah πŸ™‚

  18. Aku banyak posting tentang si kembar Di blogπŸ˜‘. Du du du…..
    Sekarang aku lebih berhati hati klo mau foto anak anak, krn Cinta pernah minta foto nya dihapus di hp Ku, cerita nya Cinta LG sakit trus suami tanya dari Kantor gimana keadaan nya, aku foto dia pas Lg tidur, eh ga sengaja beberapa hari kemudian dia liat fotonya Di hp, dia minta dihapus. Pas ngomong gitu aku langsung inget tulisan mba Yoyen dulu, betul anak mungkin suatu saat ga suka klo tau kita posting foto fotonya pas mereka kecil.

    1. Wah, gitu ya mbak Yayang? Kalo anak udah gede emang bisa protes ya.. tau mana yang bikin nyaman sama nggak buat dia :). Aku belum ngalamin begitu tapi anakku pernah “protes” sama aku, stop doing that, Mama! Waktu aku sering foto sama videoin kegiatan dia.

      Anak emang pembawaannya beda2 ya mbak Yayang.. jadi mmg kita ortunya yang ngikutin aja gimana baiknya buat anak sesuai interest mereka juga.

      Thanks for sharing, mbak Yayang. Salam buat Cinta Cahaya 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s