Selembar Kain Untukmu ♥

Bulan sepuluh empat tahun yang lalu, laki-laki pertama dalam hidup saya mengalami fase terberat dalam hidupnya. Salah satu organ vitalnya sudah tidak dapat bekerja optimal lagi sehingga harus menggunakan alat bantu agar terus dapat menikmati hidup di dunia ini. Ya, gagal ginjal.. itu adalah vonis yang diberikan oleh dokter kepada Bapak saya. Bapak adalah sosok laki-laki tegas tetapi romantis, humoris sekaligus berwibawa.. keras kepala seperti batu dan dapat melunak bagaikan kayu dalam waktu tak berselang lama, sebuah pribadi yang unik.. sungguh di mata saya Bapak benar-benar seorang pahlawan. Empat tahun beliau jihad melawan penyakitnya dengan cuci darah dua kali seminggu. Sudah berapa ribu jarum yang ditusukkan ke lengan setiap kali beliau ke rumah sakit. Akhirnya, bulan sepuluh di tahun ini Bapak saya pun berpulang kepadaNYA dengan cara yang sangat indah..

Beliau kembali ke pangkuan Allah Swt diiringi oleh doa dari istri super hebatnya dan keempat orang anaknya.. satu cucu, dua menantu dan calon cucu yang bahkan belum datang ke dunia ini. Insya Allah khusnul khotimah ya, Bapak.. Amin ♥♥. Nama Bapak dan semangatmu untuk selalu membina ukhuwah dengan semua orang akan menjadi kenangan yang tak akan terlupakan. Bukan hanya untuk kami keluarga, tapi juga sahabat, rekan kerja, tetangga, mbak-mbak teller BRI, tukang jual kaligrafi keliling, sampai nenek-nenek penjual daun yang selalu Bapak tawari mampir ke rumah untuk istirahat melepas lelah sambil minum secangkir teh hangat.

Flash back ke diri saya setahun lalu, kira-kira di bulan mei. Tiba-tiba terlintas keinginan untuk menutup aurat rambut dengan berkerudung. Iseng saya pakai dan mematut diri. Sudah.. begitu saja. Kemudian waktu bergulir ke beberapa bulan setelahnya. Sekitar bulan oktober 2013, ketika saya sedang mudik ke rumah orang tua.. keinginan itu kembali muncul. Saya pun coba-coba pakai kerudung kemana-mana. Ingat sekali, suatu malam Bapak saya bilang: “kowe ayu, nduk..“. Saya juga sempat berkonsultasi soal kerudung ini ke dua orang teman yang sudah memakainya terlebih dahulu. Bagaimana rasanya, kalau gerah repot nggak? Sayang rambut indah selembut sunsilk-ku nanti takut rontok dan sebagainya. Shallow sekali ya pertanyaan-pertanyaan saya justru lebih ke penampilan dan kenyamanan semata. Itulah.. akhirnya semua keinginan dan wacana berkerudung itu menguap begitu saja begitu saya kembali ke Jakarta.

Kembali ke masa ini, setelah kepergian Bapak.. saya selalu pakai kerudung lagi kalau keluar rumah. Keinginan untuk menutupi aurat bagian atas ini muncul lagi dan semakin kuat. Terlebih mungkin karena ini Bapak sendiri, saya jadi sangat getol mencari informasi tentang amalan-amalan apa yang bisa dilakukan untuk orang tua yang sudah wafat. Anak-anak sejatinya adalah harta orang tua yang tak terhingga harganya. Karena anak adalah usaha yang dilakukan oleh orang tua. Sehingga doa dari anak shaleh/a akan menjadi amalan yang akan terus mengalir kepada orang tua walau sudah berbeda alamnya. Ketika itulah saya insyaAllah yakin bahwa hati saya yang menuntun untuk segera mengenakan kerudung. Saat itu, lelaki yang lebih berhak atas diri saya sekarang yaitu suami, belum mengetahui niat saya untuk berkerudung. Rencananya sih mau cerita kalau udah kumpul lagi nanti di Jakarta. Tapi suatu malam di tanggal 24 Oktober, saya udah tak tahan lagi *sambil nyanyi*. Berbincanglah kami di telepon dan Alhamdulillah.. suami saya sangat mendukung dan yang terpenting adalah dia juga senang dengan keputusan saya. Legaaa banget saat itu, langsung deh ganti display picture whatsapp, line sama bb (padahal bb temennya juga gak ada sepuluh) hahahahahaa.. i’m officially kerudungan bok! :))

image
Kerudung segi empat paris murah meriah ridho :p

Flashback-ception alias flashback di dalam flashback. Kenapa keinginan saya untuk pake kerudung yang udah muncul itu bisa lama tereksekusi, sampai satu setengah tahun lamanya (dan, iya.. sampai Bapak saya berpulang). Karena memang banyak sekali pikiran yang berkecamuk di kepala ini, tentang perilaku dan ketaatan saya kepadaNYA. Sudah siapkah saya? Seorang teman di kantor dulu yang juga None Jakarta Pusat pernah ngobrol dengan saya soal menutup aurat: “sebenernya pake kerudung itu bukan masalah lo siap ato gak siap neng, di dalam Islam tuh nggak ada kaya gitu. Orang udah jelas itu kewajiban. Tapi ya tinggal kitanya mau ngejalanin apa nggak“. Halooo non, apa kabar kamu di Belanda? Hahahaha..
Pelan-pelan saya mulai tanya-tanya lagi ke beberapa teman yang sudah berkerudung duluan soal ini. Nggak banyak, hanya segelintir teman. Alhamdulillah dapat masukan dan dukungan baik. Salah satu dari mereka bilang bahwa “pake jilbab itu kaya menyusui aja, modal nekat sama keras kepala aja. Makin banyak mikir makin mundur, sama kaya menyusui.. makin banyak mikir makin susah keluar ASI-nya“. Thanks ya Nengviranda. Juga ada mbak Aditpohan yang beri masukan tentang gaya kerudung yang so simple, kasih info toko-toko online yang jual kerudung pluuuus ngirimin bergo (kerudung praktis langsung masuk kepala) buat keluar rumah yang deket-deket hahahahha, thank you sis.. love you! :p

Kembali cerita ke saat-saat setelah ditinggal Bapak. Perasaan saya ternyata sangat kacau.. semua rasa seperti campur aduk jadi satu. Lalu bayangan akan kepergian yang pasti akan dialami oleh semua manusia juga mulai terlintas. Saya nggak mau mati dalam kondisi belum berkerudung, jilbab, hijab.. you name it. Saya masih punya banyak tugas di dunia ini, tugas utama adalah mendidik dan membesarkan anak seperti yang saya tuangkan di sini. Dia yang akan jadi harta saya dan suami nantinya.
Berkerudung bukanlah hal yang istimewa, kenapa? Kembali lagi memang karena ini adalah kodrat. Saya masih pake jeans ketat (yeaa, ketatnya gara-gara paha yang makin membengkak actually *sigh*). Masih suka missed sholat kalo lagi jalan, kalo di rumah sih insyaAllah udah bisa full alhamdulillah. Ngerumpi masih jalaaaan, nyinyir juga gak jaraaang.. dan segala macam sifat dan sikap saya yang minus dan perlu pembenahan diri masih ada semua. Semua itu proses kalo saya bilang.. karena in my case and opinion, tidak harus memperbaiki dulu semua cacat yang saya miliki untuk layak mengenakan kerudung, tetapi semoga kerudung ini yang akan menuntun saya untuk memperbaiki kekurangan dan menjadikan saya sebagai manusia yang lebih baik. InsyaAllah kalau niatnya tulus akan dimudahkan, Amin. Saya tidak merasa lebih baik juga dan membandingkan dengan teman muslim lain yang belum berhijab. Hidayah Allah datang tanpa ada yang tau. Kita tidak bisa menilai ibadah dan akidah orang lain dari atribut yang dikenakannya. Semoga prinsip yang saya anut nggak salah.

Postingan ini selain untuk mengenang Bapak, salah satunya adalah agar dapat berguna bagi para netizen yang sedang dalam kondisi sudah didatangi niat berkerudung tetapi masuk dalam fase bimbang dan galau kalo kata anak kekinian. Semoga bisa nyasar mampir dan baca-baca pengalaman saya. Karena saya juga sangaaaat terbantu oleh tulisan-tulisan netizen lain ketika sedang dalam proses peralihan perubahan penampilan ini. Banyak banget artikel soal “ambang keraguan“, dari artikel/ blog dengan bahasa populer sampai yang disertakan perintah dan hadist, semua ada. Disini saya hanya bisa curhat.. apa yang saya rasakan tanpa menggurui dan sok tau, semoga tidak. Karena memang benar-benar saya pun hanya membiarkan jari ini yang menuangkan semua isi kepala. Jujur dan dari hati yang paling dalam..huooouwoooo….

Selembar kain di kepala ini kupersembahkan untuk Bapak.. semoga bisa jadi ladang amal untuk membangun surgamu nanti. Sampai ketemu lagi yaaaa my romantic man ♥♥. Makasih banyak juga Suamiku yang sangat berbesar hati menjadikan lelaki pertamaku untuk jadi landasan niatku berkerudung. Restu dan ridhomu juga sangat gak ternilai harganya. Makasih ya, cumamiikkkkkk!!! *pijitin combo*

10 thoughts on “Selembar Kain Untukmu ♥

  1. hi mbaa..salam kenal
    samaaa,aku berhijab setelah ayahku meninggal.
    sebenarnya dari sebelumnya udah pake baju & celana/rok panjang, cm rambutnya aja blm ketutupan.Pengen berhijab tp msh ragu,apalagi lingkungan kerja aku yg gak memadai & doa aku sama Allah selalu minta dimantapin hati buat berhijab. Akhirnya setelah liat ayahku yg udah meninggal di rs, aku langsung tutup rambutku pake tudung jaket,dr situ aku mantap berhijab. Maap jadi curcol..
    Yang saya sayangkan, andai ayah saya bisa lihat saya berhijab semasa hidupnya hiks..
    Well, semoga Allah melapangpangkan kubur & menerangi kubur Ayah kita ya mba..
    Dan semoga amal ibadah kita, anak2nya jadi tambahan pahala buat beliau. Amiennn

    1. Aamin ya Nensi. Semoga kita bisa menjadi penerang jalan Ayah kita di alam barzah yah. Semoga selalu istiqomah, akupun masih banyak banget belajar. Al fatihah buat kedua Ayah kita disana ♡

      Salam kenal yaaa🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s