Modal Mendidik Anak

DISCLAIMER :

Tulisan ini penuh dengan puja puji level dewa kepada anak saya. Jadi daripada ditengah-tengah baca jadi eneg, lebih baik skip or stop baca dari sekarang. ;))

Tulisan ini tercipta atas kejadian yang terjadi kemarin sore di sebuah restoran pizza di sebuah mall di daerah casablanca. Nama restonya adalah Pizza Hut di mall Kota Kasablanka. KENAPAH GAK LANGSUNG SEBUT AJA NAMANYAAA MAMAAAHH :”’)). Saya, sumamik dan bocil makan siang disana. Seperti biasa, bocil duduk di baby chair. Karena libur itu mubah hukumnya untuk masak #sabdanengmumun, jadi bocil makan makanan resto dong ahh… Prinsip itu prinsip hihihi. Seperti biasa, dia makan salad kentang dan garlic bread. Makannya tentu saya suapin pake sendok, garlic breadnya baru dia makan sendiri. Saya dan sumamik makan pizza dan salad juga.

Di meja sebelah kami ada rombongan keluarga besar dari tiga generasi sepertinya. Nenek, Ibu / Ayah, dan cucu-cucunya. Posisi si bocil menghadap mereka. Entah memang sedang happy hari itu atau anak saya ada bakat memikat orang. Ibu-ibu dan nenek-nenek di meja sebelah itu semua nggodain si bocil. Terus bocil juga yang senyum-senyum malu bales godain balik sambil makan dengan rapiiii sekali. Saya? Sok sibuk ngurusin makan sendiri dan diem-diem ngambil pizza bagian sumamik. Sampai akhirnya salah satu Ibu dari rombongan itu memanggil saya: “mbak mbakkkkk, pinter banget sih“, saya yang (pura-pura) nggak ngeh gitu… “ya bu?” “Anaknya itu lhoooo, pinter bangetttt” yang saya jawab dengan senyuman manissss sekali mirip maudy ayunda dan segera membalas dengan kata-kata yang tidak kalah manis dan beracun, “alhamdulillah yahhhh sungguh cetaaarrr memang anak saya, bukan pencitraan untuk mendapatkan grammy semataaa pemirsaaahh” *benerin sasak* *berubah jadi syahrini* *syahriniiiii pergi ke pasaaaar* *eh itu sarimin ding*

Di kejadian nyata, saya bilang alhamdulillah…terima kasih bu, hehehe. Kemudian sampai mereka sekeluarga selesai makan, nggak berhenti loh ngajak becanda bocil dan kasih celetukan-celetukan kecil macam pinter yaaa, yaampun makannya rapi, anteng, dll dll. Tuhhh… dibilangin kalo ini postingan isinya puja puji tingkat dewa, gak tanggung jawab lho yaaa kalo pada muntah hohoho. Nggak lama kemudian, mereka pun selesai makan dan mau pulang. Salah satu dari Ibu-ibu disana menghampiri bocil, tanya nama dan ajak salaman. Lalu potret yang indah pun terjadi, si bocil senyum, salaman dan sebutkan nama dengan lantang. Eum, yang terakhir mama nya ding yang ngomong. Lawong anak saya masih dalam proses latian ngomong hhihhhi. Kemudian masih dengan tetap memuja muji level dewa macam: pinter bangeeett blablanla, sampai ke pertanyaan: “mamanya kerja yaaaah?“, saya yang saat itu mengasumsikan kerja = kerja kantoran bilang “nggak bu“, lalu dijawab

“yaampuuunnn, TAPI pinter banget deh ya anaknyaaaaaa”

Saya hanya senyum, lagi-lagi semanis maudy ayunda. Setelah itu adegan sayonara sepanjang 10 menit pun terjadi karena bocil digendong sama salah seorang oma-oma sampai ke depan resto. Boaboooo…

Selesai sudah kehebohan kecil antara anak saya dan groupisnya (hanjeeerr grupissss, digetok pake mikroponn). Saya lanjut makan dengan suami. Kemudian saya bilang: kayaknya ada yang aneh deh sama omongan salah satu ibu-ibu tadi. Dia tanya aku kerja gak? Pas aku bilang nggak, kok dia bilang anakmu kok pinter? Berarti secara gak langsung dia bilang anak pinter karena ibunya bekerja, dan bisa disimpulkan dari kalimat itu kalo ibunya nggak kerja anaknya gak pinter dong? #mbulet #sumamikkeselekpizza

Setelah itu kami jadi bahas deh. Mungkin maksud Ibunya itu bukan bekerja kali, tapi berpendidikan, kata suami saya. Saya timpali dengan anggukan sambil berpikir yaiya sih… lagian kenapa langsung bilang nggak kerja pas ditanya.. kan tiap hari juga kerja yak.. masak buat sumamik dan anak, ngurus anak dari bangun sampai merem lagi, nguber-uber dia yang kabur keluar kalo pager kebuka dikit, tiduran sambil ngayal kapan punya baby sitter, baca buku, instagraman, ngeracik lulur terus packing barang dagangan.. belom kudu maketin ke JNE, dan lain-lain. Kalo dipikir, kerjaan saya sejak jadi Ibu Rumah Tangga lebih heboh dan capek dari jaman kerja kantoran dulu.. jaman dulu di office life paling capeknya kalo udah weekly meeting sama BOD dan team saya tiap senin di kantor saya yang terakhir. Capek karena punya bos yang tutup mata sama proses kerja dan maunya result oriented, lebih capek lagi ngajarin team under saya yang masih fresh graduate dan belum tau apa-apa soal jobdesk dia tapi ngeyelnya setengah mati kalo dikasih tau. Beruntung ketemu dan kenal saya pas lagi hamil, jadi galak dan judesnya bisa sedikiiittt di rem. Sedikit. Lol.

Back to cerita si Ibu tadi, saya jadi berpikir soal mendidik anak. Ada quote yang beredar di banyak social media. Entah benar quote ini berasal dari orang tersebut atau bukan, tp sangat menarik buat dicermati.

image Gambar diambil dari sini

Uwuwu… cakep banget yak quotenya dari diajeng ayu Dian Sastrowardoyo kembaranku idolaku tercinta. Tapi kecerdasan itu kan tidak hanya sekedar intelegensia aja yah (Intellegent Quotient –IQ), yang mana mungkin akan sangat in line kalau dikaitkan dengan quote diatas. Tapi ada juga Emotional Quotient, Moral Quotient… dan yang sangat penting juga adalah Spiritual Quotient. Jadi, apabila ada seorang wanita yang tidak menuntut ilmu akademik sampai jenjang setinggi mungkin namun dapat mencetak anak dengan aspek kecerdasan dari berbagai sisi, itu bukan mustahil untuk dilakukan…
Namun tetap, sebagai wanita yang hidup di era ini.. saya memang setuju dengan quote itu bahwa seorang wanita masa kini wajib berpendidikan tinggi DAN belajar terus tanpa henti APAPUN medianya supaya dapat mendidik anak-anaknya dan mencapai kecerdasan yang seimbang.

Jadi point dari tulisan ini apa yaaaahh hahahahhaa, mungkin lebih ke

#notetomyself

kali yah… modal mendidik anak itu bukan hanya ilmu yang didapat dari gelar akademik yang dimiliki, tapi juga dari ilmu agama, pengalaman hidup orang tua yang bernilai moral baik…yang nantinya akan diturunkan ke anak, juga sifat welas asih yang harus dimiliki oleh orang tua supaya anak tumbuh menjadi pribadi yang lembut hati dan punya karakter kuat. Yang mana semua itu tidak mudah untuk dijalankan.. thats why, menjadi orang tua itu adalah proses belajar seumur hidup.. yang membedakannya hanya dimana posisi kita, sampai mana stage kita berada. Yesss, that’s called parenthood!😉

Semoga tulisan ini bisa jadi refleksi diri saya (dan sumamik) sebagai orang tua. Proses belajar yang dilalui masih cetek banget, masih jauuuh jalan yang harus ditempuh. Nggak ada yang mudah, tapi seperti proses mencari cinta yang katanya “true love never runs smooth” (Hidetoshi Senna, Love Generation J-Dorama 2004). Proses mendidik anak juga insyaAllah begitu. Bagaimana membentuk karakter anak sampai 8 tahun nanti, karena konon karakter manusia itu terbentuk dari awal kehidupan sampai dia berumur 8 tahun. Selanjutnya akan menjadi template dan menempel padanya seumur hidup. Berat yakkkk topiknya? Bhuahhahahahha…. a lil bit boring maybe, sedikit coretan yang gagasannya muncul dari otak saya dan dituliskan secara spontan sambil ngeliatin bocil yang tidur dengan pulesnya tanpa AC. What a magic! :)))

4 thoughts on “Modal Mendidik Anak

  1. refleksi akuuu jugaaaak,,.. emak gak kerja yang masih sering galau kala kangen gajian bhuahahahha

    setujuuu banget ama postingan iniii. Untung ada dirimu ya diill.. untuk emak pemalas macam sayah ini tinggal nanya ama dirimuh saja

    1. Hihihihii, begitulaaah… rasanya kok agak risih gitu yak, njuk jadi diskusi panjang sama suami gara2 omongan si oma2 itu :”)).

      Isshhhh, gak males laah dirimu mbak… mana ada IRT males, kalo males gak jalan idup ini #lebay :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s