AADC?

Ada Apa Dengan Cinta Cucu?

Judulnya sedikit maksa lah biar saya nostalgia dikit ke masa-masa pake seragam putih abu-abu. Mattikkkkk bongkar umuuur bongkar umuuur, hahahaha!

Tulisan ini sebenarnya sudah lama tersimpan di draft wordpress saya, entah kenapa lama sekali terbengkalai hampir enam bulan lamanya. Sampai hari ini niat nulis muncul, hayuk jangan ditunda ah cusss deh hehehe. Topik susu sih sebenarnya udah buanyaaak banget dibahas di berbagai blog baik yang serius – informatif sampai yang hura hore tralala trilili kayak blog saya ini. Saya mau nambahin ah, pengen menuh-menuhin dunia maya, nambah kerjaan buat search engine kalo ada yang ngetik dengan keyword: “susu bayi selain ASI” hihihi.

Di kalangan Ibu-ibu obrolan tentang susu itu bisa jadi topik yang seru lho. Serunya tu sampe level twitwar (saling berbalas kalimat secara agresif dengan 140 karakter di twitter), dan bahkan masih dibahas berhari-hari padahal twitwarnya sendiri sudah selesai. Itu baru twitter, belum di group facebook, forum internet Ibu dan anak dan ada yang lagi yang bisa ditambahkan mungkin? Ohh, welcome to the 2.0 world.
Jadi ada apa dengan susu dan Ibu-ibu? Saya mau ulas dari sudut pandang saya sendiri yah. Karena bisa dibilang saya udah nguplek banget hampir semua bacaan soal susu ini jauuuh jauh hari sebelum bocil ultah dan ngicipin susu sapi, dari berbagai forum lokal dan interlokal. Jadi semua yang saya tulis adalah murni pendapat pribadi dan bukanlah acuan baku persusuan. *benerin beha*

Oke, pertama mungkin soal ASI atau Air Susu Ibu. Alhamdulillah sekarang Ibu-ibu di Indonesia semakin banyak yang sadar dan tinggi kepeduliannya terhadap pemberian ASI eksklusif, yang biasanya kemudian dilanjutkan pemberiannya sampai anak berumur 2 tahun. Wow, good! Tentunya semua ini tidak lepas dari peran pemerintah, media dan internet yang memberikan informasi yang memadai dan mudah dijangkau. ASI eksklusif ya pemberian ASI SAJA, TANPA memasukkan cairan lain ke bayi selama enam bulan. Tetapi banyak yang menyangka ASI eksklusif itu sampai satu – dua tahun. Kenapa saya bilang begitu? Kapan hari saya masuk group Ibu dan Anak di Facebook, dan banyak Ibu-ibu yang bilang masih memberikan ASI eksklusif sampai lewat usia anak 1 tahun…. lhaaa kan wes dikasih makan juga to buk? Yasudah ndak eklusip no… hihihi.

Kedua, ini nih yang paling seru. Pemberian SUSU TAMBAHAN SELAIN ASI untuk anak. Sebelumnya, saya skip pembahasan soal anak yang diberi Susu Formula (sufor) sedari lahir karena Ibu tidak bisa memberikan ASI yah.. saya hanya mau bilang, mau Ibu memberi ASI atau tidak… semua Ibu itu pasti berusaha yang terbaik untuk anaknya. Alasan Ibu memberi ASI ataupun sufor itu sangat personal. Jadi, saya sangat sangat risih sama statement: anak Ibu anak sapi? Kok minumnya susu sapi? Mungkin mereka yang ngomong begitu belom pernah diseruduk sapi. Mooooooo….
Saya bukan penentang ASI, anak saya pun (20 mos) asi eksklusif dan masih asi sampai sekarang. Tetapi melihat kerasnya dunia motherhood soal ASI vs non ASI… rasanya pegel banget mata ini membaca saling terjang sindir gubrak gabruk soal itu. Yeah, the point is: behave and be nice to other mom!πŸ˜‰. Yang artinya, sesama emak cantik dilarang nyalip di jalan. Yiuuuukkk… Lanjut yaak…

image
Bocils first UHT

Setelah umur 1 tahun, anak yang mengkonsumsi ASI boleh dikenalkan dengan susu lain. Sumber infonya dari mana? Banyak… silakan googling karena sudah sangat padat informasi mengenai hal ini. Sahih. Salah satu susu sebagai sumber kalsium yang diberikan oleh Ibu-ibu adalah SUSU SAPI. Untuk Ibu-ibu yang menganut food combining garis keras sudah pasti susu sapi dicoret dari list, karena kalsium bisa didapatkan dari kacang-kacangan dan sayuran lain. Saya nggak akan bahas mana yang bener, karena memang nggak ada yang salah. Semua ibu punya guideline sendiri-sendiri tentang apa yang boleh dan tidak dikonsumsi anaknya. Karena saya Ibu-ibu garis patah-patah, jadi saya tetap mengenalkan si bocil dengan susu sapi setelah ulang tahunnya yang pertama. Awalnya saya coba dengan mencampur susu ke masakan untuk makan dia, dan umur 14 atau 15 bulan baru minum sendiri dari kotaknya. Rekreasional saja, ketika lagi pergi ke mall sih biasanya.. seminggu dua tiga kali. Amati pencernaannya, nggak pake diare-diare segala berarti sippp bisa deh dia minum susu sapi.

Susu sapi yang lebih banyak dipilih sekarang ini untuk mendampingi ASI selepas 12 bulan adalah SUSU CAIR dalam kemasan, atau yang populer dengan sebutan susu UHT. Yang mana UHT atau Ultra High Temperature itu adalah proses pengolahan susu cair SEGAR dengan cara PEMANASAN, kemudian dikemas kedalam box karton kedap udara. Susu cair ini dipanaskan dengan suhu kurang lebih 138 celcius selama paling nggak 2 detik, sehingga semua microorganisme mati tanpa membuat segala kandungan baik terbuang banyak. Susu ini tahan kurang lebih enam bulan, dalam pemrosesannya nggak pake pengawet. Proses pemanasan dan pengemasan yang steril yang membuatnya seperti itu. Jadi, mau kandungan susu cairnya FULL CREAM or LOW FAT selama dia dikemas dalam kotak karton dan dijual di lorong-lorong supermarket. Itu namanya UHT yaaa hehehe, and yes it’s safe for our toddler, lhawong namanya juga minuman bukannya ratjun #uhuk.

Susu cair dalam kemasan lain adalah SUSU PASTEURISASI. Sama halnya dengan UHT, susu ini adalah susu segar yang dipanaskan di suhu tinggi namun LEBIH RENDAH dari UHT. Sehingga tidak semua microorganisme di dalam susu mati, hanya mengurangi saja namun tetap aman dan tidak menimbulkan penyakit, selama penyimpanannya benar yaitu di suhu dingin dan diminum sebelum kadaluarsa pastinya… karena usia susu pasteurisasi lebih pendek dari susu UHT yaitu kurang lebih satu mingguan. Di supermarket, susu ini biasanya dijual di rak pendingin bareng sama minuman-minuman botol lain. Kalau di luar negeri terutama eropa dan amerika, susu pasteurisasi lebih disukai. Mungkin karena konsumsi dairy food mereka jauuuuuh lebih tinggi dari negara-negara di asia. Susu ini rasanya lebih segaaaar, ya karena pemanasannya lebih singkat dari UHT. Prinsipnya adalah less is best, semakin sedikit itu susu diapa-apain dari bentuk aslinya, semakin bagus. Yaampunnn analoginya kurang caem tapi yasudahlah :)).

image
Susu si Bociiilll

Jadiiii, susu apakah yang saya kasih ke bociiiilll. Yup, saya kasih susu UHT Ultra Mimi 125ml yang plain. Sebelumnya saya kasih susu UHT full cream merk Ultra juga. Kenapa saya berpindah kelain hati? Karena Ultra full cream bungkus biru tua itu terlalu banyak untuk sekali minum. Sebelumnya sempet heboh juga Ibu-ibu di forum soal Ultra full cream yang keluaran baru sekarang mengandung garam alias natrium. Oh yess, kaum kami memang heboh yah.. and yes i do research about this, jadi memang benar Ultra full cream sekarang menambahkan garam sebagai pengental, tapi jumlahnya hanya sepeeerrrrrsekiaaaaann cepirit dari total kandungan. So, gak ada yang perlu dirisaukan, wong selepas satu tahun memang sudah buka puasa makan gulgar (catet: menurut saya loh yaaaaa, entar dianggep sesat lagi pisss). Woles aja shaaay! :))

Sekian dulu tentang persusuan yang saya curahkan dalam bentuk tulisan. Apapun pilihan Ibu-ibu, pilihlah yang sesuai dengan kondisi anak dan kemantapan hati Ibunya. Tidak perlu menyamaratakan pilihan sendiri dengan pilihan Ibu lain. Yang terbaik untuk anak kita belum tentu sama dengan anak orang lain, begitupun sebaliknya. Kalau ada tambahan akan saya susulkan di lain hari. Keep rocks, we’re all great, mommas! Xoxo!

2 thoughts on “AADC?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s