Time Capsule

Jaman dulu ketika masih gadis dan belum punya anak, saya suka sekali melihat-lihat folder foto anak-anak teman saya di socmed. Biasanya folder dengan nama anak, dan tempat tanggal lahir mereka. Isinya ratusan foto dari proses kelahiran sampai usia sekarang. Yap, facebook sepertinya menjadi sarana sharing oleh para orang tua mengenai anak-anak mereka. Saya sembari menghayal, ah besok lucu yah kalau sudah berkeluarga dan dikaruniai anak kalau sharing moment dengan teman-teman di facebook (walaupun, YA.. beberapa orang menganggap ini annoying). Saya pribadi sih suka ya, itu hak mereka untuk membagi foto, dan saya pun menikmatinya.

Waktu berjalan cepat dan tidak terasa saya pun sudah jadi Ibu. Kenyataannya? Saya nggak update foto-foto anak saya dalam folder semacam yang saya singgung diatas. Kenapa? Saat itu saya nggak sempat untuk upload-upload cantik mengingat deramah kumbarah after birthing. Sampai beberapa teman selalu tanya.. Mana foto si baby, neng? Update dooong di facebook. Akhirnya saya pun mulai upload foto si bocil, itupun dengan folder “mobile uploads”. Yahh, hancur sudah impian semasa gadis :”))). Sharing foto anak dan kegiatannya terkadang saya selipkan di twitter. Setelah punya instagram, saya juga sering posting kegiatan anak disana, sesuai bio saya disitu: random post, mostly about (homemade) food and my love ones.

Beberapa bulan yang lalu, saya baca topik di suatu forum parenting tentang sharing foto / video kegiatan anak. Disana dibahas alasan orang tua meng upload foto-foto anaknya di socmed selain karena sebagai media berbagi, juga bisa jadi folder cadangan diluar private hardisk. Sewaktu-waktu data hilang, kan masih ada socmed gituloh.. Kan bisa diambil lagi sewaktu-waktu. Ternyata, hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Ketika kita membuat akun di sebuah socmed, ostomatis ada banyak term and condition yang harus kita centang kolomnya, dan yakin deh 80% orang Indonesia pasti gak baca lagi dan langsung centang..skip skip, jleb..tarraaa jadi deh akun baru di twitter, facebook, instagram dll.

Padahal foto-foto yang kita upload dapat dipergunakan sewaktu-waktu oleh developer socmed, yaaang… Ya tadi itu sudah kita setujui di centang-centang tanpa sempat dibaca hehehe. Saya sendiri masih banyak upload foto anak di socmed, terutama instagram. Tapi sejak beberapa bulan lalu saya minta suami untuk bikin akun e-mail atas nama anak saya. Buat apa? Eum, sebelumnya saya berdoa dulu deh semoga gmail tetap berjaya sampai selama-lamanya. Jadi ketika anak saya sudah melek internet, masih bisa dibuka itu e-mail. LONG LIVE GOOGLE!

Jadi, flash back sebentar. Dulu awal-awal kehidupan si bocil, saya rajin tulis milestone dia. Seperti tanggal dan jam sekian dia lahir, imunisasi apa aja dan dimana sama dokter siapa, kapan mulai menegakkan kepala, kapan aqiqah terus rambut digundul, pertama kali bisa nenen langsung dari gong-nya (iya, saya baru bisa netek-in ketika dia umur 12 hari, sebelumnya asip + cup feeder), pokoknya semua-mua hal kecil itu saya tulis di folder blekberi. Sekarang? Gone. Datanya ilang! *ngempos dulu..

image
Foto diambil dari sini

Kembali ke masa sekarang, berkait dengan e-mail dengan nama anak tadi. Cerita-cerita atau foto-foto anak dapat kita kirim dari e-mail pribadi kita untuk anak. Cara ini dianggap lebih aman, karena walaupun e-mail juga fasilitas gratis dari developer, tapi dia memiliki privacy yang kuat, jadi tidak perlu khawatir foto-foto anak kita disalah gunakan di belahan dunia yang kita tidak tau. E-mail juga memiliki kans untuk “lebih survive” nasibnya dibanding socmed. Jadi seperti menyimpan di kapsul waktu, cara ini bisa dilakukan untuk memiliki external hardisk yang aman dan someday dapat dinikmati oleh anak kita. Uhuk-uhuk langsung berasa tuwiiiirrrr.

Sekarang saya lagi berusaha banget untuk “mengisi” time capsule si bocil nih. Isinya dari yang penting sampai nggak penting. Penting tuh misalnya, waaah bulan februari tahun 2014 gigi geraham pertamamu tumbuh. Kamu susah bangeeet disuruh makan nasi, tapi peyek atau kacang telor gitu nggragas makannya. Itu kan lebih keras to leeee…leee.
Terus nggak penting tuh contohnya perjanjian mama dan papa, kalo kamu pup sehari lebih dari sekali. Maka diatas jam 6 sore jatahnya papa untuk nyebokin. Bukan begitu, cah bagus? Mosok ya, mama seharian kerjaannya nyebokin kamu to yaaaa :”’).

Begitulah time capsule untuk anak saya. Semoga nggak lupa dan malas untuk mengisinya. Semoga google baek, kapasitas simpan e-mailnya ditambah jadi dua giga *ngareeeep yuuk.

2 thoughts on “Time Capsule

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s