Karena KEPO adalah mainstream

Kepo atau kay-poh kalo orang sinciapo bilang atau bisa juga diartikan want to knoooowwww ajah neik versi bule ngondek. Sepertinya sudah mendarah daging dalam sifat dan sikap orang Indonesia. Cuma baru beberapa tahun belakangan ini saja definisi tersebut mendapat sebutan singkat dan lucu di dengar.

Emang lucu gitu? Buat saya sih gengges.
Sumpah ya lama-lama saya malu sama J.S Badudu, postingan akik kenapose jadi ter-Deby Sahertian abis gini? Makarena belajaran bahasa endonesia yangki baikan en binaraga dong ahhh… Cusssss! *nenggak aspirin*

Sadar atau tidak, orang Indonesia itu sering bertanya tentang hal-hal yang sebenarnya membuat orang yang ditanyai topik itu menjadi kurang tidak nyaman. Tapi entah kenapa, atas dasar peduli, pertanyaan tersebut seperti sebuah hal yang lumrah saja dan dianggap bukan sesuatu yang mengganggu perasaan orang lain. Dengan saya menuliskan ini, bukan berarti saya bersih dari hal-hal kepo gengges tersebut, saya juga masih manusia yang lidahnya tak bertulang (yeee, sapi juga lidahnya lemes keleeeuus) yang pastinya dulu dan suatu waktu nanti bisa tanpa sengaja melakukan hal tersebut. Tapi mungkin tulisan ini dapat kita ambil pelajaran dan jadikan self reminder, untuk menjadi manusia yang lebih peka hati dan mencoba mengenakan sepatu mereka –if you know what i meanπŸ™‚

image
Gambar diambil dari sini

Apakah dari keempat poin diatas masih ada yang sering melakukannya? Kalau iya, bertobatlah cobalah untuk mengurangi dan perlahan menghilangkan. Semua hal yang terjadi di dunia ini adalah rahasia ilahi *backsound Ebiet G Ade*
Mempertanyakan hal-hal yang sudah kita miliki terhadap orang lain yang belum merasakannya tidak membuat kita lebih bahagia dari orang tersebut. Demikian juga sebaliknya, tidak bertanya bukan berarti tidak peduli. Ada banyaaaak sekali cara yang dapat kita tunjukkan atas nama cinta *jeng jeng mulai gak nyambung*. Lagipula, heeey.. Standard dan definisi kebahagiaan itu berbeda-beda setiap orang.

Apabila orang lain merasa nyaman dengan kondisinya, dengan sendirinya dia akan bercerita. Tidak perlu kita tanya dan membuat suasana hati yang tadinya malam minggu berubah jadi malam jum’at. Memang yang terbaik adalah mulai dengan mengurusi diri sendiri. Sampaikan pertanyaan kepada diri sendiri, apa hal baik yang sudah saya lakukan hari ini? *berubah jadi Marshanda the MotivArtist* *ogah banget jadi Mario Teguh*

Last but not least:
Percayalah… Cuma ada satu kata buat orang yang kepo, yaitu:

Gengges!

*dislepet kamus Bahasa Indonesia cetakan IX oleh J.S Badudu*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s