Meutia yang tak bertuah (lagi)

Halo, di postingan kali ini saya mau cerita soal wisata kuliner ah. Sebagai penikmat makanan Indonesia yang kaya rempah, masakan aceh nggak boleh dilewatkan dari peta jajahan kuliner dong yah cencunya.

Sekitar kurang lebih dua tahun lalu waktu saya masih gadis dan sedang dalam masa membahana, saya tinggal di kawasan Benhil yang Alhamdulillah adalah surganya makanan.
Spesifik, sesuai judul diatas..saya mau bahas masakan aceh aja yah. Ada dua restoran aceh di Benhil yang namanya sudah menggaung seantero Jakarta yaitu R.M Meutia dan R.M Seulawah, yang sudah pernah saya tulis disini.

Kemarin malam, saya lagi kepengen banget makan masakan aceh. Yasudahlah.. Pergilah saya dan team hore alias sumamik dan sibocil ke Benhil dengan semangat dan pengharapan yang tinggi untuk makan enak. Sampai Benhil, kami memutuskan untuk memilih ke Meutia saja dengan pertimbangan tempatnya lebih baby friendly. Lagipula susah untuk cari parkir di Seulawah. Sampai di pasar kami kaget karena Meutia ternyata sudah pindah lokasi ke seberang pasar. Menempati eks restoran Sederhana yang makanan sama harganya glamour gitu deh.
image

Duhh, ni maap yak fotonya kaya gak niat. Tapi sumpah deh saya berdedikasi banget untuk dokumentasi blog ini kokπŸ˜€

Begitu membuka pintu resto, kami disambit oleh para pelayan laki-laki berseragam merah. “mau ke Meutia, ya?” “iyaaaa” kami jawab semangat. Sebenernya dalam hati bicara “menurut nganaaaa?”, saya pikir ya sudah pastilah mau ke Meutia, dengan neon box warna kuning gonjreng besar diatas masa kami salah masuk resto. Ternyata para pelayan menunjuk kearah tangga dan bilang kalau Meutia ada diatas. Saya yang woooww gitu deh, sambil mata menclok ke kertas yang di laminating dan nempel di tembok. Tulisannya : MEUTIA — tanda panah keatas. Oww, oke deh. Sampai ke atas, ruangan terbagi dua.. Menurut pelayan sih ruangan yang disekat kaca itu lebih dingin (entah dingin AC apa dingin yang lain). Oiya, kesan saya dengan ruangan atas itu adalah: HORRORRRRR!

Oke, seharusnya saya fokus ke makanan dulu ya karena ini kan wisata kuliner hehehe. Saya memesan nasi yang dihidang dengan lauk. Karena sumamik pesan mie aceh, saya minta hanya sedikit lauk yang dihidang. Saya pilih nasi, gulai bebek dan sambal goreng kentang pedas. Untuk minumnya kami pesan teh tarik, panas untuk sumamik dan saya pakai es karena lagi kepengen yang dingin-dingin.

Begitu saya mulai makan..
DEG!!
Nasi: keras, check!
Bebek: alot, check!
Kentang: rasanya kayak pake bumbu instant trus dikasih cabe sekenanya!

Akhirnya saya makan dengan perasaan galau bin bete plus bibir manyun tapi tetep seksi. Seksi kebersihan. Mata tertuju pada piring makan. Fokus!
Karenaaaaaaa…. —asiikk akhirnya menyambung paragraf sebelumnya diatas yaitu, h-o-r-r-o-r!
Saya berasa makan di resto yang dipakai shooting uka-uka alias reality show yang manggil hantu-hantu ituloh! Tolooong….

Cat tembok berwarna coklat muda kusam dengan rembesan air yang membekas. Kemudian ada box biru, entahlah..semacam tempat untuk menampung air pel or something saya juga kurang tau. Tapi yang jelas itu gengges banget. Udara disana juga kurang segar karena, aahhh.. Lagi2 saya pun tak tau alasannya.
Karena nggak tahan, akhirnya saya stop makan. Saya bahkan nggak mau cari washtafel untuk membersihkan tangan dan memilih untuk membersihkan dengan tissue basah sibocil. Spooky bok! Sumamik sepertinya tanggap dan menukar makanan.. Dia kasih mie acehnya dan makanan saya dia habiskan. Entah karena cinta mati sama istri atau sayang makanan mahal dibuang2. Hahahahaa!

Hikmah dari kejadian kemarin adalah, kami jadi tau kalau Holycow Steak yang outlet utamanya ada di Radio Dalam sekarang buka di Benhil. Letaknya berseberangan dengan Meutia.
Yang paling penting sih sepertinya kami nggak akan balik lagi ke Meutia kalau masih begini kualitasnya. Sedih ih, padahal resto ini dulu juara bangetttttt. Hal bagus yang masih tersisa dari resto ini menurut saya adalah teh tariknya. Rasanya masih enak dan bikin kepengen nambah gelas kedua asal digratisin.

Yah.. Ini hanya review atas kekecewaan saya sih. Persoalan makan dan tempat itu semua kembali ke selera masing-masing orang. Buktinya kemarin juga rumah makan ini nggak sepi kok, masih dalam hitungan tempat makan yang laku. Tapi buat saya, Meutia sudah kehilangan pelanggan yaitu dua orang jawir yang suka makan masakan aceh.

Posted from WordPress for Android

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s