Gym for baby

Hello again! Ini bukan sedang dalam gerakan #duapostingdalam24jam yah. Emang itu gerakan apa? Masih ada hubungan dekatkah sama GTM? Lha ndak tau wong saya juga bikin hestek-nya barusan kok. Kriuk.
Anyway.. Sambil menunggu roti saya selesai dipanggang oleh mbak ovenia kirinwati yang sangat berjasa dalam hidup ini. Saya mau cerita pengalaman mengajak sibocil trial di baby gym yang berlokasi di sebuah mal elite di seberang bundaran HI. Yak, too much kata sambung (-di) didalam paragraf ini. #pentingdibahas #yiuk

Kurang lebih satu minggu yang lalu saya datang ke mal tersebut untuk bertemu dengan teman yang anaknya seumuran dengan sibocil. Berhubung ibu-ibu muda kece membahana, kamipun fokus jalan-jalan ke section baby kids and playground. Mata kami tertuju pada ruangan aquarium alias kaca tembus pandang yang berisikan matras berwarna warni dan alat-alat olahraga lain. Didalamnya terlihat anak2 toddler beserta pendampingnya masing-masing dan trainer yang memandu mereka. Tiba-tiba di depan kami muncul sesosok mbak-mbak keturunan cina yang super duper ramah menyapa kami. Iya tiba-tiba, mak bedunduk ujug ujug gitu munculnya entah dari mana. Mungkin dia keturunan pendekar jadi pake ajian telan bumi dan muncul kembali ketika musuh lengah. Wedian!

image

Gambar diambil dari sini

Tempat yang kami lihat itu ternyata adalah fasilitas berbayar untuk berolah raga bagi anak-anak. Bahasa kerennya baby gym. Ditujukan untuk bayi 6 bulan sampai kalau nggak salah anak usia 5-6 tahun *cmiiw*. Si mbak perlente yang ternyata adalah CSR (customer service relationship) tempat itu memberi kami brosur dan meminta nomor telepon dan e-mail yang bisa dihubungi.

Singkat cerita, besoknya saya mendapat telepon undangan free trial di tempat olah raga yang membuat anak menjadi bintang rock itu. Yiuk, disamarkan yah ceuuuuunahh…
Deal disepakati kalau hari minggu jam 4 sore kami kesana, “jangan lupa mommy bawa kaos kaki yaaaa” kata mbak-nya berkali-kali mengingatkan. Tau aja dia kalo saya emang mau minjem kaos kaki bolong sumamik.

Minggu sore, saya dan sibocil sudah standby disana. Sumamik dan bapak mertua ikutan nonton juga karena penasaran. Setelah sebelumnya via telepon sudah di data mengenai tanggal dan tahun kelahiran anak saya, dia dimasukkan ke kelas BABY WALKER.
Sesi baby walker pun dimulai. Anak2 dan para pendamping –bisa Ibu, Ayah maupun baby sitter yang naik pangkat jadi ortu masuk ke ruangan gym. Ruangan itu luasnya kira-kira 10×10 meter yang beralaskan matras kualitas premium dan alat-alat kebugaran seperti gawang, tiang gantung, tabung yang bisa dimasuki tubuh anak dan lain-lain.

Ada dua trainer (yang ternyata dipanggil teacher) yang memandu kelas. Dimulai dengan kami diminta membuat lingkaran dan dia ada di tengah-tengah untuk memberi instruksi. Perkenalan pun dimulai dan anak-anak diminta mengambil gelang dan telur mainan yang bisa berbunyi, sambil tidak lupa diminta mengetukkan telur tersebut ke salah satu bagian wajah yaitu hidung. Oke, berarti gym ini tidak fokus pada motorik kasar saja melainkan sisi motorik halus juga digarap. Lalu dilanjutkan dengan gerakan berjalan maju, melompat jalan mundur. Yang tentunya semua itu anak lakukan dibantu pleh pendamping dan teacher mencontohkan gerakan.

Setelah itu berbagai macam gerakan lain pun diajarkan. Seperti gerakan monkey uuk aak –yaelaaaa. Anak diangkat dengan memegang pinggangnya kemudian bentuk posisi tubuh seperti huruf V terbalik dan kaki diangkat ke kanan kiri sambil teriak: UUK AAK! *berasa di gembira loka*

Lalu palang-palang dan alat olahraga lain itu untuk apa yah? Nggak nganggur kok.. Alat-alat itu tetap digunakan meskipun tidak semuanya. Anak diajarkan berdiri diatas palang kemudian kedua tangan maju berpegangan ke palang di depannya. Jadi seperti merayap diatas palang lah kira-kira. Sayang sekali tak ada dokumentasi karena saya yang fotografer wannabi ini kan sibuk berperan jadi pendamping. Sumamik gak bisa poto2-poto karena dia terlalu cool alias pemalesan untuk melakukan hal ini. Hiihh.

Saya nggak akan bahas sampai tuntas olahraga apa saja yang dilakukan disana kemarin, its oke semua yang diajarkan saya suka –eumm.. sibocil suka maksudnya, dan tidak ada masalah. Tetapi satu yang mengganjal adalah mengenai bahasa pengantar, disana menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa utama. Dari awal saya dan suami memang ingin mengenalkan bahasa Indonesia dulu kepada anak. Nggak ada alasan khusus sih, simply karena dia memang orang Indonesia dan tinggal disini. Meskipun nantinya pindah ke luar negeri pun (yakaliiik), bahasa Ibu tetap wajib jadi prioritas utama.

image

Kalau sekarang saya lihat sih kecenderungannya berbeda yah. Bahasa utama di keluarga adalah bahasa inggris dan bahasa Indonesia jadi sampingan. At least begitu yang saya lihat kemarin di baby gym tersebut. Hmmmm, memang benar kemampuan berbahasa asing adalah syarat mutlak untuk anak-anak kita di masa mendatang. Tetapi menjadikan bahasa asing sebagai bahasa utama mereka sehari-hari menurut saya adalah salah satu bentuk ketakutan para ortu akan kompetensi anak mereka di kemudian hari nanti. Sotoy yah saya. Jangan-jangan emang saya yang udik hari gini nggak cas cis cus keminggris dari bayi :))).

Oiya, back to sibocil ah.. Kemarin saya perhatikan disana dia cenderung mau main sendiri dan tidak ingin melakukan sesuatu berdasarkan instruksi. Reaksi dia terhadap barang-barang barupun terlihat menolak alias nangisssss hahahahaha. Misal dinaikkan ke banana boat yang mentul-mentul, dia nangis. Lalu dipandu untuk menaikkan kaki ke palang, dia pun menolak. Sampai sesi hampir selesai dan trainer menyemprotkan gelembung-gelembung sabun. Sibocil mundur dan menghindari setiap gelembung yang mengenai tubuhnya. It’s OK, memang sepertinya anak saya tipikal yang lama PDKT baru mau menjamah barang baru, terlihat dari mainan-mainan dia dirumah yang baru ikrib setelah nggak jadi barang baru lagi. Walaupun ini tidak berlaku untuk manusia. Dia cenderung langsung mau bertemu orang baru, at least sampai usianya sekarang.

Makanya di perjalanan pulang, naluri saya sebagai seorang Ibu yang doyan ngelantur mulai jalan. “Nak, kamu kenapa tadi kok gak mau mainan gelembung, main banana boat.. Baru pertama kali lihat ya..? Nanti kalau sudah besar kalau PDKT sama cewek nggak usah lama-lama ya. Nanti kamu di friend zone-in. Prenjonnnnnn prenjonnnn… Gak enakkk sumpah!

Posted from WordPress for Android

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s