Tragedi KOLAK

Hi folks,
Hari ini gue melakukan rutinitas seperti biasanya.
Bangun, mandi, makan, nonton tivi dan antar-jemput Nyokap gue kuliah.
Kami berangkat jam setengah dua siang. Cuaca di kota gue panas ba~nget satu minggu belakangan ini. Puncaknya dua hari yang lalu, suhu udara mencapai tigapuluh sembilan derajat celcius!!! Can u imagine how sweatie we are?? Bhohooo… *lap-kringet*

Gue mulai memacu mobil menuju kampus Nyokap. Jalan yang biasa dilewati ternyata ditutup karena ada hajatan warga setempat. Mungkin yang punya hajat masih satu keturunan sama Sultan, atau Pak Presiden makanya dapat privillege blokade jalan seperti itu. I don’t know for sure, yang jelas gue harus cari jalan lain dan berputar-putar (Ya, ditengah panasnya kota dan AC yang mati). Jadilah kami berdua di dalam mobil, dua wanita lintas generasi yang berkutat dengan peluh yang terus-terusan mengucur. Tapi kami tetap semangattt!.

Akhirnya kami pun sampai ke tujuan. Gue nge-drop Nyokap di kampusnya dan bikin janji untuk jemput lagi dua jam kemudian. Setelah itu, gue lanjut meluncur ke kost seorang temen (kebetulan cewek,-alhamdulillah-) yang bernama Krisye. Kemarin malam dia minta tolong untuk nganter paket ke daerah pusat kota.

Sesampai kost nya, sebenarnya bukan kost dia tapi kost Nonnon (gue sudah pernah sebut namanya di postingan sebelumnya, right?) gue langsung masuk dan ngambil (atau ngangkut?) tiga buah kardus ke dalam mobil.
Gue ambil posisi kemudi, Krisye pun standby di sebelah jadi navigator. Bismillahirrohmaanirrohim… Kami pun berangkat menuju ke pusat kota dengan gue sebagai driver-nyaaaaa. Sedikit grogi karena dia adalah salah satu sensei gue selain Aoi, bedanya dia adalah sensei dalam nyetir mobil matic.

Sesampainya di tempat pengiriman paket, kami dapat sedikit masalah. Mereka nggak bisa kirim tu paket ke daerah tujuan (Sungai Liat: Pekanbaru masih ke sonooooo…,red). Jadilah kami cari agen pengiriman lain atas rekomendasi agen tersebut.

Ketemu.

Letaknya cuma berjarak 200 meter aja dari tempat sebelumnya. Gue parkir di sebelah kiri jalan. Jalanan penuh dengan mobil dan motor, jadi gue nggak berani nyebrang dan cari parkir di sisi kanan. Jadilah kami gotong tiga kardus itu dibantu ibu-ibu tua yang baik hati. Lumayan lama si Krisye negosiasi sama orang dari agen yang baru ini. Karena harga pengiriman ke Sungai Liat ternyata MAHAL BANGET! Masa total biaya-nya sampai satu juta lebih…Oh..Maiii…Gattt!. Krisye sibuk telepon orang yang mau dikirimin paket, tapi lamaaaa nggak diangkat-angkat. Setelah telepon diangkat dan Krisye kasih tau soal biaya yang setinggi langit, akhirnya diputuskan tu paket dikirim ke Jakarta dulu aja dan biayanya cuma seratus tigapuluh tiga ribu rupiah. Urusan paket selesai.

Kami pulang. Gue harus jemput Nyokap yang lima belas menit lagi selesai kuliah. Berhubung teman wanita gue si Krisye ini sangat jago dan dapat diandalkan untuk urusan setir-menyetir, akhirnya gue kasih kunci mobil sama dia dan bawa kami sampai kost Nonnon lagi. Waktu sudah mepet, coba kalo gue bawa sendiri…perjalanan yang harusnya cuma makan waktu limabelas menit jadi make it two deh. Alias dua kali lipat alias lambrettaaa… hahahaa.

Sampai di kost Nonnon, Together Again-nya Dave Kost udah berbunyi nyaring. My mom’s calling. Gue langsung cabut ke kampus Nyokap. Jalanan lumayan macet sore itu. Tapi semua bisa dilewati dengan lancar (baca: nyombong dikit)😀.

Setelah Nyokap naik, kami pun langsung pulang. Sambil nyetir gue minum es nutri***I yang gue pesan sama beliau sebelumnya. Sruuuttt…Alhamdulillah…lumayan mengobati tenggorokan yang kering di cuaca yang sedang nggak bersahabat ini. Ditengah perjalanan gue liat burger franchise yang terkenal enak banget itu, kemudian mampirlah kami kesana beli empat buah Beef burger untuk di take away. Sssttt, sebetulnya gue me-revise orderan. “Mas, yang tiga Beef burger, yang satu diganti Cheese yah”. Hehehehe… nggak apa-apa donk kalo punya gue paling special :p. Orderan selesai dibuat, Nyokap bayar (Ya, gue sekarang “kembali menjadi anak” yang apa-apa dibayarin) dan kami segera melanjutkan perjalanan pulang. We are home dan istirahat sambil menunggu waktu beribadah Sholat Maghrib datang.

Lepas Maghrib, sepupu gue Juminten datang. Dia bilang “neng, temenin aku belanja yuk ke toko Ramai”. Whatt? Toko Ramai yang ada di jantung kota saya yang penuh sesak dengan kendaraan dan pejalan kaki itu?

Oh, umm…
*mikir*

Okay!

Mang uyud dulu pernah cerita kalau awal dia punya mobil, dia bawa mobil nya ke jalanan itu untuk tes drive. Bukan skill nya yang di test, tapi jantungnya. Hahaha. Soalnya disana memang ramai sesak sekali. Gue pun bilang Iya. Nggak nunggu lama, berangkatlah gue, Juminten dan Mbak Win asisten si Budhe. Brrmmm..brrmm… perjalanan lancar. Parkir pun mantaps (OK, pengakuan: memang waktu parkir roda-nya masih sedikit menceng, but I think not bad for a beginner). Yukkk…mareee.

Di dalam Toko Ramai kami belanja macam-macam, dari makanan sampai alat mandi dan sebagainya. Tiba-tiba otak gue bilang “Hei neng, kayaknya enak nih kalo beli es krim”. Sebelum pikiran gue kembali waras, gue segera memisahkan sendiri dan mulai jelalatan cari box es krim. Taraaa…dapatlah apa yang dicari, dan langsung bayar di tempat.🙂.

Waktu belanja habis, kami pun segera meluncur ke tempat tujuan selanjutnya. Sepupu gue mau beli krim muka di skin care place yang ada disini. Gue dan mbak Win nungguin dia di mobil. Sambil gue ngabisin satu bungkus beng-beng, one of my favourite cemilan. Hihihi.

Kelar urusan si Juminten, kami pun pulang. Alhamdulillah nggak ada kendala yang berarti. Selamatlah kami semua sampai rumah. Horeee… Gue segera cuci kaki yang kotor karena setiap nyetir HARUS nyeker. Huhhh…padahal gue udah coba pakai sandal setipis mungkin. Tapi jadinya malah kagok. Resolusi gue setelah ini adalah, bisa nyetir TANPA harus nyeker.
Hidup sandal!.

Waktu santai datang…kami mulai mencari makanan. Wow…di meja makan ada mangkuk yang ditutupi tudung saji. Si Juminten memulai agresinya. “Apa ini??”(sambil teriak). “Kolak… dikasih tetangga” sahut Budhe (sambil teriak juga). “Sluurrpp…enakkk…” kata Juminten. Saya masih asik bikin iced coffee yang saya kasih topping es krim (whaddehelll…mau jadi apa badan gue kalo dikasih minuman berlemak begini??). Kemudian Juminten pergi ke kamar untuk ganti baju. Iseng gue ambil sendok dan ikutan makan kolak.

Pisangnya enak.

Kuahnya juga enak.
Manis.

Gue lanjut lagi sama iced coffee saya. Juminten balik ke meja makan.
Dia asik makan pisang yang ada di dalam kuah kolak.

Makan.
Sibuk mengaduk,

Uppsss…dia diam.

Aduk lagi (sambil melotot),

OH TIDAAAAAKKKK!!! Dengan mata kepala sendiri, KAMI melihat ada BANGKAI CICAK yang sudah melar di dalam mangkuk!

Bengong.

Hwueekkkkk… kami muntah sama-sama!

Hwuueekkkk… kami muntah lagi.

Pucat.

Kami saling pandang.

…..
….

..
.

Lemas.

Kami teriak sama-sama. Satu rumah heboh.

Akhirnya mbak Win buang itu Kolak Cicak sialan keluar rumah. Hhhh… campur aduk perasaan saya dan Juminten. Perut enek, pikiran kacau, badan pegel dan kantong kempes. Jiaaahhh, lebay deh looo. Kempes mah kempes aja nggak usah bawa-bawa cicak.

Kami serumah mikir bareng-bareng:

Itu kolak dikasih tadi sore, dalam kondisi masih panas. Mbak Win taruh di meja makan, dan LANGSUNG ditutup tudung saji. In fact, tudung saji punya Budhe saya itu nggak ada celah or lubang yang memungkinkan cicak itu masuk… udah gitu meja makan Budhe itu adalah termasuk kawasan bebas cicak. Dilihat dari bangkai cicak, sepertinya dia dalam keadaan yang mati karena kepanasan (sok tau mode:on), karena kalau baru kecemplung pasti bangkainya nggak mungkin kelelep.

So, conclusion kami adalah : Cicak nya udah ada sejak si tetangga bikin, alias ikut direbus a.k.a dimasak dan apesnya waktu mereka kasih sama kita bangkainya kebawa. Which means, *&^%#@$%^&, kami ga bisa bayangin…satu rumah tetangga kami makan kolak rebusan CICAK!

Only one thing I can say about it : Terrible…, Oh no!!! but,,, Horrible…

Yaiksss,

PS : Juminten yang teriak-teriak kaya orang gila dan katanya nggak bakalan nafsu makan ternyata cuma bertahan sebentar. Buktinya sekarang dia sedang dengan lahapnya makan mie dog-dog yang lewat di depan rumah. Dasar manusiaaa…. Hihihi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s