NEWDAY

Hari ini saya bangun jam sepuluh pagi, setelah tidur jam tiga empatpuluh dini hari tanpa harus terbangun sejenak jam empat tigapuluh untuk membangunkan mang uyud.

Beberapa sahabat menilai kalau saya terlalu baik dan telaten untuk melakukan hal-hal kecil seperti itu. Di usia hubungan yang sudah tiga tahun lebih, masih bisa dan nggak ada rasa enggan untuk begitu. Tapi apakah menjadi hal yang salah untuk melakukan hal kecil yang menyenangkan orang yang kita sayang? Dan bahkan dari hal kecil itu timbul kepuasan dan rasa bahagia untuk saya sendiri.
Senang rasanya bisa dengar suara dia di pagi hari sebelum semua aktivitas dimulai. Walaupun saya baru sampai rumah jam sebelas malam, dan baru bisa memejamkan mata tiga jam kemudian, lalu terbangun kembali jam lima pagi dengan kepala berat karena kurang tidur untuk menelponnya.

Semuanya terbayarkan ketika mendengar suara dia yang serak karena baru sadar dari tidur, dan ucapan terima kasih tulus darinya… I think I just missed that moment.

Hari ini adalah hari pertama tanpa komunikasi dengannya. Hmmm… sejujurnya saya merasa biasa saja. Mungkin karena hari ini sama seperti hari-hari biasa dimana saya melewatkan hari tanpa kehadiran dia lewat telepon atau sms. Yang berbeda adalah statement untuk meminimalkan kontak selama dua minggu ini. Tangan saya pun meraih ponsel dan mulai membaca kembali :

“Maaf kalo saya akhir-akhir ini nggak bisa jadi pacar yang ideal buat neng. Tiap hari selalu aja ada hal yang membuat neng kesel dan akhirnya kita marahan gara-gara saya yang egois. Makasih juga karena neng selalu berusaha nyesuaiin saya (yang kenyataannya menyakiti neng).

Mungkin saya lagi jenuh sama hubungan kita. Saya minta waktu dua minggu buat introspeksi diri, menata lagi sikap saya yang berubah jadi dingin sama neng. Tapi tolong jangan berprasangka buruk sama saya, DEMI ALLAH saya cuma bermaksud berusaha menata hati and mengembalikan attitude saya yang menurut neng udah berubah drastis, and memperbaiki hubungan kita

Saya sadar saya egois ngambil keputusan sepihak gini. Karena menurut saya keputusan ekstrim ini harus diambil buat memperbaiki hubungan kita berdua yang udah nggak sehat. Saya harap neng bisa menerimanya🙂.“

Saya harap kita bisa meminimalkan kontak-kontakan selama dua minggu ini.

Mungkin neng juga nggak perlu mbangunin saya.

Saya cuma perlu disadari lagi how I need u a lot yang mungkin terlalu saya cuekin. Doain saya bisa kembali jadi yang neng inginkan ya. Cause really, its for both of us. Lup u so much manisku. Istirahat dulu ya biar besok bisa bangun”.

Tik.
Tok.
Tik.

Tok.

Sepersekian detik saya nggak bisa bernapas. Kemudian…

PLONG

Saya lega…saya merasa bebas dari beban yang dari kemarin ada di kepala.
Saya tau jawabannya.🙂

Kami memang jenuh.
Kami nggak bisa menyatukan dan menyampaikan keinginan masing-masing.

Satu hal dari saya: Saya nggak pernah mencari pacar ideal, karena sampai kapanpun saya nggak akan menemukannya.

Saya cuma mau hubungan yang dinamis, dimana saya dan kamu bisa menjalankannya tanpa harus ada yang merasa terbebani salah satu.
Kalau saya harus merasakan sakit untuk hal yang kamu suka, saya anggap itu pengorbanan. Tetapi ada kalanya saya juga nggak kuat untuk menahan semua rasa itu.

Saya tetap (berusaha) TEGAR.
Saya yakin kalau keputusan ini diambil memang untuk kebaikan kita berdua.
Saya buang jauh-jauh pikiran buruk yang mungkin akan dengan senang hati mampir dan merecoki otak saya.

Sampai saatnya nanti, yang saya juga belum tau akhirnya.
Saya akan tunggu.

Berita baik,

atau…

Buruk sekalipun.

Saya akan terima.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s