BERANI atau NEKAT?? It’s your choice…

BERANI atau NEKAT??
Heihooo hari ini tepatnya pukul dua tigapuluh, siang menjelang sore saya melakukan hal yang menurut saya…NEKAT. Dimulai dari obrolan via facebook (u know, everyone was enjoyed it and get bored then. Just like me) di kolom chat dengan seorang mantan customer di tempat kerja neng mumun dulu, dan Alhamdulillah kedekatan saya dan keluarga besarnya masih bertahan sampai sekarang, tentu saya harap seterusnya.
Saya panggil dia Mr. E, this is our talks :

………………………………………blaaa..blaa…blaaaaaaaaaa………………………………blaa…………………………………………………

Neng Mumun : Kangen nihh..sama 3A (His three lovely smart and funny kids with letter A started on their nicks).

Mr. E : 2A ada kok dirumah, A yang satu lagi masih sekolah.

Neng Mumun : Ohyaaaa, mau main kesana aja ah.

Mr. E : OK, aku lagi nggak dirumah, ntar aku bilangin Mrs. N (his lovely and pretty wife).

Neng Mumun : Siiiiipppp…meluncur ke TKP.

Saya pun segera mengganti celana pendek saya dengan jeans, dan tidak lupa sedikit touch up tentunya🙂. Setelah itu, saya buka pintu garasi, and whaaaattttt?? Kemana “ another neng mumun”??? Tidak lain dan tidak bukan adalah motor saya yang dinamai persis seperti pemiliknya. Hufffhhh… Ternyata kakak saya pinjam untuk pergi ke kampus. So, disinilah saya dengan satu-satunya kendaraan yang bisa dipakai : MOBIL.
Dug..dig..dag..dig..dug!

OK, finally i was decided to ride the car. Saya mulai dengan panaskan mesin-nya. Ahhh, saya lupa bilang kalo saya belum jago nyetir mobil dengan mesin manual. Terakhir saya bawa mobil itu empat hari yang lalu, itupun muter-muter di salah satu stadion di kota saya. Setelah itu saya cuma bawa sebentar di jalan raya sampai ke depan rumah. Dan itu sudah cukup membuat lutut saya lemasss…

But, show must go on. Saya kangen banget sama keluarga besar yang mau saya datangi. Dimulailah aksi gagah berani saya hari ini. Brrrmmmm…pelan-pelan saya bawa mobil itu keluar dari garasi. Kecepatan hanya 20km/jam dengan gigi yang berpindah dari satu ke dua saja.

Cobaan pertama : Keluar dari gang rumah saya, woooww…ada KIA Carnival yang diparkir hampir menghabiskan ruas gang. Hmm, dengan body Kijang yang tidak kalah besarnya, saya berusaha untuk melewatinya dengan selamat. OK, saya berhasil dan sampailah ke jalan raya.
Saya pun mulai menyebrang.

Mesin saya mati.
MOBIL SAYA BERHENTI DI TENGAH JALAN. dengan posisi MELINTANG.

s.t.u.c.k.

Panic attack was started.

OK neng…just calm down. Yupp, saya berusaha mengontrol pikiran saya saat itu. ”Don’t be panic, kamu tau teknisnya, kamu tau semuanya…sekarang kamu harus selesaikan semuanya. gerak cepaaattt, don’t be panic once again”.
Suara-suara klakson berteriak dengan angkuhnya. Huh…saya cuek saja, hahaha. Saya tetap berusaha untuk berbalik arah. Berhasil! Mobil meluncur dengan mulus. Dan…lepaslah saya dari cobaan yang pertama.

Saya tetap memacu mobil saya dengan kecepatan sedang. Tapi sekarang saya sudah mulai bermain ke gigi tiga. Enak…nggak berat lagi seperti tadi hahaha. “Oh, apa itu???” Goshh..saya lupa kalau harus lewat jalan menanjak untuk sampai ke ring road. Tidaaakkkk, it means that I have to did an injakan setengah kopling! Ooohhh, saya anggap ini adalah cobaan kedua yang datang lebih cepat.

OK, saya berhenti di tanjakan. Saya injak rem dan memulai manuver saya. Ngggeennggg, saya mau naik. Whuuzzz…ada motor dengan kecepatan lumayan lewat di depan saya. Deg..deg..neng, santai neng..sabaaar. Kaki stand by injak rem, akhirnya saya pun berhasil naik.

Fiuwwhhh…melengganglah saya di jalan besar. Pelan-pelan… lampu merah, dan saya pun berhenti. Tangan kiri saya ambil ancang-ancang untuk narik rem tangan, and WHATTT!!! Posisi dia masih naik dengan innocent-nya. NEEEENGGGGG…Paraaahhh…bisa-bisanya saya lupa turunin itu rem tangan waktu berangkat tadi. Oh My God, Ternyata Engkau memang benar-benar sayang sama saya. Makanya saya diingatkan ketika jarak belum begitu jauh. Saya nggak tau gimana jadinya kalo saya nggak balikin itu rem tangan ke posisi jalan. Karburator mesin bisa meledak. Untuk membayangkan saja saya panas dingin *sigh.

Petualangan berlanjut, saya terus memacu mobil dengan kecepatan standar ala neng mumun. Sampai akhirnya jalan menuju rumah teman saya keliatan. Saya jalan pelan-pelan..mata saya mulai screening and scanning mencari Jalan Jeruk. Yuhuu, itu dia! Upsss…tapi saya melewatinya. Humm, jadilah saya harus atret untuk bisa balik lagi kemudian masuk gang.

Inilah cobaan ketiga. Saya mundur. Badan mobil mulai memenuhi jalan lagi. Orang-orang yang lewat mulai nggak sabar. Zzzrrttt…jendela saya tutup.
Mundur.

Maju.
Mundur jauhhh…dan BRAKKK!

Suara apa itu???
Betuuulll, suara body belakang mobil saya. Akhirnya sah juga saya jadi pengendara mobil. Kalau belum nabrak, belum jago.
Sekarang sudah nabrak, jadi tinggal nunggu jago. Hahahaa.

Saya pun sampai di depan rumah tujuan. Saya parkir mobil dan segera masuk ke dalam rumah. Yayayaaa…saya senang banget bisa ketemu dan main sama 3A dan ngobrol-ngobrol dengan Mrs.N, dan tanpa malu-malu saya langsung “nodong” air putih sama si mbak asisten rumah tangga mereka, hwiih..masih shock dengan segala kejadian tadi :p

Dinn..din! Saya dengar suara klakson mobil dari luar, ohh..ternyata ada Yaris biru yang mau lewat depan rumah. Karena mobil saya kurang ke pinggir parkirnya, saya pun harus kembali untuk membenahi letak parkir.
Saya majukan mobil ke depan, Yaris ikut maju. Mepet. Uppsss…saya takut. Tapi berhubung driver si Yaris sepertinya lebih handal saya percaya saja kalo semua akan baik-baik saja. Dan..akhirnya selesai sudah drama himpit-himpitan kami. Aman. Saya kembali masuk rumah dan ketawa-ketiwi lagi.

Empat puluh lima menit berlalu dan ada Sedan yang akan lewat lagi. Alamakk… kali ini saya menyerah. Mrs.N juga dengan berbaik hati meminta kunci kontak dan memepetkan mobil supaya Sedan itu bisa lewat.

Hhhh…lesson of the day : BELAJAR PARKIR-lah yang baik dan benar, supaya tidak merepotkan pengguna jalan (sempit) yang lain. Hehehe…

Sudah jam lima sore lewat sedikit…waktunya saya untuk pulang sebelum hari gelap. Saya pun pamit pulang tanpa menunggu Mr.E datang. Petualangan saya pun kembali berlanjut. Saya bawa mobil pelan-pelan seperti biasa. Tetapi kali ini saya memutar mencari rute yang lebih jauh. Saya bawa mobil saya menyisiri ring road. Terus melaju ke jalanan padat, saya lewati mall terbesar di kota saya. Tidak lupa juga kaki saya menapak rem, siapa tau ada motor yang tiba-tiba nyelonong. Teruuuussss…melaju sampai saya nggak sadar kalau saya sudah menempuh jarak yang lumayan jauh hari ini.

Tiba-tiba “Together Again-nya Dave Koz menggema dari dalam tas, Ibunda saya telepon. Humm, saya tetap fokus melihat depan, spion samping, dan spion di atas dahi saya. Maaf Ibunda tersayang…anakmu belum cukup lihai untuk bisa nyetir sambil angkat telepon🙂. Lima menit kemudian, sampailah saya di depan gerbang rumah.

Hmmm, pengalaman luar biasa hari ini saya dapatkan. Ternyata berani dan nekat itu sangat tipis batasnya. Saya berani, makanya saya nekat. Tapi kalo saya tidak nekat, maka sampai kapanpun saya nggak akan berani keluar dari zona kenyamanan saya.

lima jam kemudian,

By the way, saya belum bisa masukin mobil kedalam garasi. Jadi si mobil yang sudah saya korbankan body belakangnya itu masih ada di luar pintu gerbang rumah sampai sekarang.

.hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s