HAMPA

Hallo.
Ini launching blog pertama saya, tanpa pengikut…dan sepertinya akan terus begitu.
Waktu sudah larut malam menjelang pagi, tapi saya nggak bisa memejamkan mata dan entah kenapa tangan ini cuma bisa mengetikkan kata-kata yang sudah penuh di kepala.
Hari yang indah untuk dilewati seharusnya, tapi berat untuk dituntaskan.
Wahh, saya benar-benar nggak sangka blog pertama saya justru dimulai dengan kesedihan dan kehampaan begini.

Saya adalah salah satu dari sekian banyak manusia di dunia ini yang terjebak dalam urusan cinta, puihh…kedengarannya memang sangat klise dan memang begitu kenyataannya.

Tahun ini saya “menuntaskan” tahun ketiga hubungan saya dengan sang pacar. Sebut saja namanya mang uyud, kenapa? Karena saya neng mumun, hahahaaa.
Banyak hal sudah kita lewati. Dari yang seneng, sedih, seneng banget, biasa aja, jengkel, bete, bokek, semuanyaaa sudah pernah kita alami. Saya sayang banget sama si mamang satu itu, dan karena saya termasuk makhluk yang percaya dirinya diatas rata-rata, tentu saya juga yakin sekali kalo dia juga sayang sama sayaπŸ˜€.

Hari terus berlalu, nggak ada hal yang nggak berubah. Saya sangat menyadari itu.
Tapi satu hal yang saya yakin adalah, perasaan nggak akan pernah berubah walaupun terjebak dalam hal dan waktu yang terus merambat.

Begitupun yang terjadi antara saya dan mang uyud.
Saya cinta dia.
Dia sayang saya.
Kita punya komitmen diantara kita.
Waktu merambat…keadaan nggak lagi sama.
Dia harus pergi ninggalin saya buat pekerjaan yang nantinya buat kita juga.

Satu bulan.
Tiga. Empat.
Enam bulan…
Sampailah sekarang di bulan ke Sepuluh.

Lelah.

Masalah komunikasi muncul nggak terbendung.

 

Saya memohon.
Kamu marah.
Saya teriak.
Kamu bosan.
Kamu teriak.
Saya menangis…

 

 

 

 

Dear mamang, Saya hanya ingin kamu meluangkan waktu untuk melelahkan jari-jarimu sejenak…biar saya tau jauh disana ada yang care sama saya.
Begitupun sebaliknya.

Saya nggak butuh perhatian duabelas jam penuh, bahkan setengah dari itu pun nggak. Saya cuma ingin waktu sebentar itu. Dari kamu.

Saya sedih.
Hari ini. kemarin. kemarinnya lagi.

Entah saya pun nggak tau kenapa saya selalu sedih belakangan ini.
Semakin saya tahan, semakin saya ingin mengeluarkannya.

Saya tau mamang saya satu itu juga lelah…capek sama semua yang terjadi belakangan ini. Dia bilang masalah long distance relationship. Tapi inti buat mengatasi itu nggak harus dengan tinggal satu kota lagi kalau saya pikir. Tapi dengan perhatian-perhatian kecil yang kita kasih masing-masing, satu sama lain.

Malam tadi kami bermasalah lagi. Saya nggak bisa berpura-pura untuk bersikap biasa. Karena saya marah! Saya merasa diabaikan. Saya terbuang!
Nggak adakah waktu sebentaaaarrr saja disela-sela pekerjaan yang ada?.
Dan seperti mengalami deja-vu, kembali lagi masalah LDR jadi topik yang memonopoli pembicaraan.

Sayang..
Saya nggak pernah ada masalah dengan itu.
Saya cuma ingin waktu sebentar dari kamu.
Waktu “privatly” yang kamu kirimkan untuk saya.
Saya nggak butuh moment penting untuk bisa sekedar kasih pesan teks sama kamu.
Buat saya sekedar pesan “udah makan?” adalah salah satu momen penting yang menghiasi siang hari saya yang panas.
Karena dengan hanya baca itu, saya merasa diingat, disayang, dan dicintai.
Seperti saya selalu menyayangi dan mencintai kamu.

Saya tau kamu jenuh.
Sayapun jenuh sama situasi kayak gini.
Saya capek. Kamu capek.

Kamu minta break.

Tapi saya nggak menangis sama sekali.
Sama sekali.
Sesuatu yang sangat langka untuk seorang neng mumun.
Saya bingung, bertanya-tanya.
Saya kenapa?

Apakah ini titik kulminasi yang saya alami?
Saya sedih. Teramat sedih.
Sehingga untuk menitikkan air mata saja nggak bisa.
Saya marah…marah sangat.
Tapi saya nggak bisa berteriak!

Terlebih setelah mendengar kalimat yang sepertinya nggak mungkin keluar dari bibirnya. Saya benci kamu!

Sakit.

Aaahhh…mang uyud ku, kemana kamu? This is not you.

Malam berlanjut…

Seorang sahabat menelepon saya. Saya angkat.
Ditengah-tengah pembicaraan terdengar backsound jazzy sayup-sayup.
Sepertinya sih Kenny G.

Kemudian tiba-tiba otak saya kasih perintah sama mulut, dan spontan saya bilang sama dia:
“ya ampuuunnn, mang uyud dulu suka dengerin musik-musik begini buat teman ngerjain skripsi! Terus mama-nya bilang : mang uyuuudddd, lagi ngerjain skripsi apa latihan dansaaaa”.

Saya tertawa terbahak-bahak.

Air mata saya menetes.

Sedikit.

Saya terisak.

Perih.

Hati memang tidak akan pernah dan bisa bohong.

Rasa sayang saya terlampau besar dibandingkan dengan rasa sakit dan benci yang saya rasakan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s